alexametrics
Rabu, 2 Desember 2020
Rabu, 2 Desember 2020

Korban Investasi Dapoer Emak Caca Makin Banyak yang Melapor

MATARAM-Para korban penipuan investasi kuliner Dapoer Emak Caca semakin banyak. Mereka melaporkan pemiliknya Laras Cintya ke Ditreskrimum Polda NTB, kemarin (2/11). ”Sekarang ada 14 orang yang melapor,” kata penasihat hukum para pelapor L Anton Hariawan usai melapor.

Para pelapor tersebut telah berinvestasi di Dapoer Emak Caca sejak tahun 2019. Uang yang diinvestasikan jumlahnya bervariasi, mulai Rp 100 jutaan hingga Rp 250 jutaan. ”Dari 14 orang ini kerugian mereka mencapai Rp 1 miliaran,” beber Anton.

Sampai saat ini, modal awal para korban belum dikembalikan sepenuhnya. Mereka sudah berupaya menagih Laras. Tetapi, setiap menagih, mereka ini hanya diberikan uang Rp 100 ribu. Itu sangat tidak sebanding dengan uang yang sudah disetor. ”Dicicil hanya Rp 100 ribu, sedangkan mereka berikan Rp 100 juta,” kata Anton.

Menurutnya, Laras tidak memiliki itikad baik mengembalikan uang korban. ”Makanya para korban ini melaporkan mengenai penipuan, pasal 378 dan pasal 372,” ujarnya.

Sebelumnya, Laras Cintya telah memberikan keterangan ke media, awalnya bisnis yang dijalankannya lancar. Tidak ada persoalan dan komplain dari peserta yang ikut berinvestasi.

Bisnis di bidang kuliner itu macet lantaran terdampak pandemi Covid-19. Hal itu yang menyebabkan Laras tidak bisa mengembalikan ung milik korban.

Terkait keterangan itu Anton membantahnya. Dia mengatakan, masa pandemi Covid-19 mulai sejak Maret 2020 lalu. Sementara bisnis yang dijalankan macet sejak tahun 2019. Buktinya, para korban ini telah berinvestasi sejak Januari 2019. Tetapi, hingga akhir tahun 2019 modal mereka tidak juga kembali. “Keterangan Laras itu hanya alibinya saja. Bohong semua,” ujarnya.

Bahkan di masa pandemi, Laras malah membeli tanah di wilayah Kuta Mandalika, Lombok Tengah dan Senggigi, Lombok Barat. Diduga uang untuk membeli tanah itu berasal dari investasi para korban. ”Makanya kita laporkan juga mengenai kasus TPPU,” kata Anton.

M Riski Hidayat, salah satu korban menuturkan, dirinya ikut berinvestasi di Dapoer Emak Caca sejak Mei 2019. ”Saat itu kondisinya masih lancar, ” kata Riski.

Kemudian dia memasukkan investasi November 2019 dengan nilai investasi mencapai Rp 100 juta. ”Saat itu saya investasi dengan sistem tembak,” kata dia.

Maksudnya, sistem tersebut bisa mendapatkan keuntungan lebih besar. Jika memasukkan Rp 50 juta dalam jangka waktu dua bulan mendapatkan Rp 75 juta.”Kalau semakin besar modalnya semakin besar pula uangnya kembali,” jelasnya.

Riski sudah berusaha menagih. Namun, uang modalnya belum juga kembali. Pihak Dapoer Emak Caca mengembalikan dengan cara dicicil. “Setiap saya ke sana menagih, saya hanya diberikan uang Rp 100 ribu,” ungkapnya.

Menurutnya, jika dihitung, modal yang masih mengendap di Dapoer Emak Caca berjumlah  Rp 64 juta. “Itu belum termasuk keuntungan sebagaimana yang dijanjikan,” bebernya.

Korban lainnya, Rina Jaya menuturkan dirinya ikut investasi berawal dari makan di Dapoer Emak Caca. Kemudian melihat ada penawaran investasi di media sosial. ”Saya tertarik ikut,” kata Rina.

Dia menyetor Rp 100 juta pada 2019. Yang baru dikembalikan Rp 12 juta. ”Harapan kita modal kembali,” harapnya.

Terpisah, Dirreskrimum Polda NTB Kombes Pol Hari Brata mengatakan laporan tersebut masuk pada ranah ITE. ”Karena para korban ini tertipu melalui media sosial. Dari sana dulu kita lihat kasusnya,” kata Hari.

Saat ini kasus tindak pidana penipuannya ditangani Polresta Mataram. Laras sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. Dia dijerat pasal 378 KUHP.

Bagaimana terkait pasal 378 KUHP tentang penipuan? Menurut Hari, tidak disalahkan para korban melaporkan terkait dengan hal itu. ”Tetapi, kita harus melihat dari mana investasi itu berjalan,” bebernya.

Kalau melalui media sosial, harus dibuktikan dulu delik materil dari kasus ITE-nya. ”Semua harus dibuktikan dulu. Kalau kita yang usut takut nanti melanggar aturan,” kata dia.

Nanti bakal dikoordinasikan dengan Polresta Mataram, seperti apa persoalan kasusnya. ”Saya hanya ingatkan ada kasus ITE didalam delik penipuanny itu,” ujarnya. (arl/r1)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Pegadaian Catat Kinerja Positif Meski Pandemi

”Ini dari jumlah total pembiayaan kedua program kami, yakni gadai dan non gadai,” ujar M Arif Fanany, kepala Departemen Mikro PT Pegadaian Persero Area Ampenan, Selasa (1/12/2020).

STIE AMM Disegel, Pihak Terkait Diingatkan Jangan Korbankan Mahasiswa

”Secara psikologis kan trauma itu (mahasiswa, Red),” kata Pengamat Pendidikan Prof H Mahyuni, saat dikonfirmasi Lombok Post, Selasa (1/12/2020).

Dikbud NTB Semprot Kepala Sekolah, Tak Libatkan KTU Susun RKAS

”Kelihatan ini pada saat kita evakin (evaluasi kinerja, Red),” jelasnya, saat pembukaan rapat koordinasi dan evaluasi Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik SMA tahap III untuk Pulau Sumbawa, di Senggigi, Senin malam (30/11/2020).

HARUM Jadikan RTH sebagai Pengendali Banjir

Sebagai sebuah wilayah yang berada di hilir sungai Mataram kerap mendapatkan air kiriman dari hulu ketika musim penghujan tiba. Ditambah dengan hujan di Mataram, kiriman air dalam jumlah besar mengakibatkan terjadinya genangan dan banjir.

Menolak Miskin, Pusparini, Tukang Sapu Jalan yang Memilih Keluar dari PKH

Banyak orang kaya bermental miskin. Namun ada juga masyarakat kurang mampu tapi bermental kaya. Pusaparini, warga Lingkungan Karang Anyar Kelurahan Pagesangan Timur salah satunya.

Pemkot Mataram Berencana Gaji 1800 Ketua RT

Rancangan APBD tahun anggaran 2021 telah ditetapkan oleh DPRD Kota Mataram dan eksekutif, kemarin (30/11). Dalam APBD tahun 2021 ini, ada beberapa kebijakan yang dibuat oleh Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh di akhir masa jabatannya.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Bantuan Subsidi Upah, Guru Honorer dapat Rp1,8 Juta

Pemerintah memperluas sasaran penerima Bantuan Subsidi Upah (BSU). Kali ini, giliran tenaga pendidik dan guru non-PNS yang akan mendapat bantuan hibah sebesar Rp 1,8 juta. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyebutkan, bantuan ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan ekonomi para dosen, guru, dan tenaga kependidikan non-PNS yang selama ini ikut terdampak pandemi COVID-19.

Kisah Sukses Juragan Lobster NTB : Sekali Panen Rp 1 Miliar

Budi daya lobster sungguh menjanjikan. Inilah hikayat mereka-mereka yang hidupnya berbalik 180 derajat karena lobster. Sekali panen, ratusan juta hingga Rp 1 miliar bisa...

Selamat! Ini Pemenang Simpedes BRI Periode 1 Tahun 2020

”Mudah-mudahan dengan acara ini, nasabah BRI semakin loyal, semakin berkembang, dan semakin semarak bertransaksi,” tuturnya.
Enable Notifications    OK No thanks