alexametrics
Selasa, 16 Agustus 2022
Selasa, 16 Agustus 2022

Kasus Kredit Fiktif BPR NTB Aikmel Berpotensi Memunculkan Tersangka Baru 

MATARAM-Kejaksaan Negeri Lombok Timur (Kejari Lotim) masih mendalami peran pihak lain dalam kasus kredit fiktif di PD BPR NTB Cabang Aikmel tahun 2020-2021. “Masih terus dikembangkan. Kalau potensi adanya pengembangan ke tersangka lain itu pasti ada,” kata Kasi Intelijen Kejari Lotim Lalu Mohammad Rasyidi, Rabu (20/4).

Namun, pengembangan itu harus diperkuat minimal dua alat bukti. Agar unsur tindak pidana korupsinya terpenuhi. “Makanya tunggu hasil pembuktian terhadap dua tersangka yang sudah kita tetapkan terlebih dahulu. Dari situ juga nanti bakal muncul pengembangannya,” ujarnya.

Sejauh ini Kejari Lotim telah menetapkan dua tersangka. Yaitu Kasi Pemasaran BPR NTB berinisial AM dan bendahara UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Pringgasela berinisial S. Keduanya sudah ditahan.

Baca Juga :  Satu Maling Motor Ditangkap, Dua Masih Dikejar

Sejauh ini peran kedua tersangka sudah jelas. S, selaku bendahara UPTD Dinas Pendidikan di Kecamatan Pringgasela mengajukan permohonan kredit untuk 20 guru ke BPR NTB Cabang Aikmel. Setiap guru mengajukan kredit Rp 50 juta. Ternyata data guru yang diajukan hanya manipulasi.

Sedangkan AM diduga bekerja sama dengan kepala seksi pemasaran BPR NTB Cabang Aikmel. Pada kasus ini AM memfasilitasi pencairan kredit yang diajukan S.

Pencairan kredit fiktif itulah yang dijadikan sebagai kerugian negara. Totalnya Rp 1 miliar lebih. “Kerugian negara itu muncul berdasarkan hasil audit dari Inspektorat Lotim,” jelasnya.

Sementara itu, penasihat hukum AM Herman Sorenggana mengatakan, mendukung upaya jaksa membongkar peran pihak lain dalam kasus itu. Karena kliennya hanya sebagai korban. “Harusnya yang bertanggung jawab adalah kepala cabangnya. Klien saya menjalankan perintahnya,” kata Herman.

Baca Juga :  Polda NTB Luncurkan Operasi Patuh Gatarin 2020

Dia telah menganalisa berkas pemeriksaan terhadap kliennya. Menurutnya, kepala cabang BPR yang memerintahkan untuk melakukan analisa kredit yang diajukan S. “Tugas klien saya ini sebagai pemasaran bukan sebagai analis kredit. Dia melakukan itu karena perintah dari atasan untuk meloloskan kreditnya,” tandasnya. (arl/r1)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/