alexametrics
Senin, 21 September 2020
Senin, 21 September 2020

Idola Baru Wisatawan, Bukit Pal Jepang Terapkan Sistem Booking Online

Manjakan Wisatawan Jaga Kualitas Lingkungan

Begitu dibuka, Bukit Pal Jepang Desa Sapit, Kecamatan Suela, jadi incaran wisatawan. Dalam sebulan, bukit dengan ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut itu sudah didaki 3.550 wisatawan. Ibarat tengah berpuasa, inilah waktunya berbuka, setelah selama pandemi Covid-19 menahan dahaga akan sepinya wisatawan.

 

FATIH KUDUS JAELANI, Lombok Timur

 

SABTU siang yang mendung. Udara dingin di Desa Sapit menusuk hingga ke tulang. Jalan kecil dengan aspal seadanya dipenuhi lalu lalang pendaki yang datang dan pulang. Desa tua yang berada di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut itu sepenuhnya menyuguhkan keindahan. Ada puncak bukit Pal Jepang menjulang ditutupi kabut tebal dari kejauhan. Ada terasering di samping kiri dan kanan jalan yang menawan.

Di tengah hilir mudik para pendaki, Didik Kurniawan, Sekretaris Pokdarwis Langgar Pusaka Desa Sapit tengah sibuk merekap data pengunjung. Lelaki 24 tahun itu mengaku kelimpungan dengan data yang berseliweran. “Pendakian sampai Agustus nanti sudah penuh,” kata Didik pada Lombok Post.

Pengunjung ke Bukit Pal Jepang seperti sebuah ledakan bom atom. Selalu penuh semenjak pertama kali dibuka pada 20 Juni lalu. Di mana waktu itu merupakan hari pertama dibukanya pintu pariwisata oleh Dispar Lotim yang merujuk pada surat edaran Dispar Provinsi.

Sejak saat itu, bukit Pal Jepang selalu dipenuhi pendaki. Dengan perhitungan 150 orang per dua hari satu malam. Pokdarwis Langgar Pusaka Desa Sapit mematok tarif Rp 15 ribu per orang. Dari karcis saja, mereka mendapatkan Rp 2,2 juta semalam. Ditambah parkir Rp 10 ribu per motor. Dengan penghasilan kotor tersebut, hitung saja, berapa yang mereka dapatkan dalam satu bulan dengan total 3.550 pengunjung.

“Alhamdulillah, rasanya seperti hujan setelah dilanda kemarau berbulan-bulan,” terang Didik.

Seolah seperti berkah di tengah wabah. Dampak pandemi Covid-19 yang membuat para pelaku usaha pariwisata terhimpit secara ekonomi kini sudah mulai terbantukan. Tak hanya para pelaku usaha pariwisata, Didik mengatakan, 135 pemuda di desanya bisa bekerja. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa yang tak tahu harus mengerjakan apa karena diliburkan. Selain itu, hasil pertanian masyarakat juga ludes terjual pada para pendaki. Beberapa pedagang juga membuka lapak di area parkir pendakian.

“Semua sangat merasakan dampaknya,” jelasnya.

Pemuda Desa Sapit rata-rata bisa mendapat Rp 500 sampai 600 ribu per bulan dari hasil berjaga. Belum lagi penghasilan-penghasilan lainnya, seperti porter, guide, dan berbagai jenis jasa pendakian lainnya.

 

Pertama Terapkan Booking Online

 

Meski setiap hari camping ground bukit Pal Jepang sesuai kapasitas yang diterapkan selalu penuh, tetap ada saja pengunjung yang mengurungkan niat untuk datang. Atau mungkin terkendala oleh satu dan lain hal.  Di sisi lain, pihaknya juga tegas menolak mereka yang datang tanpa mengenakan masker.

Kata Didik, kendati di satu sisi wisata minat khusus pendakian menjadi pilihan kebanyakan orang, aturan menerapkan protokol kesehatan juga menjadi tantangan tersendiri. Apalagi yang mereka tangani adalah ratusan manusia dengan berbagai keterbatasan pengelola.

“Karena itu dari awal kami melakukan sistem booking online. Jadi tidak ada istilah beli tiket di lokasi,” jelasnya.

Sistem booking online memudahkannya untuk mendata pengunjung. Mulai dari nama, alamat, dan jumlah. Dari sana, Didik bisa mengetahui kebanyakan pengunjung yang datang dari Mataram dan Lobar.

“Hampir 50 persen lebih dari sana,” terangnya.

Tapi meski namanya sistem booking online, bukan berarti Pokdarwis Langgar Pusaka Desa Sapit sudah memiliki aplikasi khusus. Sembari tersenyum, Didik mengatakan, pesannya via whatsapp. Ya, kata online tidak harus memiliki aplikasi. Meski saat ini pihaknya tengah menyiapkan anggaran untuk membeli aplikasi khusus untuk itu.

Dari sistem booking online juga, ia bisa mendapat feedback dari para pengunjung. Kata Didik, inilah yang membuat pengunjung semakin banyak berdatangan. Sampai-sampai, di pertengah Juli lalu, ia sudah menutup booking sampai pertengahan Agustus mendatang.

“Saya belum tahu apakah nanti akan menerima atau tidak,” ujarnya.

 

Justru Baru Dibuka

 

Berbeda dengan bukit-bukit lainnya, Pal Jepang tidak dibuka kembali. Melainkan memang untuk pertama kalinya dibuka. Kata Didik, dibukanya pendakian ke bukit Pal Jepang merupakan penantian yang lama. “Kami sudah mulai mempersiapkan bukit ini sejak 2016 lalu,” jelasnya.

Pembukaan dilakukan oleh Pokdarwis. Namun saat itu, ia tak bisa langsung membuka pendakian. Meski jalur dan segala persiapan lainnya telah dimatangkan. Untuk hal tersebut, Ketua Pokdarwis Langgar Pusaka Desa Sapit Jannatan Firdaus menerangkan, Desa Sapit adalah desa tua bersejarah yang masyarakatnya masih memegang erat adat budaya mereka.

Karena itu, ia butuh sebuah lembaga yang dapat menjadi benteng warga saat desa itu dihujani oleh pendatang. Jangan sampai tanah-tanah dikapling orang asing dan masyarakat jadi penonton di rumah sendiri.

“Pada 2017, kami membuat Lembaga Masyarakat Adatnya,” jelas Jannatan.

Namun lembaga adat saja tidak cukup. Saat ingin dibuka 2018 lalu, gempa bumi melanda. Bencana itu menutup pintu terbukanya Bukit Pal Jepang. Hal serupa terjadi di 2019.

“Ternyata inilah saatnya. Di tengah pandemi yang berdampak besar bagi keberlangsungan hidup para pelaku usaha pariwisata di desa ini,” sambung Didik.

Apa yang dilakukan? Pada saat Covid-19 mulai merebak di Lotim pada Maret lalu, saat semua orang diminta berdiam diri di rumah, mereka justru naik ke atas bukti untuk membersihkan area camping ground. Rasanya seperti sudah mengetahui akan adanya minat wisatawan yang membeludak ke wisata pendakian.

Mengenai hal itu, Didik menerangkan, sebagai anggota Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia, ia mendapat informasi tentang akan adanya tren tersebut. Meski saat itu tak mudah untuk meyakinkan para pemuda untuk bekerja membersihkan bukit, tapi ia memiliki keyakinan tentang hasil yang akan didapatkan. (*/r6)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Simulasi KBM Tatap Muka SMA Sederajat di NTB Pekan Kedua Dimulai

Simulasi KBM tatap muka untuk SMA sederajat di NTB memasuki pekan kedua. ”Sambil kami tetap memantau perkembangan penyebaran Pandemi Virus Korona,” kata Kepala Dinas Dikbud NTB H Aidy Furqan, pada Lombok Post, Minggu (20/9/2020).  

Mendikbud Pastikan Wacana Penghapusan Mapel Sejarah Hoaks

”Tidak ada sama sekali kebijakan regulasi atau perencanaan penghapusan mata pelajaran sejarah di kurikulum nasional,” tegas dia.

HARUM Goda Pemilih Millenial Lewat Lomba Film Pendek dan E-Sport

Bakal Calon Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mencoba menggoda pemilih milenial. Caranya, dengan menggelar film pendek dan e-sport. "Orang yang menggeluti dunia film tidak banyak. Bagi sebagian orang ini ekslusif. Prosesnya panjang," kata Mohan Sabtu malam (19/9) lalu.

Cerita Shaina Babheer saat Memerankan Sosok Kikin dalam film MOHAN

Shaina Azizah Putri dipilih untuk memerankan sosok Kikin Roliskana dalam film pendek berjudul "Mohan". Ini menjadi tantangan baru bagi dara yang sudah membintangi beberapa sinetron dan FTV nasional ini.

“Menara Eiffel”di Desa Seruni Mumbul Lombok Timur Ramai Pengunjung

Pengelola wisata Denda Seruni, Desa Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya tak ingin puas dengan keberhasilannya menyedot wisatawan. Realisasi target PADes Rp 30 juta per bulan harus dapat bertambah.

Bale Mediasi Lotim Damaikan Delapan Perselisihan

SELONG-Permohonan mediasi terus berdatangan ke Bale Mediasi Lotim. “Sudah ada 36 permohonan yang masuk,” kata Koordinator Administrasi Bale Mediasi Lotim Lalu Dhodik Martha Sumarna pada Lombok Post, kemarin (18/9).

Paling Sering Dibaca

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Film MOHAN, Ini Dia Official Teasernya

Rumah Produksi Warna tengah merampungkan pembuatan film MOHAN. Film bergenre drama remaja tersebut tengah memasuki fase shooting. Namun demikian sebagai bocoran Warna telah meluncurkan cuplikan Official Teaser nya.
Enable Notifications    Ok No thanks