alexametrics
Minggu, 20 Juni 2021
Minggu, 20 Juni 2021

Inovasi SMKN 3 Mataram, Buat Lampu Berbahan Air Garam

Lampu yang energinya dari air garam menjadi program SMKN 3 Mataram ke depan. Sekolah ini ingin punya andil dalam kampanye hemat listrik yang terus digaungkan pemerintah.

 

ALI ROJAI, Mataram

 

PROGRAM guru tamu dimanfaatkan betul SMKN 3 Mataram. Para guru menyambut baik program dari salah satu mitra sekolah ini untuk pembuatan lampu air garam penghemat listrik. Lampu air garam adalah lampu yang sumber energinya diambil dari air laut. Umumnya lampu ini berbentuk seperti lampu pijar yang biasa digunakan nelayan

“Rencananya lampu ini akan kita produksi di sekolah,” kata Kepala SMKN 3 Mataram Ruju Rahmad, pekan lalu.

Dia menyebutkan, air garam dapat dijadikan media untuk menghasilkan sumber energi elektrik. Pemanfaatan air garam sebagai media yang dapat membangkitkan energi elektrik sudah banyak ahli yang meneliti. Besarnya potensi air laut sebagai sumber energi alternatif. Air garam terdiri atas senyawa kimia yang merupakan ion elektrik. “Ion-ion ini menarik elektron-elektron dan mengalirkannya sebagai arus listrik,” terang Ruju, sapaan karibnya.

Melihat produksi industri yang menjadi mitra sekolah membuat para guru termotivasi untuk memproduksinya secara massal. Cara kerja dari lampu air garam ini juga terbilang cukup mudah. Tinggal mencampurkan air dengan dua sendok garam kemudian dimasukkan melalui lubang yang tersedia. Lampu setara 25 watt  dapat menyala hingga 12 jam.  “Harga lampu ini sekitar Rp 1,5 juta,” terang dia.

Guru tamu yang didatangkan dari Kota Bekasi, Jawa Barat beberapa hari lalu membuat pihaknya memiliki ide untuk merakit dan memproduksi secara massal. Dia sangat yakin guru di sekolah yang dipimpinnya bisa membuat lampu dari tenaga air garam yang dinilai proses pembuatannya tidak terlalu sukar.

Dia menyebutkan, jika tidak ada pandemi Covid-19 pihaknya sudah meminta guru datang ke industri untuk belajar. “Sekarang ini kita belajar rakit lampu ini hanya dua jam per minggu,” ujar dia.

Untuk harga lampu Ruju tidak masalah meski terbilang tinggi. Yang terpenting baginya bisa mencari tahu apa saja komponen dari lampu dan bisa menyala dengan hanya ditaruhkan air garam. “Kalau ada air laut tak perlu kita pakai air garam,” terang dia.

Pada saat guru tamu dari industri  ini ke sekolah dia meminta agar membongkar lampu yang diproduksinya. Sehingga pihaknya bisa tahu apa saja komponen yang ada didalamnya dan cara kerja lampu yang menghasilkan tenaga elektrik. Setelah melihat secara langsung dia optimis para guru bisa membuat lampu serupa dengan kemampuan dimiliki. “Kalau lampu ini sudah bisa dibuat para guru tentu akan ditularkan ke siswa,” terang dia.

Dia melihat lampu ini cukup praktis. Bisa dibawa kemana-mana dengan hanya membawa garam. Jika ingin menyalakan tinggal mencampurkan air dengan garam. Dalam waktu dekat ini dia akan mengirim para guru untuk magang di industri yang menjadi mitra sekolah di Kota Bekasi ini. Karena bagaimanapun lampu ini sangat dibutuhkan masyarakat, terutama saat terjadi pemadaman. “Lampu ini cukup praktis,” singkat dia.

Menurutnya, membuat lampu air garam tidak sulit. Tinggal meniru milik industri yang sudah memiliki hak paten untuk produksi. “Saya rasa dua bulan saja guru magang di industri ini sudah bisa produksi sendiri,” tukas Ruju. (*/r3)

 

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks