alexametrics
Senin, 15 Agustus 2022
Senin, 15 Agustus 2022

Petunjuk Jaksa soal Bandar Narkoba Kelas Kakap Membingungkan Penyidik

MATARAM-Jaksa peneliti kembali mengirim berkas P-19 kepada penyidik Ditresnarkoba Polda NTB terkait kasus dugaan bandar sabu kelas kakap berinisial NJD alias Mandari. Namun berkas yang dikirim Rabu (5/1) itu semakin membingungkan penyidik Ditresnarkoba Polda NTB.

Itu karena narasi di dalam berkas P-19 dari jaksa menyatakan penyidik sudah memenuhi petunjuk jaksa penuntut umum (JPU). Tetapi, pada narasi selanjutnya disebutkan ada dua alat bukti yang belum terpenuhi. Tidak ada petunjuk mengenai dua alat bukti yang masih kurang tersebut. Helmi menegaskan, jika memang ada petunjuk kekurangannya, penyidik akan berusaha memenuhinya.

“Sangat membingungkan. Yang kurang itu yang mana?” tanya Dirresnarkoba Polda NTB Kombes Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf sambil memperlihatkan surat P-19 dari jaksa, Kamis (6/1).

Baca Juga :  Cerita Mantan Pecandu Bebas dari Narkoba: Badan Remuk, Halusinasi Didatangi Malaikat Maut

Diketahui, peran Mandari terungkap dari penangkapan pengedar narkoba berinisial RANA alias Agung. Ditemukan barang bukti 1,2 gram dan uang Rp 16,9 juta yang diduga hasil penjualan.

Agung mengaku menerima barang dari GS alias Sandi. Polisi berhasil menangkap Sandi saat bersama Mandari dan beberapa orang anak buahnya di sebuah hotel di Kuta Mandalika, Lombok Tengah. Dari pengakuan Sandi barang yang diedarkan Agung itu berasal dari Mandari.

Menurut penyidik, Mandari bisa terseret dalam kasus tersebut diperkuat dengan hasil cellebrite (penyedotan percakapan di ponsel meski data sudah terhapus) dalam percakapan dalam WhatsApp group (WAG) bernama “Akatsuke Baru”. Dalam WAG tersebut Mandari bertindak sebagai admin.

Di WAG itu terdapat percakapan dari Mandari yang menyatakan “Orang yang ada dalam grup ini adalah orang kepercayaan. Oman yakin di dalam grup ini bisa menjaga rahasia”.

Baca Juga :  Dua Kali Berulah, Jenderal Yusuf Terancam Dipindah ke Nusakambangan

”Misalnya, di percakapan WhatsApp itu diperlukan keterangan ahli untuk mengupas narasinya, kita akan lakukan pemeriksaan ahli. Tidak malah petunjuknya ngambang,” kata Helmi mencontohkan.

Juru Bicara Kejati NTB Dedi Irawan mengatakan, pihaknya sudah mengonfirmasi berkas P-19 yang dimaksud Helmi. Dia menjelaskan, itu bukan surat P-19. Tetapi surat pengantar pengembalian dari P-19 yang belum dipenuhi penyidik.

Dalam surat pengantar itu disebutkan petunjuk sudah dipenuhi, namun belum memenuhi dua alat bukti. Maksudnya, kata Dedi, penyidik sudah menjalankan petunjuk jaksa. Tetapi belum memenuhi dua alat bukti. “Artinya petunjuk jaksa sudah berusaha dipenuhi penyidik namun belum cukup bukti atau nilai pembuktian,” jelasnya. (arl/r1)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/