alexametrics
Minggu, 20 September 2020
Minggu, 20 September 2020

Tanpa Produk Lokal, JPS Mataram Akan Untungkan Pengusaha Luar

MATARAM-Riuh Jaring Pengaman Sosial (JPS) Kota Mataram makin kencang. JPS dengan nilai Rp 7,3 miliar per bulan itu diminta diganti dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT). “Ganti uang tunai saja,” kata politisi PKPI Kota Mataram Misban Ratmaji, kemarin (4/5).

Usulan itu muncul menyusul JPS Kota dinilai tidak mengakomodir UKM lokal. “Ini yang nikmati proyeknya justru para distributor,” sesal anggota Fraksi Gerakan Berkarya Rakyat Indonesia (GBRI) DPRD Kota Mataram itu.

Komoditi yang ada dalam paket JPS Kota sebagian besar berisi makanan olahan pabrikan. “Jangan-jangan beras dan telur itu untungkan distributor luar NTB atau luar Kota Mataram,” kata Misban curiga.

Begitu pula rencana menaruh ikan kering dalam paket JPS Kota. Faktanya tidak semua JPS berisi ikan olahan yang tadinya direncakanan berisi abon.

Tetapi ada yang berisi ikan kemasan atau sarden. “Supaya bermanfaat dan uangnya bisa berputar karena kalau beli sesuati pasti masyarakat belinya di kampung,” ulas anggota komisi II DPRD kota itu.

Kebijakan Pemkot yang sudah bergulir dalam dua tahapan dinilai minim manfaat ekonomi. Produk yang ada dalam JPS semua olahan pabrikan dan hanya menguntungkan kelompok ekonomi besar. “Lalu nasib UKM dan pedagang kecil kita bagaimana?” sesalnya.

Misban optimis kemanfaatan ekonomi akan dirasakan lebih nyata saat masyarakat menerima uang tunai. “Mereka bisa beli kebutuhan sesuai harapan,” pungkas anggota DPRD Kota Mataram itu.

Kritik isi paket JPS Kota juga dilontarkan politisi PDIP Kota Mataram Nyayu Ernawati. “Dulu katanya akan ada ikan olahan kering bentuknya abon, tetapi yang terima JPS ada yang isinya sarden,” sesalnya.

Ketua Fraksi PDIP Kota Mataram itu kecewa. Sarden dinilai bukan makanan sehat. “Makanan itu pilihan terakhir kalau tidak ada makanan lain, tapi kok masyarakat dikasi makanan yang tidak sehat di tengah pandemi,” cecarnya dengan nada meninggi.

Sementara itu, DPRD Kota Mataram sikapi riuhnya JPS kota dengan menggelar rapat kerja hari ini. Bertempat di ruang sidang Paripurna DPRD Kota Mataram sejumlah pihak diminta hadir antara lain: Pimpinan DPRD, AKD DPRD, dan Ketua Fraksi.

Pemanggilan pun dilakukan antara lain pada Sekda, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Kepala Dinsos, OPD teknis pendata Jaring Pengaman, Inspektorat, dan semua Camat. “Kami akan sampaikan semua temuan di lapangan,” tegas Nyayu. (zad/r2)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Film MOHAN, Ini Dia Official Teasernya

Rumah Produksi Warna tengah merampungkan pembuatan film MOHAN. Film bergenre drama remaja tersebut tengah memasuki fase shooting. Namun demikian sebagai bocoran Warna telah meluncurkan cuplikan Official Teaser nya.

14 Ribu UMKM Lombok Utara Diusulkan Terima Banpres

Jumlah UMKM KLU yang diusulkan menerima bantuan presiden (Banpres) Rp 2,4 juta bertambah. Dari sebelumnya hanya 4. 890, kini tercatat ada 14 ribu UMKM. ”Itu berdasarkan laporan kabid saya, sudah 14 ribu UMKM yang tercatat dan diusulkan ke pusat,” ujar Plh Kepala Diskoperindag KLU HM Najib, kemarin (18/9).

Cegah Penyimpangan, Bupati Lobar Amankan 640 Dokumen Aset Daerah

Dinas Arsip dan Perpustakaan Lombok Barat (Lobar) terus mencari dokumen-dokumen aset milik pemkab. ”Kalau arsip (dokumen) hilang, aset daerah juga melayang,” kata Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Lobar H Muhammad Yamil.

Penuh Sampah, Warga Dasan Geres Turun Bersihkan Sungai

Pola hidup bersih digalakkan warga di Lingkungan Dasan Geres Tengah. Salah satunya melalui program sungai bersih. ”Kita ciptakan lingkungan bersih dan asri,” kata Lurah Dasan Geres Hulaifi, kemarin.

Perintah Menteri, RT Wajib Bentuk Satgas Penaganan Covid-19

Upaya menekan penyebaran virus COVID-19 masih harus gencar. Salah satu kebijakan baru yang digagas adalah mewajibkan membentuk satgas penanganan COVID-19 hingga level kelurahan, dusun atau RT/RW. Satgas tersebut nantinya bertugas mengawal pelaksanaan kebijakan satgas pusat di lapangan.

Senggigi Telah Kembali (Bagian-2)

SELAMA berminggu-minggu “kegiatan tidak berarti ini” dilaksanakan tanpa ada maksud apa-apa kecuali biar sampah tidak menumpuk. Namun keberartian “kegiatan tidak berarti ini” justru menjadi simpul efektif dari kebersamaan dan rasa senasib sepenangungan seluruh komponen yang ikut bergotong royong.

Paling Sering Dibaca

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.
Enable Notifications    Ok No thanks