alexametrics
Sabtu, 18 September 2021
Sabtu, 18 September 2021

Lebih Dekat dengan Cucu Maulanasyeikh HM Djamaludin

Pengalaman Panjang di Luar Negeri Modal Besar Kelola Yayasan

Djamaluddin tidak tumbuh di lingkungan pondok pesantren. Bidang keilmuan yang ia pilih juga bukan agama. Low profile dan memiliki gaya hidup sederhana. Dia memiliki cara sendiri yang mungkin berbeda dalam membantu meneruskan perjuangan kakeknya Maulanasyeikh TGKH Zainuddin Abdul Madjid.

 

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

 

Di tengah kesibukan mempersiapkan acara tasyakuran nasional HUT NWDI ke- 86, HM Djamaluddin menyempatkan diri bertemu penulis koran ini. Wawancara santai berlangsung di kediamannya di Lingkungan Lauk Masjid, Kelurahan Pancor, Kecamatan Selong.

Djamaluddin merupakan putra keempat dari pasangan almarhum HM Djalaluddin dan Hj Siti Rauhun Zainuddin Abdul Madjid. Sejak kecil ia bermukim dan menempuh pendidikan di Mataram. Setelah selesai di SMAN 1 Mataram, ia melanjutkan pendidikan ke ITB Bandung.

Di tengah menempuh pendidikan di ITB, ia mendapat beasiswa untuk kuliah di Monash University, Melboune, Australia. “Saya mengambil jurusan electrical dan computer system engineering,” tuturnya.

Lelaki kelahiran Pancor, 15 November 1973 ini tumbuh di lingkungan sekolah yang jauh dari ketenaran sebagai cucu ulama besar, pendiri organisasi terbesar di NTB. Seingatnya, hampir tidak ada perlakuan teman-teman dan gurunya yang mencolok. Sampai pada suatu hari saat ia duduk di bangku SMA, ada seorang guru non muslim yang justru menceritakan pada seisi kelas sosok kakeknya. Kejadian itu sangat berkesan bagi Djamaluddin.

Jangan kira Djamaluddin bersedih karena perlakuan yang biasa itu. Karena belakangan ia menyadari betul, justru hal itulah yang ia inginkan. Tumbuh tanpa adanya perlakuan yang berbeda sebagai cucu Maulanasyeikh membuatnya lebih mandiri dan bergerak secara alami.

“Memang ada positifnya saya tidak di Pancor. Karena tidak ada tekanan. Dan Maulanasyeikh sendiri selalu memberikan izin atas pilihan saya untuk sekolah di luar,” jelasnya.

Kembali ke pendidikan. Setelah mendapat gelar Bachelor of Engineering di Australia pada tahun 1998, ia tak kembali ke Lombok. Melainkan bekerja di salah satu perusahaan komputer di Jakarta. Beberapa tahun di sana, ia kemudian mendapat tawaran untuk bekerja pada salah satu perusahaan komputer di Korea Selatan.

Tiga tahun di Negeri Ginseng, ia memilih kembali untuk melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya. Di sana, ia mendapat gelar Magister in Information Technology (M.kom) pada 2007. Di sana jugalah ia bertemu dengan jodohnya Hj Dukha Yunitasari.

Yang menguatkan langkah Djamaluddin kembali ke Pancor adalah pesan kakeknya Maulanasyeikh TGKH Zainuddin Abdul Madjid. Pesan itu berisi tentang kebebasan untuk memilih keahlian apapun yang ditekuni. “Karena kemampuan dan keahlian itu dibutuhkan untuk mengembangkan NWDI,” tuturnya.

Sehari-hari Djamaluddin lebih sering terlihat mengenakan kemeja putih polos, celana hitam, dan kopiah hitam. Seperti kesederhanaan dalam memilih pakaian, nada bicaranya juga datar, namun terarah. Ketika bekerja, ia sangat fokus. Sedikit bercanda, namun memiliki selera humor yang tinggi.

Gambaran umum tentangnya itu berbanding lurus dengan bidang yang ia tekuni. Saat bekerja sebagai seorang programmer, ia hanya berhadapan dengan komputer. Berdua saja. Bertiga dengan kecerdasannya. Memang sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia memiliki ketertarikan dan kemampuan lebih di bidang sains. Khususnya matematika.

Dengan segudang pengalaman bekerja sebagai seorang progmmer di luar Lombok, pada tahun 2009 ia kembali memenuhi panggilan keluarga untuk membantu melanjutkan perjuangan organisasi. Tak lama di Pancor, pada 2013, ia diminta menggantikan kakaknya Hj Siti Rohmi Djalilah menjadi Ketua Yayasan Pendidikan Hamzanwadi Pondok Pesantren Darunnahdlatain (YPH PPD) NW Pancor saat itu.

“Karena saat itu bu wagub (Hj Siti Rohmi Djalilah) menjabat menjadi Ketua DPRD Lotim,” jelas Djamaluddin.

Saat pertama kali menerima permintaan itu, ia sempat menolak. Alasannya, karena saat itu ia masih bekerja sebagai seorang progmmer di PT Newmont Nusa Tenggara. Selain itu, memang ia merasa belum siap untuk memimpin yayasan pendidikan organisasi terbesar di NTB.

Namun karena pilihan hanya jatuh padanya, ia mengiyakan dengan kondisi mendapat pendampingan dari pengurus yang sudah berpengalaman. Kata Djamaludin, sistem pengelolaan yayasan yang memberikan lembaga pendidikan mengelola madrasahnya sendiri juga memudahkan dan mengurangi beban yayasan.

Djamaluddin menerangkan, puluhan tahun ia telah bekerja sebagai seorang profesional IT programmer. Menakhodai pekerjaan sebagai profesional tentu sangat jauh berbeda dengan sistem kerja organisasi yang berbasis sosial dan semangat gotong royong. “Di sinilah awalnya saya banyak belajar untuk berkompromi,” jelasnya.

Dan dengan cepat ia mampu beradaptasi. Sampai saat ini, ia terus berupaya dan mengajak generasi muda NWDI untuk meneruskan nilai-nilai perjuangan sang kakek Maulanasyeikh TGKH Zainuddin Abdul Madjid.

Selain itu, impian yang tengah ia perjuangkan saat ini adalah menyetarakan kualitas lembaga pendidikan yang bernaung di bawah yayasan. Karena selama ini, ada yang maju sekali, dan yang tertinggal sekali. “Jika tidak mampu setara, minimal tingkatan perbedaannya tidak terlalu jauh,” ujar Djamaluddin. (*/r5)

 

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks