alexametrics
Selasa, 14 Juli 2020
Selasa, 14 Juli 2020

Penyelundup Narkoba di Lapas Mataram, Kejati NTB Siapkan Tuntutan Berat

MATARAM-Terbongkarnya penyelundupan narkoba ke dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Mataram menjadi atensi Kejati NTB. Setiap orang yang melakukan tindakan itu akan dituntut maksimal. ”Kita akan tuntut tinggi. Buktikan saja omongan saya,” kata Kajati NTB Nanang Sigit Yulianto, Jumat (12/6) lalu.

Sekarang, kasus tersebut masih dalam proses penyidikan di Polresta Mataram. Mereka sudah menetapkan tujuh orang tersangka. ”Yang penting saat ini, penyidik harus memperkuat bukti,” ujarnya.

Nanti pihak dari jaksa peneliti akan melihat sejauh mana proses penyidikan yang sudah dijalankan. Apakah berkas penyidik sudah sesuai atau tidak. ”Nanti koordinasi sebelum penuntutan akan diperkuat,” ujarnya.

Untuk melakukan proses penuntutan, harus dilihat dulu berkasnya seperti apa. Apakah penyidik di kepolisian sudah memperkuat bukti sehingga unsur pasal yang disangkakan terpenuhi atau tidak. “Kalau memang sudah terbukti kita bakal layangkan tuntutan maksimal sesuai perbuatannya,” ujarnya.

Misalnya saja nanti penyidik menjerat para tersangka dengan pasal 112 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009. Sudah jelas tertera dalam pasal tersebut hukumannya.

Dalam pasal tersebut disebutkan. Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan narkotika golongan I. Dipidana dengan penjara paling singkat empat tahun dan paling lama 12 tahun serta denda pidana paling sedikit Rp 800 juta dan paling banyak Rp 8 miliar.

”Intinya nanti kita tuntut maksimal,” tegasnya.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram) Prof Dr Amirudin mengatakan, menuntut maksimal bagi para pengedar narkoba itu sudah tugas jaksa. Namun, yang terpenting adalah pembuktiannya. ”Mampu tidak pihak jaksa membuktikannya,” ujarnya.

Kalau pembuktiannya lemah, bisa saja nanti hakim berpandangan lain. Sehingga, vonis yang dijatuhkan hakim lebih rendah dari tuntutan jaksa.  ”Hakim tidak terikat pada tuntutan jaksa,” jelasnya.

”Mudah-mudahan saja persepsi hakim dengan jaksa sama. Sehingga tuntutan maksimal itu dapat diterapkan,” harapnya.

Secara pribadi, mereka sepatutnya dituntut maksimal. Karena, mereka telah menyelundupkan narkoba ke dalam Lapas. ”Notabene Lapas menjadi tempat pembinaan. Tentunya, harus steril dari narkoba,” ujarnya.

Kalau masih ada narkoba yang masuk ke dalam Lapas, tidak ada artinya proses pembinaan di dalam Lapas. ”Karena mereka masih bisa mengkonsumsi narkoba dari dalam Lapas,” ungkapnya.

Amirudin mengaku heran  mengapa narkoba bisa masuk ke dalam Lapas. Sistem pengawasan ke dalam Lapas masih lemah. ”Kalau pengawasannya bagus, tidak mungkin ada narkoba masuk,” kata dia.

”Kalau orang awam pasti mengetahui ada permainan di dalam Lapas itu,” bebernya. ”Ya, bisa jadi ada suap atau sogok disitu (Lapas),” duganya. (arl/r2)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Banyak Warga Mataram Menyepelekan Korona

Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram membubarkan kegiatan Car Free Day (CFD) di Jalan Udayana, kemarin. Sebab, kegiatan ini dinilai ilegal. Belum mendapat izin dari pemerintah dan aparat keamanan.

Bantu Nelayan Lobster, Pemprov NTB Diminta Lobi Pemerintah Pusat

Sebagian nelayan lobster di Dusun Awang Balak Desa Mertak, Pujut, Lombok Tengah beralih menjadi pekerja migran Indonesia (PMI). “Mereka berangkat sejak larangan ekspor benih lobster,” tutur salah seorang nelayan lobster Sayid Kadir Al Idrus pada Lombok Post, Minggu (12/7/2020).

Pemprov Kerahkan OPD dan Pol PP Awasi 19 Pasar di Mataram

Pemprov NTB mengerahkan pegawai dan anggota polisi pamong praja mengawasi pasar tradisional di Kota Mataram. Hal itu dilakukan untuk mencegah penularan virus korona.

Mulai Ramai Pengunjung, Perekonomian di Sembalun Menggeliat Lagi

Kawasan wisata Sembalun, Lombok Timur mulai ramai dikunjungi wisatawan lokal. Peningkatan pengunjung memang terasa sepekan terakhir.

Lembaga Pendidikan Nonformal di Mataram Dilarang Belajar Tatap Muka

Bukan hanya sekolah, Pemkot Mataram belum mengizinkan lembaga pendidikan nonformal (PNF) menggelar Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka. ”Masih dilarang,” kata Kepala Disdik Kota Mataram H Lalu Fatwir Uzali, kepada Lombok Post Minggu (12/7/2020).

Penuhi Persyaratan, Sekolah di NTB Bisa Buka Mulai September

Tahun ajaran baru 2020/2021 tepat dimulai hari ini. Namun, karena pandemi, sekolah belum diperbolehkan menggelar KBM (kegiatan belajar mengajar) tatap muka. ”Tidak diperkenankan,” kata Gubernur NTB H Zulkieflimansyah, seperti yang tertulis dalam surat edarannya.

Paling Sering Dibaca

Usai Pemakaman, Kades Sigerongan Lobar dan Lima Warga Lainnya Reaktif

Aktivitas di Kantor Desa Sigerongan lumpuh. Menyusul hasil rapid test kepala desa dan sejumlah warganya reaktif. Selama 14 hari ke depan, pelayanan di kantor desa ditiadakan sementara.

Diserang Penjahat, Perwira Polisi di Sumbawa Meninggal Dunia

IPDA Uji Siswanto, Kepala Unit (Kanit) Reskrim Polsek Utan, Sumbawa gugur dalam bertugas. Ayah tiga anak ini diserang oleh seorang terlapor berinisial RH alias Bim kasus pengancaman. Korban diserang, setelah mendamaikan warga dengan terduga pelaku.

Ikuti Mataram, Lobar Berlakukan Jam Malam

erkembangan pandemi Covid-19 di Lombok Barat (Lobar) semakin mengkhawatirkan. Kasus positif yang mencapai 300 lebih, menjadi atensi penuh Polres Lobar dalam melakukan upaya pencegahan penularan.

Tertangkap, Buron Pembunuh Polisi di Sumbawa Ditembak

Pelarian RH alias Bim terhenti pada Minggu pagi kemarin. Tersangka kasus penganiayaan yang menewaskan Uji Siswanto, Kanit Reskrim Polsek Utan tertangkap.

Liburan di Sungai Dodokan Lobar, Bayar Rp 5 Ribu Wisata Sampai Puas

Orang kreatif bisa membuat peluangnya sendiri. Itulah yang dilakukan Siali, warga Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung. Ia membuat Sungai Dodokan jadi spot wisata baru di Lombok Barat (Lobar).
Enable Notifications.    Ok No thanks