alexametrics
Selasa, 16 Agustus 2022
Selasa, 16 Agustus 2022

Kasus Kredit Fiktif, Jaksa dan Pengacara Tersangka Siap Adu Pembuktian

MATARAM-Kejari Lombok Tengah (Loteng) siap melakukan proses pembuktian di persidangan terkait kasus kredit fiktif pada bank daerah cabang Batukliang. Itu disampaikan Kasi Pidsus Kejari Loteng Brata Hary Putra usai melimpahkan berkas dakwaan untuk dua tersangka Agus Fanahesa dan H Johari ke Pengadilan Negeri Tipikor Mataram, Rabu (3/8). ”Ya, tadi kita serahkan berkasnya untuk proses penuntutan,” kata Brata.

Dikatakan, pada kasus tersebut nanti bakal ada pengembangannya. Itu terkait dugaan keterlibatan oknum polisi berinisial IMS yang bertindak sebagai pemohon kredit. ”Sekarang tugas di Polres Bima Kota. Sebelumnya sebagai bendahara di Sabhara Polda NTB,” kata Brata.

Sejauh ini, IMS belum diperiksa penyidik. Tiga kali panggilan penyidik Kejari Loteng tak pernah dipenuhi. ”Kami masih koordinasi dengan polres untuk proses pemeriksaannya,” kata dia.

Baca Juga :  Kerugian Negara pada Pengelolaan Parkir RSUD Kota Mataram Rp 921 Juta

Pada kasus ini, IMS bertindak sebagai permohonan kredit. Dia mengajukan 193 nama anggota Polri yang bertugas di Polda NTB. Padahal anggota polisi itu tidak pernah mengajukan kredit. “Nama 193 anggota itu dicatut untuk mendapatkan kredit,” terangnya.

Per anggota mengajukan kredit dengan jumlah bervariasi. Mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Namun di tengah perjalanan cara IMS terbongkar, karena kredit dengan mencatut nama anggota polisi tersebut macet. ”Dari kasus itu memunculkan kerugian negara Rp 2,3 miliar,” kata dia.

Brata memastikan IMS akan diproses. Namun saat ini pihaknya masih fokus menyelesaikan proses penuntutan dua tersangka.

 

Penasihat Hukum

 

Terpisah, Suhartono, penasihat hukum H Johari mengatakan, pihaknya telah menerima laporan mengenai pelimpahan kliennya ke pengadilan. Dia pun sudah siap menghadapi proses persidangan.

Baca Juga :  Kejari Loteng Sita Dokumen, Uang, dan Laptop dari RSUD Praya

”Kalau jaksa sudah siap, kami juga lebih siap. Kalau ingin bongkar kasus, ayo kita bongkar bareng-bareng di persidangan,” kata Hartono.

Harusnya, kata dia, Kejari Loteng tidak tebang pilih menetapkan tersangka. Karena yang menjadi awal kasus kredit fiktif tersebut adalah oknum polisi berinisial IMS. ”Tetapi belum ditetapkan sebagai tersangka,” kata dia.

Lalu bagaimana proses pembuktian di pengadilan kalau IMS tidak pernah diperiksa saat proses penyidikan? “Pembebanan kerugian negara akan ditanggung oleh siapa. Masa yang menanggung itu adalah dua orang dari pihak bank. Sementara yang menikmati hasil korupsi adalah oknum polisi itu. Ini  kan tidak fair,” protesnya. (arl/r1)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/