alexametrics
Rabu, 12 Agustus 2020
Rabu, 12 Agustus 2020

Pidana Penjara Bagi Penjemput Paksa Pasien Korona

Penjemputan paksa jenazah positif Covid-19 sering terjadi, sepekan terakhir. Masyarakat serampangan mengambil jenazah. Tanpa dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD) dan memenuhi protokol kesehatan.

=====

Senin (6/7) lalu, almarhumah  M dinyatakan positif Covid-19. Pihak rumah sakit berencana memakamkan dengan standar protokol kesehatan yang sudah ditetapkan.

Namun, pihak keluarga tak menerima. Terjadi perdebatan panjang.  Hingga, massa pun semakin banyak.

Lalu, mengambil paksa jenazah terjadi. Keesokan harinya jenazah dimakamkan seperti biasa. Seperti tak terjadi apa-apa.

Mengantisipasi hal itu, TNI-Polri  kini membentuk posko keamanan di tiap rumah sakit. Tim keamanan itu bukan saja sebagai pengaman melainkan juga menjadi jembatan komunikasi antara pihak keluarga dengan rumah sakit jika ada jenazah yang dinyatakan positif Covid-19.

Sabtu (11/7) lalu terjadi kasus serupa di RSUD Kota Mataram. Aparat keamanan berhasil  memediasi keluarga pasien covid-19.

Almarhumah berinisial JM, 63 tahun  meninggal sekitar pukul 11.30 Wita dan dinyatakan positif Covid-19. Pihak keluarga almarhumah asal  Kelurahan Karang Baru, Selaparang, Mataram  bersikeras untuk melaksanakan pemakaman tanpa protokol kesehatan. Bahkan pihak keluarga sudah menyiapkan mobil pribadi untuk membawa jenazah pulang.

”Kami coba untuk memberikan pemahaman kepada mereka. Dan mengambil jalan tengah,” kata Kapolresta Mataram Kombes Pol Guntur Herditrianto usai melakukan mediasi, Sabtu (11/7) lalu.

Jenazah kemudian dibawa menggunakan mobil ambulan RSUD Kota Mataram. Petugas RSUD juga langsung mendampingi melakukan pemakaman sesuai protokol covid-19.

Pihak keluarga juga diijinkan untuk mengurus pemakaman. Dengan catatan harus menggunakan APD lengkap. ”APD kita diberikan langsung oleh rumah sakit,” jelasnya.

Guntur mengimbau, tindakan mengambil jenazah pasien covid tidak dibenarkan. Dilarang memaksa untuk mengambil jenazah. ”Tindakan itu sudah mengarah perbuatan pidana,” tegasnya.

Seperti yang tertera pada Pasal 5 Undang-Undang No 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular dengan ancaman satu tahun penjara, atau denda hingga 100 juta sebagaimana diatur dalam Pasal 93 Undang-Undang No 6 tahun 2018 tentang kekarantinaan Kesehatan.

”Kita bisa tindak itu. Undang-undangnya ada dan melanggar pidana. Itu bisa kita pidanakan,” tegas Guntur.

Sedangkan Kepala Lingkungan (Kaling) Suradadi Timur, Zul Tamami yang mendampingi keluarga pasien mengapresiasi hasil mediasi.

“Kami berterima kasih diijinkan memakamkan jenazah dengan prosedur pemakaman pasien covid-19,” terangnya.

Keluarga juga lega diijinkan menghadiri pemakaman. Dengan syarat, dibantu petugas medis dan keluarga yang menyaksikan diharuskan menggunakan APD lengkap. ”Ada APD untuk keluarga yang disiapkan oleh rumah sakit,” ungkapnya.

Direktur RSUD Kota Mataram, dr HL Herman Mahaputra mengatakan, pasien datang ke RSUD Jumat sore (10/7).  Pasien JM dirawat dengan riwayat beberapa penyakit penyerta (komorbid). Diantaranya penyakit jantung, ginjal hingga diabetes. ” Memang alrnarhumah disamping usianya 60-an tahun. Memang komorbidnya sudah ada,” katanya.

Pasien hanya semalam dirawat di RSUD Kota Mataram. Kemudian meninggal dunia Sabtu pagi (11/7) sekitar pukul 08.00 wita. Setelah itu langsung dilakukan tes swab. Hasilnya pun dinyatakan positif terpapar covid-19. Oleh karenanya, pemakamannya harus menggunakan protokol covid-19.

 

Lambannya Swab, Picu Jemput Paksa Jenazah Covid-19

Danrem 162/WB Brigjen TNI Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, penjemputan paksa jenazah covid-19 sudah dievaluasi.  ”Salah satu pemicunya, lambannya keluar hasil Swab,” kata Rizal, Sabtu (11/7).

Untuk itu, TNI-Polri terus mendorong pihak rumah sakit untuk mempercepat proses Swab. Jangan sampai terjadi asumsi negatif yang muncul di tengah masyarakat. ”Kalau hasilnya lebih cepat, kan memberikan kepastian terhadap status jenazah. Apakah positif atau negatif,” bebernya.

Seperti yang terjadi terhadap almarhumah Ny. M. Dari data yang diterima, warga Gunungsari tersebut di Swab tanggal 4 Juli. Sedangkan hasilnya keluar, 6 Juli. ”Ini kan rentang waktu Swab-nya itu cukup lama. Sehingga, muncul asumsi negatif dari masyarakat,” kata dia.

Danrem mengatakan, lambannya proses Swab bukan karena alatnya. Dengan alat PCR yang ada saat ini, dua hingga lima jam hasilnya sudah bisa keluar. ”Terkadang alasannya dokter sedang tidur. Makanya saya minta kalau ada dokter yang tidur harus dijemput agar penanganannya maksimal,” ungkapnya.

Namun demikian Danrem juga meminta masyarakat lebih  mengerti. Jenazah yang dinyatakan positif Covid-19 harus dimakamkan sesuai protokol yang sudah ditetapkan. ”Jangan sampai lemahnya pengetahuan dan mengedepankan ego untuk mengambil jenazah, membuat orang lain merugi. Karena, virus ini bisa menular ke orang lain,” imbaunya.

Rizal juga mengungkapkan, semua stakeholder harus berperang melawan pandemi.  Termasuk juga pemerintah. “Makanya saya minta pemerintah daerah untuk mengeluarkan perwal (Peraturan Wali Kota) atau perbup (Peraturan Bupati) terkait dengan aturan Covid-19,” ujarnya.

TNI-Polri sudah sepakat, untuk membantu mengawal perwal dan perbup yang dikeluarkan pemerintah daerah

”Ini yang kita antisipasi. Terutama, di wilayah Mataram dan Lombok Barat (Lobar) yang trend peningkatan kasusnya terus meningkat,” ungkapnya.  ”Mari kita berjuang melawan Covid-19,” ajaknya.

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Mataram dr Lalu Herman Mahaputra mengatakan, munculnya  persoalan penjemputan paksa itu sudah dievaluasi. Penyebabnya, kekurangan tenaga medis. ”Ini kan pekerjaan rumit. Anak buah saya bekerja dari jam delapan pagi hingga delapan malam. Kita akan buatkan jadwal baru supaya tidak terjadi persoalan seperti itu lagi,” kata pria yang akrab disapa dokter Jack itu.

Dia juga menepis adanya asumsi negatif terkait hasil tes Covid-19. Beberapa asumsi masyarakat menyatakan pasien hanya sengaja dinyatakan positif.

Karena, semenjak dirawat di rumah sakit tim tidak melakukan Swab langsung terhadap pasien. ”Itu tidak benar,” ujarnya.

Perlu diketahui masyarakat, untuk melakukan tes Swab dilakukan dua metode. Tes Cepat Molekuler (TCM) dan tes cepat Polymerase Chain Reaction (PCR). ”Tes TCM dikhususkan bagi orang meninggal dunia. Sedangkan tes PCR khusus bagi pasien yang sedang menjalani perawatan,” bebernya.

Dua metode itu tidak ada bedanya. Hanya saja proses tes TCM bisa lebih cepat. ”Bisa selesai satu jam. Jika tidak ada kendala. Karena yang diswab hanya orang meninggal saja,” ungkapnya.

Sedangkan, PCR bisa lebih cepat jika antrian orang yang melakukan swab tidak banyak. ”Kalau lebih banyak orang yang melakuan Swab, bisa lebih lama. Karena harus mengantri,” jelasnya.

Jack mengatakan, berdasarkan SOP, setiap orang yang meninggal dunia harus di-swab. Nanti Swabnya, menggunakan metode TCM. ”Makanya, hasil swab orang yang sudah dinyatakan meninggal lebih cepat hasilnya. Kalau memang positif, kita nyatakan positif. Kalau negatif, kita katakan negatif. Tidak ada yang dibuat-buat,” tegasnya. (arl/r2)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Lawan Korona di Lombok tengah Lockdown Dusun Tetap Jadi Pilihan

Pencegahan penularan covid-19 di Lombok Tengah terus dilakukan pemkab. “Harapannya, jangan ada lagi yang positif,” kata sekretaris gugus tugas Covid-19 Murdi pada Lombok Post, Senin (10/8).

Kabar Baik, Pemerintah Izinkan Pengiriman TKI ke Luar Negeri

Pemerintah telah membuka peluang kerja bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) alias Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Hanya saja, rekrutmen terbatas pada tenaga kerja terlatih sektor formal.

Tempat Hiburan di Lobar Tak Patuh Cegah Korona, Dewan : Segel Saja!

DPRD Lombok Barat (Lobar) memberi atensi penerapan protokol pencegahan covid. Terutama untuk tempat hiburan malam. ”Kami support penegak hukum dan pemerintah. Kalau ada yang membandel, segel saja,” kata Ketua Fraksi Demokrat DPRD Lobar Indra Jaya Usman, Senin (10/8).

Pasangan Makmur-Ahda Tersandera SK PKB

MATARAM--Bakal Pasangan Calon (Bapaslon) HL Makmur Said-H Badruttamam Ahda tersandera SK dukungan dari PKB. Tanpa PKB, pasangan ini kemungkinan besar tak bisa bertarung di Pilkada Kota Mataram.

FK Unram Prediksi Puncak Penularan Korona di NTB Bulan Ini

Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Mataram sempat memprediksi Bulan Agustus ini menjadi puncak pandemi Covid-19. Namun, trend Covid-19 justru perlahan menurun.

Bantu Siswa Belajar, Masjid Al-Falah Monjok Siapkan Internet Gratis

Inovasi Takmir Masjid Al-Falah Kelurahan Monjok patut ditiru. Terutama oleh takmir masjid di Kota Mataram. Karena, mereka menyiapkan internet gratis bagi siswa dan mahasiswa yang saat ini sedang menerapkan metode belajar dalam jaringan (daring).

Paling Sering Dibaca

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Cucu Bupati Pertama Loteng Siap Mengabdi untuk Lombok Tengah

Menjadi satu-satu sosok perempuan, Hj Lale Prayatni percaya diri maju menjadi calon bupati Lombok Tengah. Birokrat perempuan ini ingin membawa perubahan bagi Lombok Tengah ke arah lebih baik. ”Saya terpanggil untuk mengabdi di kampung halaman saya,” kata Hj Lale Prayatni, Minggu (9/8).

Digerebek Polisi, Doyok dan Tutik Gagal Nyabu di Karang Bagu

Terduga pengedar sabu berinisial H alias Doyok ditangkap tim khusus (Timsus) Ditresnarkoba Polda NTB. Dia diringkus bersama seorang perempuan berinisial HT alias Tutik, Jumat sore (7/8) lalu.

Lale Sileng Pilih Yusuf Saleh Sebagai Wakil di Pilbup Loteng

Lale Prayatni memutuskan untuk menggandeng HM Yusuf Saleh. “Ya,” kata Lale singkat saat dihubungi, Minggu (9/8).
Enable Notifications.    Ok No thanks