alexametrics
Kamis, 13 Mei 2021
Kamis, 13 Mei 2021

Ini Pengakuan Ali yang Menikam Istrinya Hingga Meninggal

Api cemburu telah membuat MAA (inisial, Red) alias Ali gelap mata. Panas hati membuatnya menyambar pisau yang biasa digunakan berjualan buah, kemudian dihujamkan ke leher sang istri Halimatussa’diah. Kini dia sedang mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.

————

SEBELAS tahun lalu, MAA mengenal Halimatussa’diah. Dia dikenalkan oleh rekannya. Satu bulan kemudian, mereka menjalin hubungan spesial. ”Sebelum pacaran saya melakukan pendekatan kurang lebih tiga minggu. Setelah satu minggu kenal baru kita jadian (pacaran),” tutur Ali.

Setelah sebulan pacaran, Ali mempersunting wanita pujaan hatinya itu. Mereka mulai membina rumah tangga awal tahun 2010.  ”Awal menikah kita bahagia saja,” tuturnya.

Mereka tinggal bersama di salah satu rumah di Kelurahan Moncok Karya, Ampenan. Dia yang berprofesi sebagai pedagang buah, mampu menafkahi istrinya. “Istri saya juga kadang ikut berjualan dengan saya,” ujarnya.

Selama 11 tahun membina rumah tangga, Ali dan Halimatussa’diah dikaruniai dua orang anak. Masing-masing berumur sembilan tahun dan enam tahun. ”Sekarang tinggal dengan neneknya,” ujarnya.

Rumah tangganya mulai berantakan setelah memergoki sang istri Halimatussa’diah dengan laki-laki lain. ”Saya pernah lihat dia jalan sama cowok,” ujarnya.

Dari situ, rumah tangga  mereka sedikit retak. Sering terjadi cek-cok. Ali pun menceraikan Halimatussa’diah. ”Tetapi, empat bulan kemudian rujuk lagi,” tuturnya.

Saat rujuk, Halimatussa’diah bukannya menerima dengan ikhlas. Halimatussa’diah meminta uang Rp 20 juta. ”Demi anak-anak bisa kumpul lagi. Saya berikan Rp 20 juta agar bisa rujuk,” kata Ali .

Setelah rujuk, Halimatussa’diah ternyata belum berubah. Dia tetap menjalin berhubungan dengan laki-laki lain yang diduga sebagai pacarnya. ”Saya lihat dari chat-nya,” ungkapnya.

Tetapi Ali tetap bersabar. Sementara, Halimatussa’diah malah meminta diceraikan lagi. “Istri saya ini sering kali meminta cerai. Tetapi, saya tidak mau,” ujarnya.

Singkat cerita, Jumat (16/4) lalu, Halimatussa’diah ikut sang suami berjualan buah di Jalan Adi Sucipto, Rembiga, Mataram menggunakan mobil pikap. Namun, saat berjualan Ali melihat istri hanya memainkan handphone.

Setelah handphonenya dicek, ternyata Halimatussa’diah chatting-an dengan laki-laki lain. Ali pun menahan sabar yang teramat dalam.

Ditegurnya sang istri. Dinasehati, agar tidak berhubungan dengan laki-laki lain. Tetapi, Halimatussa’diah malah melawan. ”Saat saya nasehati, dia menjawabnya dengan kasar. Dia bilang ke saya, kalau dia tidak akan jualan lagi dan pergi sama cowok lain,” tutur Ali.

Mendengar jawaban itu, Ali naik pitam. Dia gelap mata. Tangannya segera meraih pisau di dekat buah dan menghujamkannya di bagian leher istrinya.

Sang istri pingsan bersimbah darah. Dalam kondisi kalut seperti itu, Ali mengangkat istrinya ke atas mobil. “Waktu itu saya panik,” terangnya.

Dia sempat membawa istrinya pulang ke rumah di wilayah Moncok Karya, Ampenan. Sesampai di rumah pikirannya sedikit tenang, lalu membuang handphone istrinya. ”Saya sempat membawa ke Rumah Sakit Katolik St Antonious, Karang Ujung, Ampenan. Tetapi tidak diterima. Saya serahkan diri ke Polsek Ampenan,” tuturnya.

Dia meminta maaf kepada pihak keluarga. ”Saya tidak memiliki niat untuk membunuh,” akunya. (arl/r1)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks