alexametrics
Rabu, 4 Agustus 2021
Rabu, 4 Agustus 2021

Palak Sopir Truk, Tim Puma Polresta Mataram Bekuk Preman Pasar Mandalika

MATARAM-Tim Puma Polresta Mataram kembali menertibkan preman yang melakukan pungutan liar di Pasar Mandalika, Bertais, Mataram, Kamis malam (17/6). Satu terduga preman berinisial S diringkus. ”Kita tangkap terduga pelaku setelah menarik retribusi kepada para sopir truk di kawasan pasar,” kata Kasatreskrim Polresta Mataram Kompol Kadek Adi Budi Astawa usai operasi.

Modusnya, S menarik pungutan kepada sopir truk itu menggunakan karcis. Dia menarik Rp 10 ribu per sopir. ”Karcis itu tidak dikeluarkan dari instansi pemerintah. Melainkan dari salah satu organisasi di kawasan pasar,” jelasnya.

Para sopir truk yang dikenakan pungutan berasal dari luar Mataram. Seperti pulau Jawa, NTT, dan wilayah Pulau Sumbawa. ”Pungutan diambil dengan alasan keamanan,” ujarnya.

Dari hasil interogasi, S mengaku membeli satu bundel karcis berisi 100 lembar. Sebundel karcis itu dibeli dari seseorang yang masuk dalam anggota Forum Bertais Rembuk (FBR) dengan harga Rp 100 ribu. ”Karcis itu dibeli untuk menarik pungutan. Satu lembar karcis dibayar dengan harga Rp 10 ribu,” bebernya.

Saat ini, polisi masih memeriksa S. Melakukan pengembangan terkait perannya di dalam organisasi itu. ”Kita dalami unsur pidananya,” ungkapnya.

Polisi sudah menyegel bangunan yang dijadikan sekretariat FBR untuk proses penyelidikan. ”Kita segel dan memberikan tanda garis polisi supaya tidak ada lagi yang masuk ke sekretariat itu,” ujar Kadek Adi.

Dikatakan, keberadaan mereka di Pasar Mandalika sangat meresahkan para sopir dan pedagang. Sehingga kerap terjadi perkelahian antara sopir truk dengan anggota dari organisasi tersebut. ”Makanya kita melakukan penindakan terhadap aksi premanisme,” ujarnya.

Apalagi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah mengatensi untuk menindak aksi premanisme yang melakukan pungutan liar. Perintah langsung dari Presiden Joko Widodo.

Sementara, S mengaku dia memiliki wilayah untuk menarik pungutan terhadap sopir truk yang parkir. Dia memberikan karcis dan menarik pembayaran Rp 10 ribu. ”Saya diberitahukan untuk menggunakan karcis supaya aman,” kata S.

S mengaku saat menarik pungutan tanpa melakukan paksaan dan pengancaman. ”Lillahhitaala, pak tidak pernah,” kata dia.

Saat ditanya mengenai kewenangannya memungut parkir terhadap sopir truk, S tidak bisa menjawab. Dia hanya terdiam. ”Hhmmm. Gak tahu apa-apa saya, pak,” jawabnya.

Sementara itu, pemiik truk Ibu Nengah mendukung upaya kepolisian memberantas aksi premanisme. Karena cukup meresahkan. ”Jangan tanya saya saja. Coba tanya para sopir. Pasti mereka resah,” katanya.

Menurutnya, kasihan para sopir yang baru datang tiba-tiba digedor untuk menyerahkan uang parkir. ”Para sopir belum turunkan barang. Sudah dalam kondisi capek dan lelah. Sudah digedor serahkan uang. Kasihan kan mereka,” tuturnya.

Kadang para sopir tidak mau memberikan uang. Tetapi, tetap dipaksa. ”Kadang-kadang sering mereka berantem gara-gara dimintai uang,” ungkapnya.

Para sopir yang diminta pungutan parkir terkadang tidak menggunakan karcis. Satu kendaraan dikenakan tarif Rp 10 ribu. ”Itu untuk sekali masuk. Terkadang kita juga dimintai di pintu masuk wilayah Pasar Mandalika. Itu terjadi bertahun-tahun,” ungkap Nengah. (arl/r1)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks