alexametrics
Selasa, 16 Agustus 2022
Selasa, 16 Agustus 2022

Advokat NTB Bersatu Minta Jaksa Hentikan Kasus Made Santi

MATARAM-Pihak kejaksaan diminta menghentikan kasus dugaan tindak pidana Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang menjerat Ida Made Santi Adnya sebagai tersangka.  ”Ini sudah masuk kriminalisasi,” kata Koordinator Advokat NTB Bersatu Yan Mangandar saat mendatangi kantor Kejati NTB, Selasa (2/8).

Menurut Yan, postingan Made Santi melalui akun Facebook-nya terkait penjualan Hotel Bidari, bukan suatu tindak pidana. Melainkan semata-mata untuk membela kliennya yang menang perkara atas gugatan perdata antara GG selaku tergugat dengan istrinya I Nengah Suciarni.

Penyidik menjerat Made Santi dengan pasal 28 ayat (1) juncto pasal 45 a ayat (1) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE. Postingannya dianggap merugikan konsumen. ”Aparat penegak hukum perlu melihat musababnya. Jangan sampai berkaca dari kasus ini nantinya banyak bermunculan kriminalisasi terhadap profesi kami sebagai advokat,” kata Yan.

Dikatakan, kedatangan mereka ke Kejati NTB meminta penuntut umum menghentikan kasus tersebut berdasarkan pasal 140 ayat (2) Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).  ”Penuntut umum berhak menghentikan perkara apabila kurang cukup bukti,” kata dia.

Baca Juga :  Lagi, Jaringan Narkoba Abian Tubuh Terungkap

Mereka tidak meminta perkara tersebut masuk dalam ranah restorative justice (RJ). Karena kasus tersebut tidak masuk dalam kategori itu. ”Kalau RJ sudah ada perdamaian antara pihak pelapor dan terlapor. Kita minta dihentikan,” tegasnya.

 

Tunggu Petunjuk Kejagung

 

Kasi Tindak Pidana Umum dan Lainnya (TPUL) Bidang Pidum Kejati NTB Iwan Hendarso mengatakan, pihaknya akan meneruskan permohonan itu kepada Kepala Kejati NTB Sungarpin. “Sesuai ketentuan, apa yang menjadi keinginan rekan-rekan pengacara akan kami teruskan ke pimpinan (Kajati NTB),” kata Iwan.

Apakah akan dihentikan atau berlanjut ke proses persidangan di pengadilan, Iwan mengatakan  itu menjadi kewenangan Jampidum. “Artinya, kami meminta waktu untuk menunggu ekspose di Kejagung. Bagaimana keputusannya, itu ada pada keputusan di Kejagung,” ujarnya.

Baca Juga :  Diperiksa Bersamaan, Para Tersangka Kasus Benih Jagung Saling Tuduh

Sebelumnya, penyidik Ditreskrimsus Polda NTB telah melimpahkan tersangka dan barang bukti ke jaksa penuntut umum, Rabu (27/7) lalu. Itu setelah berkas penyidikan dinyatakan lengkap atau P-21. ”Menurut kami unsur dalam perkara tersebut sudah terpenuhi ujarnya. Sehingga kami nyatakan lengkap,” kata Iwan.

Menurutnya, persoalan perdata itu tidak bisa dikaitkan dengan pidananya. Harus melihat asas kausalitas. ”Harus melihat pada sebab akibat,” ujarnya.

Berdasarkan hasil penyidikan, terungkap bahwa proses pelelangan hotel tersebut berlangsung di tahun 2020. Itu diperkuat dokumen penilaian aset yang berlangsung tahun 2020. “Jadi unggahan tersangka ini tidak sesuai dengan fakta sehingga masuk dalam penyebaran berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik,” jelasnya. (arl/r1)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/