alexametrics
Selasa, 22 September 2020
Selasa, 22 September 2020

Sengketa Lahan di KEK Mandalika, ITDC Kalah Ditingkat Banding

MATARAM-Sengketa pembebasan lahan di salah satu titik Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika belum berakhir. Umar selaku penggugat dinyatakan menang di tingkat banding.

Pada gugatan Nomor 71/Pdt.G/2018/PN Pya itu, Umar melawan tujuh tergugat. Diantaranya, PT ITDC (tergugat I), Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Lombok Tengah (tergugat II), BPN NTB (tergugat III), BPN RI (tergugat IV), Hotel Pullman (tergugat V), Hotel Royal Tulip (tergugat VI), dan Paramount Lombok Resort and Residence (tergugat VII).

Pada situs SIPPN Praya, amar putusannya menyebutkan membatalkan putusan Pengadilan Negeri Praya.

Karena kalah di tingkat banding, Bidang perdata dan tata usaha negara (Datun) Kejati NTB yang diberikan Surat Kuasa menghadapi sengketa itu, harus berpikir keras. Tak ada pilihan lain selain mengajukan kasasi. ”Kasasi sudah kita ajukan akhir bulan lalu,” kata Asdatun Kejati NTB Tende, kemarin (6/11)

Tim Datun yang ditunjuk sebagai jaksa pengacara negara (JPN) harus bisa menyelesaikan sengketa tersebut. Mereka masih berpeluang untuk memenangkan sengketa itu. ”Peluang itu ada. Harus lebih kerja keras lagi,” kata dia.

Saat ini, JPN masih menyiapkan materi kontra memori kasasi. Semua sanggahan atas putusan Pengadilan Tinggi (PT) NTB itu akan dimasukkan ke dalam kontra memori kasasi. ”Kontra memori kasasinya ini tinggal finishing saja,” ucapnya.

Dia menerangkan, yang menjad pokok gugatan perkara itu ada area Hak Pengelolaan Lahan (HPL) 73.  Luasnya lima hektare. ”Hotel Pullman, Royal Tulip, Paramount Lombok Resort and Residence yang masuk dalam kawasan tanah itu,” bebernya.

Majelis hakim PT yang diketuai Minardi tak mempertimbangkan sama sekali bukti yang diajukan pihak tergugat. Padahal, sudah jelas, pendapat majelis hakim di peradilan tingkat pertama menyatakan bukti yang diajukan pihak tergugat sangat kuat. ”Pendapat hakim bertolak belakang,” ujarnya.

Majelis hakim PT menganggap sertifikat hak milik tanah yang diajukan penggugat adalah benar. Padahal, BPN mengganggap sertifikat tersebut palsu. ”Nomor sertifikat itu tidak terdaftar atas nama Usman. Melainkan terdaftar atas nama orang lain,” bebernya.

Pada perkara itu, Umar mengklaim, bahwa dirinya telah membeli lahan tersebut dari masyarakat tahun 1997. ”Padahal sebelumnya, muncul HPL atas nama Pemda Tingkat I. Munculnya bersamaan di tahun yang sama 1997. Duluan HPL Pemda yang muncul dibanding pembayaran dan sertifikatnya,” ujarnya.

Seharusnya, dengan adanya HPL itu lahan tersebut tidak boleh diperjualbelikan. Dia juga menerangkan, di beberapa lahan itu juga ada Hak Guna Bangunan (HGB) yang diberikan kepada Lombok Tourism Development Corporation (LTDC) pada tahun 1995. ”Artinya, tanah yang diperjualbelikan oleh masyarakat itu kan sebenarnya tanah milik LTDC,” klaimnya.

”Sudah ada HGB dan HPL, kok tiba-tiba muncul sertifikatnya atas nama Umar. Yang menurut BPN terindikasi palsu. Lalu pihak PT memenangkannya. Itu kan menjadi tanda tanya,” keluhnya.

Barang bukti berupa HGB dan HPL sudah diajukan ke majelis hakim. Tetapi,  sama sekali tidak dijadikan sebagai pertimbangan. ”Seharusnya itu menjadi pertimbangan. Karena ITDC diberikan wewenang untuk mengelola lahan milik eks LTDC,” kata dia.

Sementara itu, Mochtar M Saleh selaku penasihat Umar mengatakan, terkait klaim pihak JPN sah-sah saja. Yang pasti, menurut majelis hakim sudah mempertimbangkan putusannya berdasarkan bukti yang sudah diajukan penggugat. ”Ya, terkait tak teregister sertifikatnya di BPN saya tidak tahu. Yang jelas, majelis hakim PT menjadi penguatnya,” kata Saleh.

Kliennya sudah cukup lama membeli lahan tersebut. Dia membelinya langsung di masyarakat. ”Ada bukti pembeliannya. Makanya bisa keluar dari BPN,” bebernya.

Menurutnya, HPL yang diterima ITDC itu persoalan lain. Makanya diuji secara hukum mana yang benar. “Sudah ada pembuktiannya,” kata dia.

Jika JPN akan mengajukan kasasi, pihaknya juga akan mengikuti. ”Pasti kita juga siapkan memori kasasi dan kontra kasasinya,” pungkasnya. (arl/r2)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Sejak Pandemi, Omzet Pedagang Pasar Tradisional Turun 40 persen

”Penurunan omzet juga diikuti penurunan kapasitas pedagang di pasar sebesar 40 persen,” katanya saat ditemui di ruang kerja, Senin (21/9/2020).

Manfaatkan Simulasi KBM Tatap Muka untuk Pembiasaan Pola Hidup Sehat

”Kita lihat mana yang belum pakai masker sekaligus kita kampanye 3M itu, bersama guru-guru yang lain,” jelas Winarna.

Menag Positif Korona, UIN Mataram Langsung Instruksikan Pegawai WFH

”Pegawai UIN Mataram semaksimal mungkin, agar bekerja dari rumah menyelesaikan tugas masing-masing,” tegas dia.

Tagih Piutang Rp 3 Miliar PT GNE Libatkan Kejaksaan

Sekitar Rp 3 miliar uang PT Gerbang NTB Emas (GNE) tercatat sebagai piutang. Sejumlah perusahaan masih berhutang pada perusahaan daerah milik Pemprov NTB ini. “Makanya kita akan menggunakan JPN (jaksa pengacara negara) untuk menagih,” kata Direktur PT GNE Samsul Hadi, Jumat (18/9).

VIDEO : Buron ke Kalimantan, Pulang, Saen Diringkus di Lingsar

Pelarian anggota komplotan pencurian dengan pemberatan berinisial SR alias Saen, berakhir. Pria 31 tahun, asal Dusun Bagek Nunggal, Desa Peteluan Indah, Lingsar, Lombok Barat, itu dibekuk setelah setahun buron. ”Pelaku pulang karena rindu keluarga,” kata Kapolsek Lingsar AKP Dewi Komalasari, Sabtu (19/9).

WCD, Warga Lobar Bebaskan Pantai Cemara dari Sampah

Ribuan orang di Lombok Barat (Lobar) memperingati World Cleanup Day (WCD), akhir pekan kemarin. Kegiatan ini dipusatkan di Pantai Cemara. ”Semuanya terlibat. OPD, kecamatan, desa, bahkan masyarakat juga ramai ikut,” kata Bupati Lobar H Fauzan Khalid, Sabtu (19/9).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Dua Terduga Pengedar Ekstasi Tertangkap di Karang Kediri

Dua terduga pengedar ekstasi berinsial PAW alias Patrick, 28 tahun, dan AZP alias Agli, 25 tahun, dibekuk tim Satnarkoba Polresta Mataram, Kamis (17/9) malam. ”Kita tangkap mereka di Lingkungan Karang Kediri, Cakranegara,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson, kemarin (18/9).

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...
Enable Notifications    Ok No thanks