alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Polres Mataram Bongkar Bisnis Narkoba, Modus Toko Baju Padahal Jual Sabu

Ditengah Pandemi Covid-19, tim Satresnarkoba Polresta Mataram tak kendorkan operasi. Mereka berhasil mengungkap kedok bandar sabu asal Karang Bagu. Pasangan suami istri kompak jual sabu dengan berkedok jual baju di toko yang disewanya.

====

Jumat malam (1/5) tim Satnarkoba Polresta Mataram mengejar seorang pengendara sepeda motor di wilayah Cakranegara. Orang tersebut diduga sebagai pengedar narkoba. Namun, tim Satnarkoba Polresta Mataram kehilangan jejak.

Selanjutnya tim yang dipimpin Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson berspekulasi mengembangkan perkara lain. Mereka menyasar salah satu rumah BTN Griya Taman Puri Kekeri Blok P, Dusun Kekeri Timur, Gunungsari, Lombok Barat (Lobar).

Tim mendapatkan informasi, di kawasan itu bakal ada terjadi transaksi narkoba. Dua anggota diminta untuk melakukan penyelidikan.

Keesokan harinya, Sabtu (2/5),  sekitar pukul 05.00 Wita, tim menggerebek rumah tersebut. Rumah milik pasangan suami istri (Pasutri) berinsial H dan AS itu digeledah.

Saat penggeledahan disaksikan langsung aparat dusun setempat. Dirumah itu, ditemukan bekas pipa kaca, uang yang disimpan di beberapa tempat dengan jumlah sekitar Rp 9 jutaan, satu buah handphone Nokia, sepeda motor merek Mio dan N-Max. ”Kami menduga uang tersebut merupakan hasil penjualan narkoba,” jelasnya.

Insting Elyas cukup tajam. Pasutri itu tidak mungkin bergerak sendiri. “Kami coba kembangkan,” ujarnya.

Tim melakukan interogasi dilokasi. Keterangannya, pasutri yang berdomisili di Karang Bagu tersebut ternyata hanya karyawan biasa. Dia bekerja sebagai penjual baju di salah satu toko milik keluarganya. Mereka berinisial NF dan MS. ”Mereka itu pasangan suami istri,” jelasnya.

NF dan MS  membuka sebuah toko baju di Jalan Terusan Bung Hatta, Gegutu Rembiga, Selaparang, Mataram. ”Ayo kita langsung ke lokasi,” kata Elyas mengajak tim dengan meringkus Aini dan Heriawan.

Pasutri yang diduga sebagai kurir tersebut menunjukkan lokasi tokonya.  Tepat di depan toko terdapat mobil berwarna hitam terparkir. Rupanya, terdapat MS yang sedang menunggu istrinya untuk membuka tokonya.

”Stop, jangan bergerak,” kata salah seorang tim satnarkoba dengan sigap.

Mobil MS digeledah. Di dalam mobilnya tak terdapat barang bukti narkoba. Tim hanya menemukan uang Rp 12,8 juta lebih di kantong sebelah kirinya.  Ditambah, handphone yang dikuasainya.

Saat dilakukan penggeledahan, tiba-tiba datang istrinya NF. ”Ada apa ini,” tanya NF.

Dengan sigap, tim meringkus NF. Mobil yang dikendarai NF digeledah. Alhasil ditemukan barang bukti narkoba jenis sabu yang disimpannya di dalam tas warna hitam bertuliskan Volcom.

Di dalam tas tersebut terdapat ikat rambut yang di dalamnya terdapat satu buah klip berisikan tiga plastik berisi sabu. Beratnya masing-masing 3,66 gram, 1,36 grarm, dan 1,08 gram sabu. Di dalam tas hitam tersebut juga ditemukan pulpen yang didalamnya terdapat pipa kaca yang masih berisikan padatan sabu dengan berat 1,77 gram.

”Dimana lagi barang buktinya,” tanya Elyas.  NF tidak menjawab apapun. Itu membuat Elyas semakin geram.

”Mana kunci tokonya,” pinta Elyas ke NF.   “Ini pak,” kata NF menyerahkan kunci.

Toko pakaian  itu digeledah. Baju-baju tergantung rapi. Semua digeledah. Lubang-lubang hanger digeledah dengan teliti.

Saat masuk di ruang gudang, ditemukan dua buah timbangan digital warna abu bertuliskan 200 gram. Satu buah alat pres atau pemecah sabu, tiga buah pipet plastik besar yang ujungnya telah diruncingkan, gunting, dan enam bendel plastik bening.

Selain menyita alat-alat pemecah dan penghisap sabu, tim juga menyita dua buah CPU, satu alat recorder, delapan handphone yang ketiga hanphone tersebut tak memiliki SIM Card. Ditambah lagi, alat recorder, dan tas hitam berisi uang Rp 2,96 juta, serta tas hitam bertuliskan Mango Rp 6,38 juta; tas bertuliskan Caliber berisikan uang Rp 1,05 juta, terakhir dompet warna hijau merek billabong berisikan uang Rp 7,7 juta lebih.

”Dari hasil operasi itu, kita sita sekitar Rp 40 juta uang mereka. Diduga, semuanya hasil dari penjualan narkoba,” ungkapnya.

Setelah menggeledah toko, tim menggeledah rumahnya di salah satu perumahan  di Gunung Sari. Di rumahnya, dia menyita dua mobil dan tujuh sepeda motor. ”Semua kita amankan sebagai barang bukti, kami menduga ini adalah hasil dari penjualan narkoba,” ucapnya.

Sementara itu, dua ATM yang disita masih akan dikembangkan. Rencananya, akan berkoordinasi dengan PPAT untuk melihat transaksi mereka. ”Saya yakin mereka ini bandar besar,” ujarnya.

Menurutnya, tak pernah disangka, kalau pasutri yang berdomisili di Karang Bagu itu menjalankan bisnis narkoba. Meskipun, mereka memiliki usaha toko baju. ”Toko baju ini hanya kedoknya saja. Padahal, di dalam toko itu dia memecah narkoba untuk diedarkan,” ungkapnya.

Dari pengakuannya, mereka sudah menjalankan bisnis tersebut satu tahun lalu. Suaminya  yang bekerja sebagai PNS di  Lobar membantunya. ”Suaminya diberikan uang Rp 1 juta per hari untuk uang happy-happy,” ungkapnya.

Sementar asutri H dan A sering diminta untuk mengantarkan sabu ke beberapa tempat. Dia juga kerap diminta NF  untuk memecah barang di gudang toko baju tersebut. ”Pemecahannya dilakukan di toko milik NF,” jelasnya.

NF mengaku mengambil barang dari seseorang di Lombok Timur (Lotim). Tetapi, itu perlu dibuktikan. ”Kita masih kembangkan kasusnya,” pungkasnya. (arl/r2)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Pemda di NTB Wajib Daftarkan Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan

"Seluruh tenaga kerja di NTB, baik yang ada di lingkungan pemerintah atau pun swasta, baik sektor formal maupun informal wajib mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan," tegas Wisma.
Enable Notifications    Ok No thanks