alexametrics
Senin, 18 Januari 2021
Senin, 18 Januari 2021

Otak Pabrik Sabu Lotim Buronan Interpol, Kabur dari Brunei-Malaysia

MATARAM–Terbongkarnya pabrik sabu sekala rumahan di Pringgasela, Lombok Timur (Lotim) menyeret nama MY alias Jenderal Yusuf. Nyatanya Yusuf bukan penjahat “kaleng-kaleng”. Dia kini mendekam di Lapas Mataram pernah berurusan dengan Interpol.

Dia pernah melakukan aksi kejahatan di Malaysia dan Brunei Darussalam. Di dua negara itu, Jenderal Yusuf melakukan aksi pencurian. Bahkan, di Malaysia dia sampai membunuh korbannya. ”Dia ini buronan (Interpol),” kata Helmi sambil menunjuk si Jenderal yang mengenakan baju tahanan warna merah.

Jenderal Yusuf yang merupakan warga Pringgasela pernah bekerja sebagai TKI di Malaysia dan Brunei Darussalam. Nah, saat dia diduga belajar membuat sabu. ”Apa yang didapatkan di Malaysia dia reduksi di sini dan mengajarkan caranya ke Ustad,” ujarnya.

Helmi menerangkan, bahan sabu itu dipesan sejak sebulan lalu. ”Kita masih dalami berapa banyak sabu yang telah mereka produksi,” katanya.

 

Koordinasi dengan Lapas Mataram

 

Jenderal Yusuf pun dijemput di Lapas Mataram. Dia tercatat sudah menjalani hukuman selama 4 tahun dari 10 tahun masa hukumannya. ”Ketika kita tahu pemeran utamanya adalah Jenderal yang berada di lapas, pihak lapas langsung bertindak dan mengamankan si Jenderal,” kata Helmi.

Menurutnya, tanpa pergerakan pihak Lapas Mataram, bisa saja si Jenderal menghilangkan barang bukti. Handphone yang digunakan untuk mengendalikan produksi sabu disita. ”Tanpa bantuan pihak lapas mungkin kita sudah kehilangan jejak untuk membuktikan keterlibatan si Jenderal,” jelasnya.

Kepala Lapas Mataram Susanni mengatakan, pihaknya bersama Polda NTB berkomitmen yang sama untuk memberantas narkoba. Jika ada informasi adanya keterlibatan narapidana, pihaknya selalu sigap membantu. ”Kami selalu berkoordinasi untuk memberantas narkoba,” kata Susanni.

Terkait Jenderal Yusuf bisa menggunakan handphone Susanni tidak membantahnya. Yang pasti, kata dia, pihak lapas sudah berupaya maksimal untuk tidak memberikan para napi memegang handphone. ”Napi memiliki beribu cara untuk meloloskan handphone ke dalam lapas,” ungkapnya.

Dia mengaku, setiap minggu, petugas lapas merazia warga binaan. Namun, mereka tetap saja bisa memegang handphone.

Susanni tidak mengetahui jika sejauh ini ada petugas lapas yang ikut bermain menyelundupkan handphone ke lapas. ”Jika ada dan terbukti saya akan tindak,” tegasnya.

Kini, 11 orang yang ditangkap sudah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka dijerat pasal 114 ayat (2) dan atau pasal 112 ayat (2) dan atau pasal 132 ayat (1) dan atau pasal 118 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara. (arl/r1)

Berita Terbaru

Enable Notifications   OK No thanks