alexametrics
Minggu, 20 Juni 2021
Minggu, 20 Juni 2021

Anakku Sayang, Anakku Malang

Fenomena inses bermunculan di NTB. Kekerasan seksual hingga pemerkosaan yang dilakukan orang tua kandung kepada anak. Sayangnya, pemerintah belum ada skema penanganan terbaik bagi anak-anak korban pemerkosaan inses ini.

== == == == == ==

April lalu, Satreskrim Polresta Mataram menangkap M, 56 tahun dari Lingsar, Lombok Barat (Lobar). Ia diduga kuat memperkosa anak kandungnya berkali-kali. Mirisnya lagi, korban juga diperkosa kakak kandungnya dengan inisial A, 21 tahun.

Satu bulan berselang, Mei, Satreskrim Polres Lombok Tengah (Loteng) menangkap HA, 46 tahun, asal Kecamatan Batukliang. Ia memperkosa anak kandungnya sendiri hingga hamil. Peristiwa ini terbongkar setelah korban mengalami pendarahan, di usia kehamilan memasuki tiga bulan.

Peristiwa yang melanggar adat, hukum, dan agama ini, tidak saja terjadi di Pulau Lombok. Di Pulau Sumbawa juga ada. Seperti yang diungkapkan Pendamping Anak pada Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sumbawa Fathilatulrahmah, Minggu (6/6).

Kata Atul, sapaan karibnya, baru-baru ini terjadi juga pemerkosaan kepada anak kandung di Kecamatan Alas. Hingga menyebabkan korban hamil enam bulan. ”Korbannya itu kelas enam SD,” katanya.

Pelaku, yang merupakan bapak kandung korban, tinggal hanya berdua di rumah. Istri pelaku diketahui menjadi buruh migran. ”Ditinggal enam bulan, istrinya bekerja di luar negeri. Ketahuan sama keluarga pas korbannya hamil,” ujarnya.

Atul mengatakan, faktor paling menonjol munculnya perilaku menyimpang itu, berkaitan dengan kemiskinan dan pendidikan rendah. Korbannya kebanyakan anak-anak dari keluarga broken hingga buruh migran.

Mirisnya, anak-anak yang menjadi korban pemerkosaan memilih untuk diam. Tidak menceritakan ke orang-orang terdekat. ”Ada ketakutan dari mereka. Kita pernah temukan, korban yang sudah dua tahun mengalami pemerkosaan, baru ketahuan,” kata Atul.

Dampak pemerkosaan bagi korban sudah sangat buruk. Apalagi ditambah pelakunya merupakan bapak dan saudara kandung. Atul menceritakan, kondisi mental korban berubah setelah mengalami pemerkosaan berulang kali. Perasaan korban kepada pelaku, bukan lagi seperti bapak dan anak.

Ditambah lagi dengan kemungkinan terjadinya perilaku seks menyimpang, yang dilakukan korban. ”Ada perasaan yang berubah. Pernah kejadian bapaknya ditangkap polisi karena perbuatannya. Tapi anaknya nangis, dia bilang, jangan ditangkap bapak saya, saya sangat mencintai bapak saya,” tutur Atul.

Ketua LPA Kota Mataram Joko Jumadi juga mengungkap peristiwa serupa di ibu kota yang ditangani lembaganya. ”Di Mataram ada satu, itu pelakunya bapak kandung. Yang di Lingsar itu juga kita sedang tangani,” kata Joko.

Ia mengatakan, banyak faktor memicu pemerkosaan inses. Mulai dari minimnya pemahaman pola asuh di keluarga, arsitektur rumah yang tidak terdapat ruang privat bagi anak, hingga faktor pribadi pelakunya.

Dari pendalaman kepada korban, kebanyakan pemerkosaan inses dipicu terbatasnya ruang privat. Terutama untuk anak perempuan yang memasuki usia remaja. Korban kerap tidur satu ruangan dengan orang tua. Jikapun ada kamar sendiri, hanya dipisahkan gorden.

”Kasus yang di Lombok Tengah kan seperti itu. Tidur samaan dengan bapak dan ibunya,” ungkap Joko.

Minimnya ruang privat dan kurangnya pemahaman pola asuh hingga masuknya unsur pornografi, membuat pemerkosaan inses banyak terjadi. ”Kalau pola asuh dan hubungan komunikasi terjadi dengan harmonis, saya pikir tidak akan terjadi seperti itu,” imbuhnya.

Harus Ditangani Lebih Serius

Fenomena inses sudah seharusnya mengundang keprihatinan. Pemerintah hingga lembaga terkait, harus segera bergerak. Seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, hingga Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB).

Psikolog Pujiarohman menyebut, harus ada program bersama. Dimulai dari program pencegahan, kuratif, hingga rehabilitasi. Secara spesifik, korban maupun pelaku membutuhkan tempat untuk merawat tempat mereka setelah kejadian.

Korban membutuhkan pendampingan secara intensif. Agar kondisi kejiawaan korban tidak mengarah pada post traumatic stress disorder (PTSD), depresi, maupun penyakit kejiwaan lainnya.

Program preventif sudah seharusnya dilakukan secara masif. Jangan menunggu fenomena ini semakin menjamur. ”Jangan kita menyesal nanti. Ketika punya peran untuk membuat kebijakan, tapi tidak melakukan apa-apa. Bahkan keluarga kita bisa menjadi korban atau pelakunya,” tegas Puji.

Puji mengatakan, anak sangat rawan menjadi korban kekerasan seksual. Karena ketidakberdayaan, secara fisik maupun mental. Fisiknya yang lebih lemah, membuat anak tidak berdaya melakukan perlawanan. Hingga membuat anak dalam kondisi keterpaksaan.

Dalam konteks pemerkosaan inses, secara mental membuat anak kebingungan dan tidak tersiksa secara psikis. Kebingungan disebabkan, secara struktur sosial anak memiliki hubungan keluarga, ada rasa sayang kepada koban. Namun, di sisi lain, tidak menyangka pelaku bisa melakukan pemerkosaan.

”Rasa bingung ini cenderung tidak bisa disampaikan. Akhirnya menutup emosi negatif yang dirasakan, selama dan sesudah kejadian,” jelas Puji yang juga Ketua UPT BPKP Unram ini.

Adapun untuk pelaku, faktor pendidikan hingga tontonan pornografi dan relasi suami istri yang tidak baik, menjadi latar belakang. Hingga terjadi pemerkosaan inses. Rendahnya superego atau nilai moral, membuat dorongan semakin kuat hingga mampu melakukan pelecehan maupun pemerkosaan kepada anak.

Puji mengatakan, fenomena inses seharusnya jadi pembelajaran untuk masyarakat. Namun, masih banyak masyarakat yang tak acuh. Bahkan, tidak sedikit masyarakat yang menggunjing korban atau pelaku. ”Ini membuat korban semakin tersiksa secara psikologis,” bebernya.

Secara psikologis, ada proses asesmen hingga psikoterapi yang bisa dilakukan terhadap pelaku. Bertujuan mencari tahu faktor penyebabnya. Setelah didapatkan, langkah selanjutnya dengan melakukan psikoterapi.

Sayangnya, kesadaran diri mengenai perilaku dari orang-orang yang terindikasi inses, sangat rendah. Mereka belum melihat inses sebagai masalah mental. ”Seperti penyakit fisik Flu. Kalau ingin sembuh ke dokter atau minum obat. Tapi untuk inses, belum sampai ke arah sana,” tutur Puji.

Anak Korban Inses Butuh Penanganan Khusus

Anak korban inses butuh penanganan khusus. Semacam shelter untuk menampung mereka. Sebab, tidak mungkin mengembalikan anak ke rumah, di saat pelakunya merupakan orang tua kandung. Ini berpotensi membuat anak menjadi korban untuk kali kedua.

Kepala DP3AP2KB NTB Hj Husnanidiaty Nurdin mengakui jika kasus inses lebih ganas dari persoalan perkawinan anak. ”Sedih saya. Di Sumbawa banyak, di Lombok juga banyak terjadi,” kata Eny, sapaan karibnya.

Orang tua seharusnya melindungi anak-anak mereka. Memberikan pelajaran yang baik, soal etika hingga budi pekerja. Bukan menjadi dalang dan pelaku pemerkosaan inses. ”Apakah agamanya yang luntur atau pondasi rumah tangganya yang mulai tidak kokoh,” ucapnya.

Eny mengatakan, di kasus perkawinan anak yang selama ini ditangani, ada kecenderungan anak tidak ingin kembali ke rumah. Kondisi serupa pasti dirasakan anak-anak korban pemerkosaan inses. Tidak ada shelter khusus bagi mereka. ”Kenyataan di lapangan, dari diskusi dengan pendamping, itu tetap kembali ke rumah,” ujarnya.

Pemprov sebenarnya sudah meminta kabupaten/kota untuk menyediakan shelter. Dilengkapi dengan psikolog untuk membantu penanganan trauma. Ini juga sesuai dengan arahan dari Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah.

Kata Eny, anak korban tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dampaknya bisa sangat buruk. Tak menutup kemungkinan mereka menjadi pelaku dari lingkaran penyakit masyarakat. ”Penanganan kasus oke, tapi kalau trauma anak tidak ditangani kan percuma. Tidak mungkin juga ditangani di rumah, apalagi ini dampaknya ke mental,” beber Eny. (dit/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks