alexametrics
Senin, 3 Oktober 2022
Senin, 3 Oktober 2022

Bawa 2,3 Ons Sabu dari Sumut, Nyabu di Rusunawa, Residivis Dicokok Polisi

MATARAM-Tim Ditresnarkoba Polda NTB menangkap pria berinisial RF, 31 tahun. Residivis kasus narkoba ini diduga menyelundupkan narkoba dari Sumatera Utara (Sumut).

”Total barang bukti yang diselundupkan 230 gram atau 2,3 ons dan 88 butir ekstasi,” kata Kabid Humas Polda NTB Kombespol Artanto.

Pria asal Kediri, Lombok Barat (Lobar), itu ditangkap di salah satu rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) di wilayah Kecamatan Sandubaya, Mataram. Dia tertangkap bersama dua rekannya berinisial I dan A. ”Saat ini masih dalam proses penyidikan,” kata dia.

Dirresnarkoba Polda NTB Kombespol Deddy Supriadi mengatakan, pengungkapan itu dilakukan berdasarkan laporan dari masyarakat terkait dugaan penyelundupan sabu dari luar daerah. ”Laporan itu kami kelola dengan baik. Lalu melakukan penangkapan,” kata Deddy.

Baca Juga :  Dewan Dukung Penegak Hukum Selidiki Dugaan Penyimpangan JPS Gemilang

Saat digeledah, polisi menemukan tiga bungkusan narkoba di dalam tas berwarna hitam. Dua bungkus berisi sabu dan satu bungkus berisi ekstasi. ”Tas itu milik RF. Berisi sabu 230 gram dan pil ekstasi 88 butir. Juga ada uang Rp 1,85 juta,” jelasnya.

Pengakuan RF ke polisi, barang haram itu dibawa dari Sumut. Rencananya akan diedarkan sendiri. ”Sebelum diedarkan kami langsung melakukan penangkapan. Jadi belum sempat diedarkan,” bebernya.

Hubungan antara RF dengan A dan I itu adalah pertemanan. Pria bertato itu hanya meminjam kamar di rusunawa milik A untuk digunakan sebagai tempat menggunakan sabu. ”Mereka sempat memakai di rusunawa itu,” ungkapnya.

A dan I tidak mengetahui kalau RF membawa sabu dari Sumut. Pria bertato di tangan kanannya itu membawa sabu melalui perjalanan darat. ”Dibawa sendiri dengan menumpang bus dari Sumatera menuju Lombok,” jelasnya.

Baca Juga :  Sambil Bawa Dua Balita, Pasutri di Mataram Curi Motor buat Beli Sabu

RF mengaku baru kali pertama menyelundupkan sabu dari luar daerah. Namun, sejauh ini penyidik masih melakukan pendalaman terkait jaringan RF di luar daerah. ”Kami sudah memetakan jaringannya. Semua masih kami kembangkan,” kata Deddy.

Berdasarkan hasil penyidikan RF sudah ditetapkan sebagai tersangka. Sedangkan A dan I direhabilitasi. ”Hasil tes urine mereka positif,” katanya.

RF dijerat pasal 114 dan atau pasal 112 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. (arl/r1)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/