Selasa, 31 Januari 2023
Selasa, 31 Januari 2023

Janjikan Gaji Besar di Arab Saudi, Dua Pelaku Perdagangan Orang Ditangkap

MATARAM-Dua orang pelaku tindak pidana perdagangan orang (TPPO) tujuan Arab Saudi ditangkap tim Ditreskrimum Polda NTB. Mereka masing-masing seorang perempuan berinisial SN alias Ela, 37 tahun, dan pria berinisial MU alias Tuan Zaki, 47 tahun.

Keduanya ditangkap di lokasi berbeda. Ela tertangkap di rumahnya Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Sedangkan Tuan Zaki di Desa Sandik, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat.

Dirreskrimum Polda NTB Kombespol Teddy Ristiawan mengatakan, pengungkapan kasus ini berawal dari laporan sembilan korban yang dijanjikan bekerja di Arab Saudi. Para korban menyetorkan uang Rp 22 juta per orang untuk proses pemberangkatan. “Itu untuk biaya medical check up, pembuatan paspor,” jelasnya.

Baca Juga :  Rekanan Pengadaan Benih Jagung Kembalikan Kerugian Negara Rp 10,6 Miliar

Proses itu sudah dijalankan. Namun mereka tidak sampai diberangkatkan.

Hasil penyelidikan polisi, kedua pelaku memiliki peran berbeda. Ela bertindak sebagai perekrut, sementara Tuan Zaki sebagai penampung di wilayah Lombok.

Dalam aksinya, kedua pelaku menjanjikan pekerjaan di Arab Saudi dengan gaji tinggi. Per orang akan digaji hingga Rp 8 juta per bulan. “Itu modus agar para korban kepincut,” terangnya.

Perekrutan yang dilakukan Ela dan Tuan Zaki ternyata tidak memiliki izin penempatan tenaga kerja di luar negeri. Itu diketahui berdasarkan keterangan saksi ahli dari Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia maupun Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB. “Tidak ada izin yang dikantongi untuk penempatan tenaga kerja,” bebernya.

Baca Juga :  Tidak Ada Izin Keamanan Dari Polda, Liga 3 NTB Gagal Bergulir Tahun Ini

Hasil penyidikan yang dilakukan polisi, Ela dan Tuan Zaki pun ditetapkan sebagai tersangka. Keduanya sudah ditahan.

Penyidik menerapkan Pasal 81 juncto Pasal 69 Undang-undang RI Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan PMI, dengan ancaman hukuman paling lama 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 15 miliar.

Teddy mengatakan, dari proses penyidikan, beberapa barang bukti disita. Di antaranya bukti data administrasi pengiriman tenaga kerja ke Arab Saudi. “Seperti hasil tes kesehatan dan pembuatan paspor,” katanya. (arl/r1)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications OK No thanks