alexametrics
Kamis, 11 Agustus 2022
Kamis, 11 Agustus 2022

Bobol Data ATM di Mataram, Warga Turki Dituntut Tiga Tahun Bui

MATARAM-Tedakwa pembobolan data nasabah via ATM (skimming) asal Turki Yunus Emre Senbayik menjalani sidang dengan agenda tuntutan, kemarin (3/6). Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntutnya selama tiga tahun penjara.

”Meminta kepada majelis hakim untuk menjatuhkan pidana terhadap terdakwa selama tiga tahun,” kata JPU Yulia Octavia Ading melalui konferensi video, kemarin (3/6).

Emre di dakwa pasal 46 ayat (1) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2018 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Menurutnya, unsur pasal yang didakwakan telah terbukti di persidangan.

”Unsur pasal setiap orang dengan sengaja tanpa hak atau melawan hukum mengakses komputer dan atau sistem elektronik milik orang lain dengan cara apapun sudah terpenuhi,” jelasnya.

Yulia menyebutkan beberapa hal yang memberatkan terdakwa yakni, perbuatan terdakwa berpotensi menimbulkan kerugian bagi nasabah maupun pihak BNI dan Perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat. ”Yang meringankan, terdakwa memiliki tanggungan keluarga, dan terdakwa sudah mengakui perbuatannya,” terangnya.

Baca Juga :  Sistem Rumit Bandar Sabu Abian Tubuh

Sementara itu, Deni Nur Indra selaku penasihat hukum Emre mengatakan, tuntutan jaksa terlalu berat. Dari fakta persidangan, Emre telah mengakui bersalah. “Dia hanya sebagai orang suruhan saja,” kata dia.

Dia hanya diminta memasang kamera kecil di ATM oleh temannya. Dan dalam aksinya itu tidak ada menimbulkan kerugian pihak bank atau nasabah. ”Tidak ada bukti uang yang diambilnya,” ujarnya.

Yang ada hanya barang bukti berupa kamera kecil, router, kabel, laptop, dan kartu alfamart. ”Belum ada uang yang diambilnya,”  ungkapnya.

Pihaknya hanya diminta bekerja merakit kamera kecil oleh rekannya Benke Can. Lalu diminta dipasang di gerai ATM. ”Itu saja tugasnya,” ujarnya.

Dari fakta yang terungkap di persidangan, Emre hanya berkenalan dengan Benke Can melalui media sosial. Dia ditawarkan untuk bekerja di Indonesia. Khususnya, di Lombok.

Baca Juga :  Tiga Siswa Kompak Curi Motor

Dia dijanjikan upah bekerja sebanyak 5.000 dolar atau setara Rp 75 juta sekali kerja. Dengan tawaran itu, Emre tergiur sehingga terbang ke Indonesia.

Tiket kepergiannya ditanggung sendiri. Sesampainya di Jakarta dia bertemu dengan Benke Can dan terbang ke Lombok.

Dari pengakuannya, Emre memiliki bos orang dari Rusia.  Dia tak mengenal namanya hanya bercakap melalui media sosial.

Selanjutnya, Emre diminta merakit kamera CCTV kecil untuk dipasang di atas tombol gerai ATM. Tujuannya untuk merekam PIN nasabah yang melakukan transaksi keuangan.

Emre juga diminta untuk memasang router sebagai alat perekam. Hasil rekaman tersebut disimpan di dalam laptop dan dikirim ke bosnya di Rusia melalui email.

Namun, upaya yang dilakukan Emre terlebih dahulu diketahui kepolsian. Sehingga, dia tertangkap tangan akan melakukan tindakan skimming di salah gerai ATM di depan Hotel Ratih, Cakranegara. (arl/r2)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/