alexametrics
Selasa, 22 September 2020
Selasa, 22 September 2020

Anak Dalam Lingkaran Kejahatan Jalanan

Polres Mataram berhasil meringkus 81 terduga pelaku kejahatan konvensional selama dua pekan operasi jaran. Mereka merupakan penjahat kawakan yang kerap beraksi di wilayah hukum Polres Mataram. Sayangnya, dari seluruh pelaku, masih ada anak yang terseret dalam lingkaran aksi kejahatan.

== == ==

Billy (bukan nama sebenarnya), tertunduk saat digelandang tim Resmob 701 Satreskrim Polres Mataram, akhir Januari lalu. Remaja berusia 17 tahun tersebut, baru saja ditangkap karena diduga mencuri motor di Desa Selat, Kecamatan Narmada, Lombok Barat (Lobar).

Aksinya dilakukan bersama MA (inisial). Keduanya mengambil motor dengan menggunakan kunci kontak asli, yang sebelumnya telah diambil pelaku. Perbuatan mereka dilakukan pada Desember 2018.

Tertangkapnya Billy menambah daftar panjang pelaku kriminal yang masuk kategori anak. Hingga berakhirnya operasi Jaran pada 3 Februari, total ada 12 anak yang terjaring.

Jumlah tersebut meningkat tiga kali lipat dibandingkan hasil dalam operasi serupa tahun lalu. Di 2018, hanya ada empat pelaku anak yang terlibat kejahatan.

”Tahun ini ada 12 pelaku yang merupakan anak-anak turut diamankan,” kata Kapolres Mataram AKBP Saiful Alam.

Meski masih berusia anak, kata Alam, polisi tetap melakukan tindakan tegas dengan menangkap mereka. Yang membedakan hanya proses hukum kepada pelaku anak. Mereka juga tidak ditahan di sel Polres Mataram, tetapi dititipkan di lapas anak dan Panti Paramita.

Keterlibatan anak dalam aksi kejahatan, tak terlepas dari pengawasan orang tua. Kapolres mengatakan, akan lebih bijak apabila orang tua tak melepas pengawasan pada anak, terutama pada pergaulan mereka.

”Untuk orang tua, saya imbau agar lebih intens mengawasi anak-anaknya. Karena, kalau terkait dengan kejahatan, kepolisian tetap melakukan tindakan tegas terhadap siapapun yang melakukan itu,” tegas dia.

Keterlibatan anak lingkaran kejahatan, bukan semata kesadaran mereka. Ada peran dari penjahat kawakan, yang mengajarkan hingga merekrut anak untuk melakukan tindak kejahatan. Kepolosan dan ketidaktahuan permasalahan hukum membuat anak dimanfaatkan pelaku-pelaku lain yang merupakan residivis.

Meski masih anak, tetap ada proses hukum terhadap mereka. Biasanya proses hukum terhadap ABH lebih mengedepankan pembinaan. Jika memungkinkan, mereka akan dikembalikan ke orang tua masing-masing. Jika masih ada yang berstatus pelajar, kepolisian akan melakukan koordinasi dengan sekolah, di mana tempat mereka menimba ilmu.

Mengenai peningkatan anak yang terlibat kejahatan, tak ditampik Kepala Divisi Advokasi LPA NTB Joko Jumadi. Kata Joko, tahun per tahun memang terlihat tren peningkatan anak yang berurusan dengan hukum (ABH).

Untuk tahun lalu saja, ada sekitar 200 ABH di Pulau Lombok. ”Itu tinggi. Untuk NTB saja, rata-rata hampir 500 anak (berurusan dengan hukum),” kata dia.

Joko menyebut dua faktor dominan yang mempengaruhi peningkatan anak dengan tindak kejahatan. Pertama, pola pengasuhan keluarga yang tidak maksimal. Kedua, lingkungan yang juga mempengaruhi.

Selain itu, ada juga pengaruh pergaulan terkait gaya hidup. Pusat perbelanjaan yang semakin menjamur di Kota Mataram, tentunya mengiming-imingi adanya peningkatan gaya hidup.

Bagi sebagian orang, membeli makan atau sekadar sebungkus rokok tentu tidak memberatkan. Tetapi tidak bagi anak dengan kondisi perekonomian orang tuanya yang tidak mampu.

”Mereka mau mengimbangi, tapi orang tua tidak mampu. Akhirnya ambil jalan pintas,” sebut Joko belum lama ini.

Dari sejumlah advokasi LPA, rata-rata hasil kejahatan anak dipakai untuk membeli makan, rokok, hingga minum-minuman beralkohol. Beberapa diantaranya ada juga yang digunakan untuk membeli narkoba.

”Ada yang beli narkoba, tapi jumlahnya tidak besar,” bebernya.

Apakah hukuman yang diberikan tidak memberi efek jera, sehingga anak kadangkala kembali berbuat tindak pidana? Joko mengatakan, proses hukum yang dilakukan sudah maksimal. Namun perlu ada peningkatan dalam hal rehabilitasi.

Selama ini, lanjut dia, proses rehabilitasi hanya menyasar anak sebagai pelaku kriminal. Tetapi intervensi terhadap orang tua dan lingkungan justru lalai dilakukan pemerintah.

”Kita tidak merehabilitasi orang tua dan lingkungannya,” jelas dia.

Akibat tidak ada intervensi terhadap orang tua dan lingkungan, anak yang kembali dari proses hukuman, bisa kembali mengulangi perbuatannya. ”Harus ada keterlibatan instansi pemerintah. Karena orang tua dan lingkungan sangat mempengaruhi anak setelah menjalani hukuman,” tandas Joko.(wahidi akbar sirinawa/r2)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Tagih Piutang Rp 3 Miliar PT GNE Libatkan Kejaksaan

Sekitar Rp 3 miliar uang PT Gerbang NTB Emas (GNE) tercatat sebagai piutang. Sejumlah perusahaan masih berhutang pada perusahaan daerah milik Pemprov NTB ini. “Makanya kita akan menggunakan JPN (jaksa pengacara negara) untuk menagih,” kata Direktur PT GNE Samsul Hadi, Jumat (18/9).

VIDEO : Buron ke Kalimantan, Pulang, Saen Diringkus di Lingsar

Pelarian anggota komplotan pencurian dengan pemberatan berinisial SR alias Saen, berakhir. Pria 31 tahun, asal Dusun Bagek Nunggal, Desa Peteluan Indah, Lingsar, Lombok Barat, itu dibekuk setelah setahun buron. ”Pelaku pulang karena rindu keluarga,” kata Kapolsek Lingsar AKP Dewi Komalasari, Sabtu (19/9).

WCD, Warga Lobar Bebaskan Pantai Cemara dari Sampah

Ribuan orang di Lombok Barat (Lobar) memperingati World Cleanup Day (WCD), akhir pekan kemarin. Kegiatan ini dipusatkan di Pantai Cemara. ”Semuanya terlibat. OPD, kecamatan, desa, bahkan masyarakat juga ramai ikut,” kata Bupati Lobar H Fauzan Khalid, Sabtu (19/9).

Bawaslu Dorong Pendaftaran Sengketa Online

Penetapan pasangan calon Pilkada 2020 akan dilakukan pada lusa mendatang (23/9) di Kantor KPU masing-masing daerah. Bawaslu kini mulai mempersiapkan diri menghadapi sengketa pencalonan. Sebab diperkirakan, bapaslon yang dinyatakan tidak memenuhi syarat akan membawa kekecewaannya ke Bawaslu.

Ada Apa dengan Pulau-pulau Kecil?

SAYA diundang oleh Ketua LPPM Unram, Dr. Muhammad Ali dalam diskusi untuk merevisi Rencana Induk Penelitian Universitas Mataram lima tahun ke depan. Salah satu bagian yang cukup alot diskusinya adalah ketika mendiskusikan fokus penelitian di Unram. Mengapa harus ada fokus?

Penyuntikan Vaksin Korona Untuk Warga Dimulai Januari 2021

Pemerintah telah bekerja sama dengan Uni Emirat Arab dan mendapatkan vaksin untuk Covid-19 sebanyak 20 juta dosis. Rencananya, vaksin mulai didistribusikan pada Desember.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Film MOHAN, Ini Dia Official Teasernya

Rumah Produksi Warna tengah merampungkan pembuatan film MOHAN. Film bergenre drama remaja tersebut tengah memasuki fase shooting. Namun demikian sebagai bocoran Warna telah meluncurkan cuplikan Official Teaser nya.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.
Enable Notifications    Ok No thanks