alexametrics
Sabtu, 18 September 2021
Sabtu, 18 September 2021

Lutfi Ramli, Kaling Karang Kateng Mataram yang Viral karena Cilok Pejabat

Siapa sangka, idenya yang sederhana membuatnya menjadi perbincangan semua orang. Tak hanya di seputar Kota Mataram, bahkan ia masuk berita beberapa media nasional. Dialah Lutfi Ramli, pedagang bakso Cilok yang juga Kepala Lingkungan Karang Kateng Kelurahan Punia.

HAMDANI WATHONI, Mataram

Lutfi Ramli tengah memegang handphone saat didatangi Lombok Post di pangkalannya di Jalan Airlangga, Sabtu (31/7) lalu. Lutfi terlihat tak sendirian. Ia ditemani istrinya berjualan.

Salah satu pelanggan datang, ia seketika melepas handphonenya langsung melayani pelanggan. “Ciloknya Rp 10 ribu,” ujar salah satu warga. Ia pun melayani pelanggannya dengan ramah dan penuh senyum.

Kepada Lombok Post, Eka, salah satu pelanggan Cilok Pejabat buatan Lutfi mengaku ia sudah berlangganan lama. Bukan karena penjual cilok tersebut kini sedang ramai diperbincangkan. “Ciloknya memang enak, makanya saya suka,” ungkap Eka.

Lutfi mengaku, jualan Ciloknya sudah sepekan terakhir ini memang laku keras. Ia kebanjiran pesanan dari pelanggan. Semenjak ia memutuskan berjualan setiap hari dengan menggunakan setelan jas layaknya seorang pejabat. Beberapa instansi bahkan sampai memesan khusus agar ia datang.

Menggunakan peci hitam, jas, dasi, celana kain hitam serta sepatu pantopel membuatnya terlihat rapi. Berbeda dari pedagang cilok pada umumnya. “Sudah delapan hari saya mengenakan setelan jas ini,” ucapnya tersenyum.

Lutfi mulai berjualan bakso Cilok sejak 2014. Namun, ia memilih menggunakan jas setelah mendapat saran salah satu kakaknya.

Ya, kakaknya yang memiliki salon menyarankannya agar menggunakan pakaian layaknya pejabat untuk berjualan. “Dia menyarankan saya begitu karena kebetulan saya juga memang ada jabatan jadi Kepala Lingkungan,” tutur anak bungsu dari enam bersaudara ini.

Dua hari pertama, ia mengaku merasa sempat malu dan minder. Terlebih setelan jas yang ia kenakan harganya cukup murah. Sepatu pantopel ia beli dengan harga Rp 70 ribu. Jas yang ia kenakan itu pun pemberian seseorang.

“Makanya kakak saya yang pertama cukup keras menolak. Istri juga mengaku sempat malu melihat saya jualan pakai jas,” akunya.

Namun ia berupaya menjelaskan jika pilihannya menggunakan jas hanyalah salah satu strategi pemasaran. Tujuannya untuk mencari nafkah bagi keluarga. Benar saja, setelah tiga hari menggunakan jas berjualan, dagangannya laku keras. Ia yang semula bisa berjualan per hari Rp 300-500 ribu ternyata mendapatkan hasil yang berlipat.

“Bisa sampai Rp 1 juta per hari jualannya. Kalau dulu hanya buat dua kilogram, sekarang bisa sampai empat kilogram,” ujar ayah satu anak tersebut.

Ia pun kemudian makin dikenal semenjak viral di media sosial. Alumni SMKN 5 Mataram yang pernah menjadi anggota Paskibra Kota Mataram tersebut akhirnya mendapat dukungan kakak dan istrinya yang semula meragukan keputusannya.

“Bahkan karena sudah viral Senin sore Pak Sandiaga Uno mau video conference dengan  saya. Kebetulan dihubungkan oleh pak Taufan Rahmadi,” ungkap pria yang dulu sempat jadi staf Kantor BPBD NTB itu.

Sandiaga menurut informasi yang ia dapatkan ingin berdialog langsung dengannya dan memberikan support atau kreativitasnya berjualan di tengah pandemi korona. Ia dinilai kreatif dan mampu melihat peluang yang ada untuk menjalankan usahanya.

“Makanya Alhamdulillah, dari yang awalnya sempat malu justru sekarang merasa percaya diri,” tandasnya. (*/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks