alexametrics
Minggu, 19 September 2021
Minggu, 19 September 2021

Kisah Riswan Hadi Saputra, Alumni Unram yang Membuka Sekolah Alam

Di kalangan para pencinta alam di NTB, Wawan sapaan Riswan Hadi Saputra sudah tidak asing lagi. Ia pernah menjabat Ketua Grahapala Rinjani Unram dan masih menjadi anggota sampai sekarang. Di tengah aktivitasnya menjadi dosen, ia ternyata membuka sekolah alam bagi siswa di wilayah pedalaman Hutan Batukliang.

HAMDANI WATHONI, Mataram

Wawan sekilas tampak seperti orang biasa. Namun kecintaannya terhadap alam dan lingkungan sangat luar biasa. Ia dan alam tak bisa terpisahkan begitu saja. Meski kini ia sibuk menjalani aktivitasnya sebagai dosen di Akademi Ilmu Pelayaran Nusa Tenggara (AIP-NUSRA).

Namun di tengah kesibukannya tersebut, ia selalu menyempatkan diri berbaur dengan alam. Khususnya hutan. Hampir tiap pekan Wawan datang ke kawasan hutan yang ada di wilayah Batuliang Lombok Tengah.

Bukan tanpa maksud ia datang ke sana. Alumni USM Universiti Sains Malaysia (USM) itu masuk ke hutan untuk mengajar anak-anak kampung yang ada di sana.

“Kalau datang ke hutan memang sudah menjadi kebiasaan saya. Tetapi untuk mengajar anak-anak desa yang ada di sana, saya terinspirasi oleh seseorang inisial AL,” akunya kepada Lombok Post.

Ia mengaku kebiasaannya datang ke hutan untuk menenangkan pikiran. Namun, ia suatu ketika mendapati banyak anak-anak yang sudah tidak bisa sekolah karena situasi pandemi. Akhirnya ia pun memutuskan untuk membentuk sebuah kelompok belajar bagi mereka.

“Tidak hanya karena pandemi, tetapi anak-anak di Dusun Pondok Gedang Desa Aik Berik Batukliang Utara ini memang cukup jauh untuk menempuh sekolahnya,” beber alumni S1 Kehutanan Unram tersebut.

Anak-anak harus melewati hutan, baru bertemu kampung dan sekolah. Oleh salah satu orang yang menginspirasinya, ia kemudian bertekad untuk memberikan tambahan pengetahuan bagi mereka. Wawan mengajari anak-anak hutan tersebut mata pelajaran umum hingga Bahasa Inggris.

“Yang paling penting, saya buat kelas tentang peduli lingkungan. Bagaimana agar ke depan mereka lebih peduli pada alam dan tidak membiarkan terjadi kerusakan hutan di sekitar tempat tinggal mereka,” tegasnya.

Hutan ditegaskannya adalah kunci keseimbangan alam. Selain itu, hutan juga bisa menjadi sumber kehidupan baik dengan hasil tanaman dan potensi wisatanya. Tanpa harus merusak hutan itu sendiri.

Manusia menurutnya bisa hidup berdampingan dengan hutan dengan tetap menjaga kelestariannya. “Alhamdulillah anak-anak desa senang dengan pelajaran yang saya ajarkan,” syukurnya.

Terbukti, hanya dalam kurun waktu beberapa bulan, sudah 30 anak yang kini menjadi muridnya. Dari yang awalnya hanya belasan. Agar mereka tidak jenuh belajar, Wawan mengajak anak-anak desa itu belajar di lokasi air terjun hingga di tepi sungai. “Mereka punya semangat yang luar biasa,” puji pria yang menimba Ilmu Lingkungan Eviromental Science USM tersebut.

Sarana prasarana sekolah anak-anak Desa Aik Berik dikatakannya sangat terbatas. Hanya ada satu Madrasah Ibtidaiyah di kampung itu. Dengan ruangan tiga kelas sehingga mereka giliran masuk. Jadi dengan sekolah alam, anak-anak senang dapat tambahan belajar.

Untuk bisa sekolah di SD Negeri, siswa minimal harus punya kendaraan motor. Karena jaraknya sangat jauh dari tempat tinggal mereka. Puluhan kilometer. Sehingga banyak anak-anak yang terbatas akses belajarnya.

Beruntung ada orang yang peduli dengan nasib abak-anak ini seperti Wawan. Penerima beasiswa sekolah luar negeri dari Provinsi NTB ini menyempatkan diri datang sekali seminggu setiap Hari Senin  Sore. Ia mengajari anak-anak desa itu sampai tiba waktu maghrib.

Wawan berprinsip, harus ada yang menularkan semangat untuk melindungi hutan terhadap anak-anak dan generasi berikutnya. Terlebih, ke depan tantangan yang akan diahadapi alam khususnya hutan sangat berat. Terutama ketika hutan dihadapkan dengan kepentingan pemerintah dan korporasi yang ingin memanfaatkan hutan itu.

Sehingga mulai sejak dini ia tanamkan kepada anak-anak desa di kawasan hutan bagaimana mereka harus tetap punya semangat melindungi hutan miliknya.

Tidak hanya berdampak pada nasib mereka di sekitar desa di masa depan, tetapi juga akan mempengaruhi nasib semua orang yang juga tinggal jauh dari hutan. (*/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks