alexametrics
Minggu, 20 Juni 2021
Minggu, 20 Juni 2021

Jalankan Bisnis Sabu, Ibu dan Anak Sengaja Ngekos di Mataram

MATARAM-Seorang ibu berinisial GNAP alias Mbok, 41 tahun, bersama anaknya PEJF alias Siska, 25 tahun, ditangkap polisi. Mereka diduga bandar sabu.

Keduanya ditangkap tim Satresnarkoba Polresta Mataram bersama tiga peluncurnya di salah satu kos-kosan di Jalan Kokok Segara Raya Kekalik, Mataram, Kamis (3/6/2021) sekitar pukul 23.20 Wita. Tiga peluncurnya masing-masing berinisial KR, 28 tahun; HM, 29 tahun; dan ARA, 24 tahun.

Mbok sengaja menyewa tiga kamar kos untuk menjalankan bisnis haram tersebut. Kamar nomor 11 ditempati Mbok dan anaknya, kamar nomor 12 digunakan sebagai tempat memecah barang serta lokasi menggunakan sabu, dan kamar 13 ditempati anak buahnya.

”Siapa yang bayar kosnya di sini?” tanya polisi.

”Dibayarkan Mbok langsung,” jawab HM dan KR dengan kompak.

HM mengaku sudah dua bulan terlibat dalam peredaran gelap narkoba yang dikendalikan Mbok. Tugasnya mengambil sabu dari Lombok Tengah (Loteng) dan Dompu untuk diserahkan ke Mbok dan anaknya. ”Saya hanya disuruh ambil bahan (sabu) saja. Saya serahkan ke Mbok. Pernah juga disuruh ngambil ke Batam,” aku HM.

Sedangkan KR dan ARA bertindak sebagai pengedar setelah sabu dipecah menjadi poketan kecil. Barang haram tersebut disebar ke wilayah Mataram dan Lombok Barat (Lobar). ”Saya sudah beberapa kali disuruh menjual,” aku KR.

ARA pun begitu. Bahkan dia sering memasok sabu ke Karang Bagu. “Terakhir saya bawa 10 gram (ke Karang Bagu, Red),” kata ARA dengan kooperatif.

KR dan ARA mengaku setiap mengedarkan sabu, dia diberikan uang Rp 50 ribu per poketnya. Semakin banyak mereka mengedarkan, semakin banyak pula uang yang didapat. ”Uang itu cukup untuk makan sehari-hari,” ujarnya.

Saat diinterogasi polisi, Mbok mengaku menjalankan bisnis haram itu sejak dua bulan lalu. Awalnya dia membawa barang ukuran besar. “Tetapi, saya sudah tidak lagi, pak. Sekarang ada sedikit,” kata wanita bertato itu.

Kasatreskrim Polresta Mataram AKP I Made Yogi Purusa Utama menuturkan, terungkapnya peran Mbok dan anaknya berawal dari penangkapan seorang ibu rumah tangga di Karang Bagu, berinisial RP. Dari keterangan RP, anak buah Mbok berinisial ARA kerap memasok sabu ke Karang Bagu. ”Dari hasil penangkapan itu kita kembangkan dan berhasil menangkap bandar sabu (Mbok) beserta anak buahnya,” kata Yogi

Polisi tidak menemukan barang bukti sabu di kamar kos yang disewa Mbok di Kekalik. Dari penggeledahan yang dilakukan, polisi hanya menemukan plastik klip bening kosong yang diduga digunakan untuk membungkus sabu. ”Kita temukan juga buku catatan kecil siapa saja orang yang mengambil barang,” ujarnya.

Tetapi, setelah mengecek handphone Mbok, polisi menemukan percakapan pemesanan sabu seberat 20 gram. Dari percakapan itu, Mbok tidak bisa mengelak dan mengakui sabu yang dipesannya masih memiliki sisa.

Mbok mengaku sabu disimpan di rumahnya di BTN Reyan Pondok Indah, Gerung Selatan, Lobar. Polisi mendatangi rumah itu. Dari penggeledahan, ditemukan barang bukti sabu seberat 5 gram. ”Barang bukti itu hanya sisa. Tetapi itu cukup untuk menjerat Mbok dan jaringannya ke sel,” kata Yogi.

Mbok, Siska, dan ketiga peluncurnya dijerat pasal 114 dan atau pasal 112 dan pasal 132 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Mereka terancam hukuman 20 tahun penjara. (arl/r1)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks