alexametrics
Selasa, 16 Agustus 2022
Selasa, 16 Agustus 2022

Dimediasi Polisi, Belum Mau Berdamai, Ibu di Mataram Kukuh Pidanakan Anak

MATARAM-Masni dan anaknya Safrudin Rahman belum mau berdamai. Meski sudah dimediasi kepolisian di Polsek Mataram, sang ibu belum memaafkan anaknya. Dia tetap ngotot memidanakan anak terkait kasus perusakan gembok pintu rumah yang ditempati bersama di wilayah Rembiga, Kota Mataram.

”Ini puncak kemarahan saya,” kata Masni usai dimediasi di Mapolsek Mataram, Kamis (4/8).

Dia menuturkan, sebelum kejadian itu, sang anak sempat mau memukul dirinya. Pakaian yang ada di dalam lemarinya dibuang ke luar rumah. ”Tapi saya sabar. Masih bisa saya tahan diri,” tuturnya.

Masni mengatakan, si anak menganggap rumah itu miliknya sendiri. Sehingga dia berlaku kasar terhadap dirinya. ”Padahal rumah itu bukanlah harta warisan. Itu milik saya,” kata dia.

Rahman menganggap rumah tersebut warisan setelah ayahnya bernama Mahsun meninggal dunia tahun 2011 silam. Namun, Rahman lupa kalau rumah tersebut pernah digadai di bank. ”Digadai Rp 25 juta,” ungkap Masni.

Baca Juga :  Kasus Covid-19 Kembali Meningkat, Jam Malam Kembali Diberlakukan

Kredit tersebut tidak mampu dilunasi ayahnya. Sehingga dilelang pihak bank Rp 60 juta. Pelelangan itu dibayar oleh seseorang bernama Ayu senilai harga lelang.

Namun uang Ayu diganti Dewi, anak pertama dari Masni. Sehingga sertifikat tanah tersebut dibalik nama menjadi milik Masni. ”Kami sudah memiliki bukti pelelangannya,” katanya.

Seharusnya, kata dia, Rahman bersyukur bisa diberikan tempat tinggal. Namun sikapnya malah menyakiti hati ibu kandungnya sendiri. ”Sebenarnya saya mau memaafkan. Tetapi gengsi untuk meminta maaf. Makanya kami minta kepolisian untuk meneruskan kasus ini,” ujarnya.

Sang anak, Rahman mengaku merusak gembok pintu karena menghalangi dirinya masuk ke dalam rumah. ”Kalau digembok menghalangi saya keluar masuk,” katanya.

Dia meminta bantuan dua tetangganya untuk merusak gembok rumah itu mengugnakan linggis. “Bagaimana saya bisa beristirahat dengan anak istri saya kalau digembok,” keluhnya.

Baca Juga :  Terduga Teroris RYA Ditahan di Polda NTB

Dia menekankan, rumah tersebut adalah warisan. Sehingga, Rahman merasa memiliki hak terhadap rumah tersebut. ”Kalau mau adil harus dijual nanti kita bagi bersama. Saya empat bersaudara,” katanya.

Kapolsek Mataram Kompol Elyas Ericson mengatakan, ibu dan anaknya sudah beberapa kali dimediasi. Namun, masih menemui jalan buntu. ”Di polsek sudah tiga kali dimediasi. Di lingkungan juga sudah dilakukan mediasi dua kali,” terang Elyas.

Menurutnya, kepolisian tidak bisa menolak laporan. Dari hasil penyelidikan seharusnya kasus tersebut bisa diarahkan ke restorative justice (RJ). ”Kita tetap upayakan RJ,” ungkapnya.

Elyas menyayangkan kasus tersebut berlanjut ke tindak pidana. Karena kasus tersebut merupakan hal sepele. ”Kecuali kasus pembunuhan atau penganiayaan baru itu berat. Kalau hanya perusakan sebenarnya bisa diselesaikan secara musyawarah,” tekannya. (arl/r1)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/