alexametrics
Senin, 27 Juni 2022
Senin, 27 Juni 2022

Tekong PMI Ilegal yang Ditangkap di Lotim Ditahan di Polda Kepri

MATARAM-Tekong yang merekrut sejumlah calon PMI ilegal, Muliadi alias Long sudah dibawa ke Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Selasa (4/1) lalu. Kini, pria asal Danger, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, itu menjadi tahanan Polda Kepri.

”Kita serahkan ke Polda Kepri, karena ini hasil pengembangan mereka,” terang Dirreskrimum Polda NTB Kombes Pol Hari Brata, Rabu (5/1).

Diketahui, Muliadi ditangkap tim gabungan Polda NTB dan Polda Kepri di rumahnya di Desa Danger, Masbagik, Senin (3/1) malam lalu. Dia ditangkap terkait peristiwa karamnya kapal pengangkut calon PMI ilegal di perairan Malaysia.

Dalam peristiwa itu ada 60 orang calon PMI ilegal yang diangkut dari Batam ke Malaysia menggunakan kapal cepat. Namun, kapal tersebut terbalik dan menewaskan puluhan PMI ilegal. Sebanyak 14 diantaranya adalah warga NTB.

Ada juga yang selamat. Tercatat sembilan orang asal NTB yang selamat dari peristiwa tersebut.

Polda Kepulauan Riau mengusut kasus tersebut. Mereka menangkap pengirim PMI ilegal dari Batam bernama Susanto alias Acing. Dari hasil penangkapan itulah terungkap peran Muliadi yang merupakan tangan kanan Susanto.

Baca Juga :  Kapolda NTB Tinjau Pos Operasi Ketupat Rinjani di Pasar Jelojok Loteng

Menurut Hari Brata, mereka sudah lama mengirim PMI ilegal ke Malaysia. Aktivitas mereka semakin intens setahun terakhir. ”Dia sudah 10 tahun bergelut di penyaluran PMI ilegal ke Malaysia,” katanya.

Dalam melakukan perekrutan, Muliadi menarik tarif Rp 6 juta hingga Rp 10 juta per orang. Itu mencakup biaya pemberangkatan hingga sampai ke lokasi.

Setiap calon PMI dijanjikan pekerjaan yang layak. Para calon PMI bisa percaya karena Muliadi sudah lama menetap di Malaysia. ”Sejak tidak lulus SD, Muliadi ini sudah berada di Malaysia. Bahasanya memiliki jaringan penerima kerja di sana (Malaysia),” jelasnya.

Dia sudah beberapa kali mengirim orang ke Malaysia bekerja sama dengan Susanto. ”Kalau dihitung sejak 10 tahun bergelut di tindak kejahatan itu sudah ada ratusan orang yang dikirimnya,” ujarnya.

Tetapi, Hari tidak menyebut jumlah orang yang direkrut yang menjadi korban kapal karam tersebut. ”Belum didata itu. Kita juga tidak menginterogasi soal itu pada saat penangkapan. Itu nanti didalami penyidik di Polda Kepri,” ungkapnya.

Baca Juga :  Polda NTB Sita Garam Bleng dari Pedagang di Pasar Kediri

Setiap pengiriman PMI ilegal asal NTB langsung diarahkan ke Susanto. Nanti mereka diberangkatkan menggunakan kapal milik Susanto dari Batam ke Malaysia. ”Biasanya mereka menunggu cuaca buruk untuk memberangkatkan PMI ilegal. Itu untuk menghindari patroli Polair,” ujarnya.

Para PMI ilegal tidak diantar langsung ke bibir pantai. Kapal berhenti di tengah laut, kemudian penumpang diminta berenang menuju bibir pantai. Selanjutnya berjalan di tengah hutan sekitar dua kilometer. “Setelah melewati hutan nanti akan ditunggu oleh seseorang yang juga jaringan dari Susanto,” ungkapnya.

Para korban juga dijanjikan dibuatkan kartu tanda penduduk (KTP) Malaysia. Karena mereka masuk ke Malaysia tanpa menggunakan paspor dan prosedur resmi. ”Itu pengakuan dari Muliadi,” jelasnya.

Mereka biasanya dipekerjakan sebagai petani dan buruh di kebun kelapa sawit. Gaji mereka bervariasi. ”Kalau lagi ramai, bisa mendapatkan Rp 6 jutaan,” ujarnya. (arl/r1)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/