alexametrics
Sabtu, 23 Oktober 2021
Sabtu, 23 Oktober 2021

Sidang Suami Bunuh Istri di Ampenan, Terdakwa Dituntut 14 Tahun Penjara

MATARAM-Terdakwa pembunuh istri, M Ali Asgar menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Mataram, Selasa (12/10). Pria asal Ampenan tersebut dituntut 14 tahun penjara.

”Menuntut supaya majelis hakim menjatuhkan pidana kepada M Ali Asgar dengan pidana penjara selama 14 tahun,” kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Muthmainnah H.

Terdakwa dituntut berdasarkan pasal 44 ayat (3) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Dalam dakwaan JPU dijabarkan, Ali Asgar awalnya berjualan buah dengan istrinya menggunakan mobil pikap di Jalan Adi Sucipto, Rembiga, Mataram, Jumat (16/4) lalu. Sang istri menerima telepon dari seorang laki-laki.

Terdakwa mendengar istrinya (korban) dengan laki-laki yang menelepon-nya itu bermesraan. Terdakwa pun merasa cemburu. ”Terdakwa menegur korban dengan kalimat “janganlah seperti itu, bagaimana pun saya ini suamimu”,” beber Muthmainnah.

Tetapi korban tidak menerima ditegur. Sehingga terjadi cekcok. Terdakwa pun emosi lalu mengambil pisau yang biasanya digunakan untuk mengupas buah. “Terdakwa langsung menghujamkan pisau ke leher istrinya dan langsung dicabut,” jelasnya.

Korban pun langsung jatuh namun terdakwa merangkulnya. Lalu korban dinaikkan ke mobil pikap dan menutup jualannya.

Terdakwa membawa korban ke rumahnya di Lingkungan Moncok Karya, Ampenan. Sementara handphone milik korban dibuang. ”Saat tiba di rumah meminta tolong ke kakak kandungnya yang juga menjadi saksi,” jelasnya.

Di rumah, terdakwa malah mandi terlebih dahulu untuk membersihkan sisa darah. Selanjutnya korban dibawa ke Rumah Sakit Katolik St. Antonius di Karang Ujung, Ampenan. “Tetapi, pihak rumah sakit menyarankan untuk dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara,” ujarnya.

Tetapi, terdakwa malah tidak ke Rumah Sakit Bhayangkara. Melainkan dibawa ke Polsek Ampenan. Polisi segera membawa korban ke Rumah Sakit Bhayangkara namun setibanya di rumah sakit korban dinyatakan telah meninggal dunia. ”Pihak rumah sakit telah melakukan visum luar. Hasilnya terdapat luka tusuk di bagian leher menembus pembuluh darah vena,” bebernya.

Dalam pertimbangan JPU, beberapa perbuatan terdakwa yang memberatkan. Di antaranya perbuatan terdakwa mengakibatkan istrinya meninggal yang semestinya terdakwa sebagai suami harus melindungi istrinya dan perbuatan terdakwa mengakibatkan anak-anaknya kehilangan ibunya. Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa telah mengakui perbuatannya.

Sementara itu, penasihat hukum  terdakwa Deni Nur Indra mengatakan pihaknya akan melakukan pembelaan atau pleidoi pada sidang selanjutnya. ”Semua nanti kita akan sampaikan di pleidoi,” katanya singkat. (arl/r1)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks