alexametrics
Senin, 18 Januari 2021
Senin, 18 Januari 2021

Ini Dia Briptu Zam Zam, Putra NTB yang Bertugas di RSD Covid 19 Wisma Atlet Jakarta

Rasa waswas tertular Covid-19 selalu ada dibenak Briptu M Zam Zam. Satu-satunya putra NTB yang ditugaskan menjadi tenaga kesehatan (Nakes) di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat.

 

ALI ROJAI, Mataram

 

“Sarung tangan saja sobek bisa berbahaya,” kata Zam, sapaan karibnya.

Zam, merupakan anggota kepolisian yang bertugas di Polres Sumbawa Barat. Pria yang lahir dan besar di Lingkungan Perigi, Dasan Agung, Kota Mataram itu merupakan satu-satunya putra NTB yang ditugaskan menjadi tenaga kesehatan di RSDC Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat setelah mengikuti seleksi.

Memiliki latar pendidikan sekolah kesehatan membuat anggota polisi yang pernah tugas di Polda NTB itu diperbantukan menangani pasien Korona di Jakarta.

Zam memulai tugasnya sejak 30 Desember lalu. Dia melayani pasien Korona hingga 15 Februari mendatang. Namun tidak menutup kemungkinan tugas Zam sebagai Nakes di RSDC Wisma Atlet bisa diperpanjang.

Tiap hari, Zam harus melayani pasien Korona di gedung lima RSDC Wisma Atlet. Di gedung tersebut, dikhususkan bagi pasien Korona yang memiliki penyakit bawaan gejala ringan. “Kalau pasien yang memiliki gejala berat ada di gedung enam dan tujuh,” kata pria kelahiran 1994 ini.

Pasien Korona dikelompokkan sesuai dengan gejala dan penyakit bawaannya. Karena, kata dia, jika pasien yang tidak memiliki komorbid atau penyakit bawaan digabung dengan pasien yang komorbid, bisa berbahaya. Penyakit bawaan bisa menular.

Dalam merawat pasien Korona, Zam penuh kehatian-kehatian. Terutama saat menggunakan alat pelindung diri (APD), ia begitu teliti. Mulai dari menggunakan baju hazmat, sepatu boot, kacamata, masker, hingga sarung tangan harus dalam keadaan aman. Sebab, jika ada yang bocor atau terlepas, penularan kemungkinan besar bisa terjadi.

“Sebelum bertugas saya selalu cek APD yang saya gunakan,” ungkap alumni Poltekkes Mataram ini.

Disamping itu, dia juga tidak lupa mengkonsumi vitamin guna menjaga kebugaran tubuh. Sebab, merawat pasien Korona tidak mudah. Selain mempersiapkan obat-obatan dan makanan bagi mereka. Dia juga harus berjibaku menggunakan baju hazmat selama delapan jam tanpa dibuka.

“Kalau mau kecing atau lapar, kita harus tahan,” terang pria lulusan SMKN 8 Mataram ini.

Untuk menghindari buang air kecil, Zam mengurangi minum. Disamping rutin mengkonsumsi vitamin. “Jangan sampai tubuh kita lemah,” kata Zam.

Menangani pasien Korona tidak hanya memberikan obat dan makanan. Namun dia juga meminta pasien berjemur dan melakukan olahraga kecil. Seperti senam, jalan, dan lari-lari kecil. Belum lagi jika ada pasien gejala ringan tiba-tiba berubah memiliki gejala berat, mau tidak mau harus dibawa ke gedung enam.

Dalam satu ruang, pasien Korona diisi maksimal tiga orang. Jika ada yang berstatus suami istri, maka harus satu ruang. Dengan catatan, gejala yang dialaminya sama.

“Kalau ada suami istri memiliki panyakit bawaan berbeda, tidak boleh satu ruang. Harus dipisah ruangannya,” tutur dia.

Di gedung lima, ada 1.050 pasien Korona. Zam merawat pasien Korona dengan memberikan obat. Begitu juga jika ada pasien gejala batuk maka akan diberikan obat batuk.

Usai menjalankan tugas selama delapan jam, Zam juga harus mengikuti berbagai tahapan. Dia tidak langsung melepas baju hazmat, melainkan terlebih dahulu disemprot disinfektan. Baru kemudian sepatu boot yang digunakan disterilkan dengan dicuci.

“Ada tiga tahapan kita lalui selesai bertugas,” ucap dia. Bahkan tiap bulan setiap Nakes dilakukan swab. (*/r3)

Berita Terbaru

Enable Notifications   OK No thanks