alexametrics
Minggu, 27 September 2020
Minggu, 27 September 2020

Buang Stigma Negatif, Yuk, Bantu Pasien Korona Agar Lekas Sembuh!

Persoalan menghadapi Covid-19 bukan saja mencegah penyebarannya. Tapi juga bagaimana untuk tidak memberi stigma. Khususnya kepada mereka yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) maupun orang dalam pemantauan (ODP).

 

WAHIDI AKBAR SIRINAWA, Mataram

 

”Itu sesuatu yang pasti berat bagi mereka,” kata Lalu Yulhaidir. Ketua Himpunan Psikologi (Himpsi) NTB.

Stigma merupakan ciri negatif. Yang menempel pada pribadi seseorang. Sekarang ini, di tengah pandemi virus Korona, tak jarang melekat pada mereka yang berstatus PDP maupun ODP. Tak sampai di sana, sitgma juga diberikan kepada keluarga mereka.

Yulhaidir mengatakan, stigma muncul hanya dari satu arah. Tanpa dikonfirmasi, sehingga menimbulkan kesimpulan liar. Dampaknya tentu merugikan mereka yang mendapat label tersebut.

OPD, PDP, maupun keluarga mereka, ketika medapat stigma, mendapat beban yang berlipat ganda. Bagaimana harus memikirkan kesembuhan atas penyakit yang dideritanya. Kemudian seperti apa kehidupan sosial mereka di masyarakat.

”Apalagi ketika sudah terpublikasi dengan sangat luas,” ujarnya.

Yulhaidir mengatakan, kita perlu sangat berhati-hati menyikapi kondisi sosial akibat pandemi Covid-19. Jangan pernah sekalipun berpikir dengan memberi stigma, bisa menimbulkan perasaan bahagia. Atau menumbuhkan rasa waspada.

Yang terjadi adalah sebaliknya. Stigma yang terlontar akan menguatkan energi negatif. Secara otomatis, energi tersebut akan berbalik. ”Kalau yang keluar negatif, maka yang diterima ke dalam juga negatif. Itu sederhananya,” tutur Yulhaidir.

Lebih lanjut, proses dalam pemberian stigma biasanya tanpa disertai fakta. Data maupun informasi yang tidak kuat. Pelabelan atau stigma ini datang akibat pikiran reaktif. Yang cenderung emosional.

Kondisi tersebut rawan terjebak pada distorsi kognitif. Berpikiran secara berlebihan dan tidak rasional. ”Dalam pikirannya dikatakan pokoknya dia seperti itu, padahal kan belum tentu. Kesalahan berpikir ini bisa merusak diri kita sendiri,” ucapnya.

Ketika melakukan pemberian stigma pun, sebenarnya orang tersebut sedang membenturkan ego dan superego. Antara moral yang dipegang dengan kepanikan sehingga membuat berpikir kita sangat terbatas.

Dengan kondisi pandemi Covid-19 seperti ini, Yulhaidir menilai segala sesuatunya bisa menjadi netral. Tapi tafsiran dari orang-orang tertentu yang membuatnya menjadi negatif maupun positif. ”Contoh saja misalnya ODP, mereka kan belum tentu kena. Tapi karena stigma yang sudah kuat, akhirnya kita memblok interaksi dan memperlakukan mereka seolah-olah positif,” jelas Yulhaidir.

Dalam psikologi sosial, Yulhaidir menyebut istilah sensing culture. Di mana orang akan cepat mempercayai hal-hal di permukaan, apalagi dengan muatan informasi negatif. Misalnya, mengenai informasi seseorang yang positif.

”Tunjukkan support sosial kita. Menguatkan orang-orang yang memang sekarang ini dalam posisi lemah,” kata dia.

 

Terganggu Stigma Negatif

Persoalan stigma ini sempat dituturkan PDP positif berinisial MZ. MZ merupakan pasien nomor 106 yang positif terjangkit virus Korona. Sekarang ini bukan hanya ia maupun keluarganya, namun semua orang dalam kondisi psikis yang terguncang. Akibat adanya pandemi Covid-19.

Dengan kondisi seperti sekarang, MZ menilai faktor yang paling penting setelah seseorang dinyatakan positif Covid-19 adalah psikologi pasien.

PDP positif harus ditumbuhkan rasa percaya dirinya. Jauhkan mereka dari pikiran yang macam-macam. Dan terakhir, faktor sikap masyarakat tempat bermukim, sangat berperan sekali dalam menunjang penyembuhan pasien Covid-19.

 

Gotong Royong Bantu Keluarga Pasien

Persoalan empati ini juga diharapkan gugus tugas Covid-19 Kota Mataram, untuk tumbuh di masyarakat. Beruntung, meski belum semua, sudah ada sebagian masyarakat yang mendukung mereka, yang berstatus ODP maupun PDP.

”Ada di Taman Sari dan Getap,” kata juru bicara gugus tugas Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa.

Warga di kedua wilayah tersebut, memberi dukungan kepada masing-masing keluarga. Yang berstatus PDP positif akibat virus Korona.

Dukungan diberikan dengan memberikan sembako, berupa beras, telur, hingga mie instan. Kemudian, di Getap, beberapa warga membelikan gas sampai pulsa listrik, untuk mereka yang menjalani isolasi mandiri di rumah.

Suwandiasa mengatakan, gugus tugas terus mengimbau masyarakat. Untuk tidak memberi stigma kepada mereka yang melakukan isolasi mandiri. Sebaliknya, warga diharapkan bisa memberi dukungan dan saling bekerjasama, agar penanganan Covid-19 bisa dilakukan dengan maksimal.

”Tanpa partisipasi dan kerja sama masyarakat, pemerintah tidak mungkin bisa mengatasi persoalan ini,” kata Suwandiasa. (*/r3)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Penataan Kawasan Wisata Senggigi Dimulai

Penataan kawasan wisata Senggigi direalisasikan Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Barat (Lobar). Sayang, dari tujuh proyek dalam perencanaan, hanya lima yang bisa dieksekusi.

LPPOM MUI NTB Target Sertifikasi Halal 125 Usaha Rampung Tahun Ini

”Rinciannya, dari Dinas Perindustrian NTB dan pusat sebanyak 75 usaha, serta Dinas Koperasi Lombok Barat sebanyak 50 usaha,” katanya, kepada Lombok Post, Rabu (23/9/2020).

Solusi BDR Daring, Sekolah Diminta Maksimalkan Peran Guru BK

Jika terkendala akses dan jaringan internet, layanan dilaksanakan dengan pola guru kunjung atau home visit. ”Di sanalah mereka akan bertemu dengan siswa, orang tua, keluarga. Apa permasalahan yang dihadapi, kemudiann dibantu memecahkan masalah,” pungkas Sugeng.

Subsidi Kuota Internet, Daerah Blank Spot di NTB Pertanyakan Manfaat

”Kalau jangkauan towernya luas, tentu ini sangat menunjang sekaligus mendukung pemanfaatan kebijakan pusat,” tandasnya.

Anugerah Pewarta Astra 2020 Kembali Digelar

Astra mengajak setiap anak bangsa untuk menebar inspirasi dengan mengikuti Anugerah Pewarta Astra 2020. ”Di NTB sendiri kami membina warga Kelurahan Dasan Cermen yang merupakan wilayah Kampung Berseri Astra. Harapannya, masyarakat dapat menggambarkan dukungan Astra untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih optimis demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa,” ujar Gusti Ayu.

Pilwali Mataram, HARUM satu SALAM dua MUDA tiga BARU empat

Pengundian nomor Pasangan Calon (Paslon) Wali Kota Mataram dan Wakil Wali Kota Mataram berjalan di bawah protokol Pandemi Covid-19 dengan ketat, pukul 19.00 wita-selesai semalam.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...
Enable Notifications    Ok No thanks