alexametrics
Jumat, 26 Februari 2021
Jumat, 26 Februari 2021

Entah Apa yang Merasuki Mantan Anggota Dewan NTB Ini

MATARAM-Perbuatan mantan anggota dewan berinisial AA, sungguh tidak terpuji. Pria 65 tahun itu diduga telah mencabuli anak kandungnya sendiri Melati (bukan nama sebenarnya, Red).

Kasus tersebut sudah ditangani Polresta Mataram atas laporan korban. ”Kita sudah tetapkan sebagai tersangka,” kata Kasatreskrim Polresta Mataram Kompol Kadek Adi Budi Astawa, Rabu (20/1).

AA dijerat pasal 76 E Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juncto pasal 82 ayat (2) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan kedua atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Di dalam Pasal 76 E tersebut dijelaskan, setiap orang dilarang melakukan kekerasan, memaksa, tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul. Dipidana dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara. ”Dalam pasal 76E itu sudah terpenuhi. Makanya kita bisa jerat dengan pasal 82 ayat (2) Perpu Nomor 1 Tahun 2016,” jelas Kadek Adi.

Dalam pasal 82 ayat (2) disebutkan, dalam hal tindak pidana sebagaimana yang tertera dalam pasal 76E yang dilakukan orang tua/wali, orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga, pendidik, dapat ditambah sepertiga dari ancaman pidana yang terdapat dalam pasal 76E. ”Hukuman bisa diperberat makanya kita juga terapkan pasal 82 ayat (2) itu,” kata dia.

Kasus dugaan pencabulan itu terjadi Senin (18/1) siang sekitar pukul 15.00 Wita. Lokasinya di rumah korban di wilayah Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. ”Saat itu kondisi rumah sedang sepi,” jelasnya.

Saat itu Melati sedang sendirian di rumah. Ibunya sedang dirawat di rumah sakit atau opname. Sementara kakaknya menunggu sang ibu di rumah sakit. ”Kondisi sepi itu dimanfaatkan terduga pelaku,” ujar Kadek Adi.

Dalam laporan polisi disebutkan, AA jarang pulang ke rumah istri keduanya tersebut. Dia biasanya pulang ke rumah istrinya yang lain.

Tetapi Senin (18/1) itu dia datang untuk memberikan uang kepada Melati. Kebetulan sang anak butuh uang untuk membayar biaya les. ”Pelaku duduk di sofa dan memanggil korban,” kata dia.

Lantas AA meminta sang buah hati duduk di sofa. Dipeluknya Melati layaknya bapak dan anak pada umumnya. ”Setelah itu korban disuruh mandi,” ujarnya.

Saat Melati mandi, AA masuk ke dalam kamar. Usai mandi, dengan kondisi masih mengenakan handuk, Melati kaget melihat bapaknya sudah tidur di kasur kamarnya.

Di situ, AA meminta korban membuka handuk dan melakukan perbuatan tidak senonoh. ”Pelaku berbuat cabul di kamar korban,” terang Kadek Adi.

Saat diperiksa polisi, AA membantah telah mencabuli anaknya sendiri. ”Meski dibantah, kami masih terus melakukan pemeriksaan,” katanya.

Penyidik Satreskrim Polresta Mataram sudah melakukan visum dalam terhadap alat vital korban. Hasilnya terdapat sobekan tidak beraturan. ”Memang seperti itu hasilnya,” jelasnya.

Terpisah, penasihat hukum korban Asmuni mengatakan tindakan AA sangat tidak berperikemanusiaan. Pengacara kondang ini menyampaikan, kondisi psikologis anaknya masih trauma. ”Korban terus menangis mengingat apa yang telah dilakukan bapaknya,” tutur Asmuni.

Seharusnya, kata dia, seorang bapak memberikan perlindungan kepada anak. Tetapi tindakan AA malah sebaliknya. Apalagi AA pernah 20 tahun menjadi anggota dewan. ”Saya tidak habis pikir, mengapa seorang tokoh dan pernah duduk mewakili rakyat di DPRD NTB melakukan tindakan seperti itu terhadap anaknya,” katanya penuh heran.

Pengacara bergelar doktor hukum ini mengapresiasi tindakan cepat Polresta Mataram menindaklanjuti laporannya. ”Kami mendukung tindakan Polresta Mataram mengusut kasus ini sejelas-jelasnya,” ujarnya. (arl/r1)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications   OK No thanks