alexametrics
Kamis, 13 Mei 2021
Kamis, 13 Mei 2021

Kajati Pertanyakan Covid-19 yang Dialami Direktur PT SAM

MATARAM-Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) NTB Tomo Sitepu mempertanyakan isolasi mandiri yang dilakukan tersangka korupsi benih jagung, yaitu Direktur PT SAM berinisial AP. Menurutnya seseorang menjalani masa isolasi karena terpapar Covid-19 selama 14 sampai 21 hari. Sementara, AP sudah menjalaninya lebih dari itu. “Saya tidak tahu dia kena Covid-19 model apa?” kata Tomo.

Diketahui dalam kasus korupsi pengadaan benih jagung 2017 yang ditangani Kejati NTB, penyidik telah menetapkan empat tersangka. Di antaranya, mantan Kadis Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB berinisial HF; Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) berinisial IWW; Direktur PT WBS berinsial LIH; dan Direktur PT SAM berinisial AP. ”Tiga tersangka sudah kita tahan kan. Tinggal satu tersangka yang belum kita tahan yaitu Direktur PT SAM. Dengan alasan masih Covid-19,” ujarnya.

Penyidik belum melakukan pemanggilan paksa terhadap AP. Hanya saja, perlu dibuktikan apakah dia memang benar-benar dinyatakan positif Covid-19 atau tidak. ”Nanti akan tes tandingan dengan rumah sakit lain jika pemanggilan ketiga nanti tidak hadir dengan alasan masih Covid-19. Itu sebagai second opinion,” jelasnya.

Sejauh ini penyidik Kejati NTB telah menyelesaikan berkas penyidikan dugaan korupsi pengadaan benih jagung tahun 2017. Mereka segera melakukan gelar perkara dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). ”Kita tinggal ekspose (gelar perkara) dengan BPKP untuk menentukan kerugian negara,” kata Tomo.

Hasil gelar perkara tersebut bakal ditindaklanjuti dengan menyusun berkas dakwaan untuk proses penuntutan di pengadilan. Tomo mengatakan, sambil menunggu hasil ekspose dengan BPKP, penyidik menelaah berkas hasil pemeriksaan untuk mempersiapkan dakwaan.

Menurutnya, temuan Itjen Kementerian Pertanian (Kementan) tidak terlalu signifikan. Namun, setelah tim turun ke lapangan dan memeriksa sejumlah saksi, hasilnya berbeda. ”Temuan Itjen itu tetap kita jadikan acuan. Tetapi, setelah kita cek di lapangan kan kerugiannya lebih besar dari Itjen,” kata dia.

Berdasarkan perhitungan jaksa, total kerugian negara dalam kasus ini mencapai Rp 15,42 miliar. Tahap pertama yang dikerjakan PT SAM memunculkan kerugian negara Rp 8,42 miliar dan tahap kedua yang dikerjakan PT WBS potensi kerugian negaranya mencapai Rp 7 miliar.

”Saya rasa hasil perhitungan BPKP dengan kami sama. Tetapi, tunggulah hasil eksposenya seperti apa,” saran Tomo pada wartawan. (arl/r1)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks