alexametrics
Selasa, 29 September 2020
Selasa, 29 September 2020

Berbincang dengan Karim, Sopir Truk Angkutan Sayur Lintas Provinsi

Pekerjaan sopir truk penuh tantangan. Sekaligus risiko. Apalagi jika mengangkut muatan ke wilayah barat Indonesia. Namun Kondisi ini tak terjadi untuk jalur ke wilayah Nusa Tenggara Barat. Jalur ini menjadi idaman para sopir truk.

 WAHIDI AKBAR SIRINAWA, Mataram

********************************

30 tahun bukan waktu yang sebentar. Rentang waktu yang membuktikan betapa pengalamannya Supri. Sopir truk asal Jember, Jawa Timur. Menaklukkan kerasnya kehidupan jalanan.

Ia masih berusia 25 tahun ketika dipercaya bosnya mengemudikan truknya. Jenisnya fuso. Yang bisa mengangkut muatan hingga 15 ton sekali jalan. Yang rodanya berjumlah 10.

Truk itu memang bukan kendaraan pertama yang ia bawa. Lima tahun sebelumnya, Supri sudah lihai mengendalikan truk dengan muatan kurang dari 8 ton. Pengalamannya itu membuat ia dipercaya membawa truk dengan ukuran lebih besar.

”Semacam naik kelas gitu lah,” kata Supri lantas tertawa.

Ketika masih membawa truk berukuran kecil, trayek angkutannya hanya di seputar Jawa Timur saja. Situasinya berubah saat ia dipercaya membawa truk fuso. Wilayah pengantaran muatannya menjadi lebih jauh.

Supri pernah bolak-balik Surabaya-Medan untuk mengantar buah-buahan. Dilakukannya selama kurun waktu sekitar lima tahun. ”Itu yang paling jauh jarak tempuhnya,” ujarnya.

Bagi ayah empat anak ini, sopir truk angkutan bukan pekerjaan yang mudah. Mereka harus memiliki mental baja. Tahan banting di jalanan. Hingga harus kuat menahan lapar. Untuk persoalan menahan lapar, kata Supri, dibutuhkan apabila mereka terjebak macet dalam perjalanan. Entah karena ada perbaikan jalan. Atau lamanya bongkar muat di pelabuhan.

Macet berarti pengeluaran untuk makan minum semakin banyak. Begitu juga dengan kebutuhan bahan bakar. ”Uang makan kita kan dijatah. Misalnya uang jalan kita dikasih Rp5,5 juta untuk tiga hari jalan. Ternyata kena macet, di jalan bisa sampai seminggu, ya mau gak mau puasa,” tutur Supri.

Risiko yang dihadapi bukan saja soal lapar. Tapi juga pemalakan hingga penodongan menggunakan senjata tajam di jalan. Dan, kata Supri, jalur yang paling rawan berada di wilayah Sumatra.

Bajing loncat hingga pungutan liar kerap ditemui Supri saat melintas jalur di wilayah Sumatera. ”Jalur merah di sana dah. Kurang-kurang nyali sedikit, rugi besar kita,” ujar pria 50 tahun ini.

Abdul Karim, sopir truk asal Malang, menimpali perkataan Supri. Ia membenarkan kondisi seperti itu terjadi di jalur Sumatera. Mereka kerap menghadapi aksi premanisme. ”Katanya sekarang lebih enak, uda ada jalan tol di sana,” ujar Karim.

Karim menyebut jalur di Sumatra sebagai sarang macan. Ucapannya bukan karena mendengar cerita dari sesama sopir truk, melainkan pengalamannya sendiri. ”Sangar-sangar di sana,” ucap Karim.

Aksi premanisme terjadi di beberapa persimpangan jalan. Mereka kerap meminta uang. Jumlahnya dari Rp2 ribu hingga Rp10 ribu. Bagi sopir truk, nominal tersebut cukup banyak. Apalagi jika harus dikeluarkan berkali-kali.

”Kalau cuma sekali ya gak apa-apa. Tapi pas dulu saya lewat sana, itu sering kena,” ujarnya.

Jika Supri sudah 30 tahun sebagai sopir truk, pengalaman Karim jauh lebih lama lagi. Sudah 46 tahun ia mengemudikan kendaraan besar itu. Sehingga ia hafal harus bersikap seperti apa ketika menghadapi risiko jalanan.

Misalnya aksi premanisme yang kerap ditemuinya, dianggap Karim sebagai risiko pekerjaan. Uang yang mereka minta pun disebutnya sebagai sedekah. Karena itu, ia tak pernah sekalipun mencoba-coba untuk melawan

”Gelagatnya saya hafal, apalagi sudah lama di jalan. Kecuali baru satu atau dua hari ya, mungkin deg-degan,” kata Karim.

Karim memang menghabiskan sebagian umurnya sebagai sopir. Seluruh kehidupannya lebih banyak di jalanan. Di balik kemudi truk berbentuk bundar itu.

Dari sekian pengalamannya, Karim lebih senang jika mendapat muatan untuk dibawa ke Pulau Lombok atau Sumbawa. Perjalannya mudah. Cepat. Dan yang paling utama adalah nihil risiko. ”Perjalanan paling aman itu ya ke sini. Bahkan sampai di Bima sana. Kalau di Sumatra itu sarang macan di sana,” ucapnya.

Ketika mengangkut muatan dari Malang menuju wilayah Sumatra, Karim sudah harus meningkatkan kewaspadaan selepas dari Semarang, Jawa Tengah. Ia akan lebih waspada lagi ketika tiba di Lampung. Memastikan barang muatannya tidak berkurang sedikitpun.

Ia juga harus kuat-kuat menahan kantuk. Tidak bisa sembarangan berhenti di pinggir jalan, kemudian tidur di kabin truk. Karim harus terus melajukan kendaraannya untuk mencari rest area atau pom bensin untuk berhenti.

”Itu juga pilih-pilih lagi. Harus dipastikan pom bensinnya aman, ramai. Kalau gak begitu, bisa-bisa muatan digondol orang,” jelas Karim.

Berbeda dengan jalur arah barat Indonesia, di arah sebaliknya, menuju timur Indonesia, Karim bisa lebih santai. Ketika sudah merasa ngantuk, ia bisa langsung memarkirkan truk di pinggir jalan. Lalu berbaring sejenak. Tanpa perlu merasa khawatir ada maling yang menggasak muatannya.

Karim berani mengambil kesimpulan seperti itu. Sebab sudah 12 tahun terakhir ia bolak balik mengantar muatan. Dari Malang menuju Lombok. Selama itu pula, tak pernah ia mengalami kejadian berupa perampokan atau kemalingan.

”Enak wis kalau ke sini. Aman. Kita berhenti di pinggir jalan, tinggal tidur, masih aman semua barang-barang,” tandas Karim sambil mengisap asap dari rokok kreteknya. (bersambung/r3)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Memenangkan Pilkada dengan Survei

ADALAH sahabat saya satu almamater, Denny JA, yang pertama kali memopulerkan survei untuk pemilihan umum melalui lembaganya yang bernama Lingkaran Survey Indonesia.  Baik untuk pemilihan Presiden, pemilihan kepala daerah, ataupun pemilihan anggota DPR, DPD, dan DPRD.

Kisah Wenri Wanhar, Lima Tahun Kaji Sejarah Borobudur

Borobudur bukan sekadar mahakarya untuk wisata atau ber-selfie ria. Tapi, secara tersembunyi merekam ajaran dan teknologi masa lampau. Wenri menemukan ajaran dan teknologi itu tersebar di pelosok Indonesia.

Lomba Kampung Sehat NTB Bangkitkan Semangat dan Kekompakan

WAKAPOLDA NTB Brigjen Pol Asby Mahyuza mengunjungi dua Kampung Sehat di Sumbawa. Yakni Kampung Sehat Lingkungan Maras, Kelurahan Samapuin, di Sumbawa Besar, dan Kamung Sehat Desa Moyo, Kecamatan Moyo Hilir, di Pulau Moyo.

Pelibatan Tiga Pilar, Kunci Teggakkan Protokol Kesehatan

PENEGAKAN protokol kesehatan terus dimaksimalkan Polres Lombok Barat. Salah satunya dengan mengoptimalkan peran tiga pilar.

Proyek Pembangunan Dermaga Senggigi Tak Jelas

Dermaga Senggigi berpotensi mangkrak lebih lama. Meski Dinas Perhubungan (Dishub) Lombok Barat (Lobar) tetap mengupayakan kelanjutan pembangunannya. ”Mau tidak mau harus kita lanjutkan. Itu kewajiban kita,” kata Kadishub Lobar HM Najib.

Distribusi Bantuan Beras Lelet, Dewan Minta Pemprov NTB Ambil Alih

”Pemda harus secepatnya koordinasi ke pusat, kalau ada kemungkinan ambil alih, take over secepatnya, kasihan masyarakat,” tegas Anggota Komisi V DPRD NTB Akhdiansyah, Minggu (27/9/2020).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.
Enable Notifications    Ok No thanks