alexametrics
Rabu, 8 Desember 2021
Rabu, 8 Desember 2021

Ditanya Fee Proyek Benih Jagung, Husnul: Saya Tak Terima Apa pun

MATARAM-Mantan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB Husnul Fauzi menjadi saksi mahkota dalam perkara korupsi pengadaan benih jagung tahun 2017. Dia yang juga menjadi terdakwa dalam kasus tersebut bersaksi untuk dua rekanan: Direktur PT Sinta Agro Mandiri (PT SAM) Aryanto Prametu dan Direktur PT Wahana Banu Sejahtera (WBS) L Ihwanul Hubi di Pengadilan Negeri Tipikor Mataram, Selasa (23/11).

Husnul yang merupakan kuasa pengguna anggaran membeberkan bagaimana proses pelaksanaan proyek dari Kementerian Pertanian (Kementan) itu berjalan. Pada tahun 2017, Distanbun NTB mendapatkan jatah pengadaan benih jagung sebanyak 1.320 ton. Total anggarannya Rp 48,25 miliar.

Proyek itu dilaksanakan dua tahap. Tahap pertama dikerjakan PT SAM dengan anggaran Rp 17,25 miliar dan tahap kedua oleh PT WBS dengan total anggaran Rp 31 miliar. ”Semua penunjukan langsung,” kata Husnul.

Penasihat hukum Aryanto Prametu, Emil Siain kemudian menanyakan proses PT SAM mendapatkan proyek tersebut. Husnul menerangkan, sebelum PT SAM ditunjuk, dia didatangi Direktur Pembenihan Tanaman Pangan pada Kementan Bambang Sugiharto. ”Saat Bambang datang dia memberitahukan kalau ada orang nanti yang mau ikut proses proyek. Namanya Diahwati,” terang Husnul.

Keesokan harinya, Diahwati datang ke kantornya. Dia ingin berpartisipasi mengikuti pengadaan tersebut. ”Tetapi, saya pertanyakan ke Diahwati, apa perusahaannya. Apakah ada pengalamannya. Tetapi, Diahwati menjawab tidak memiliki pengalaman,” jelasnya.

Karena tidak memiliki pengalaman, sehingga dia menyarankan Diahwati untuk membantu Aryanto Prametu menyediakan distributor benih. Saat pertemuan itulah, Husnul menelepon Aryanto untuk bertemu dengan Diahwati. ”Saya arahkan (Diahwati) untuk bisnis to bisnis dengan Aryanto,” tuturnya.

Saat itu, Diahwati dan Aryanto bertemu di ruangannya. Membicarakan ketersediaan benih. Terkait itu, Emil mempertegas mengapa PT SAM ditunjuk sebagai rekanan. Husnul mengatakan saat itu PT SAM merupakan perusahaan yang berpengalaman melakukan pengadaan di bidang pangan. Juga memiliki catatan baik dalam pengadaan. ”PT SAM adalah perusahaan yang bagus keuangannya,” ujarnya.

Mendengarkan itu, Emil menjabarkan Aryanto tidak sanggup mengerjakan proyek tersebut ke Husnul. Alasannya tidak adanya ketersediaan benih jagung.

”Kalau yang itu saya lupa. Perasaan tidak pernah saya dengar kata tidak sanggup,” kelit Husnul.

Emil kemudian menanyakan soal fee proyek. Apakah Husnul menerima fee proyek atau tidak. Husnul langsung menjawab tegas. “Tidak ada saya terima apa pun,” kilahnya.

Begitu juga dengan uang yang diduga mengalir ke pejabat Distanbun NTB. ”Saya tidak tahu itu. Sama sekali tidak tahu,” tegasnya.

Mendengar jawaban itu, Emil pun terdiam. Emil tidak menjabarkan adanya dugaan aliran fee proyek benih jagung yang dimaksud. ”Ya, sudah. Cukup,” kata Emil dengan nada rendah. (arl/r1)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks