alexametrics
Jumat, 26 Februari 2021
Jumat, 26 Februari 2021

Listrik Menyempurnakan Kehidupan Warga Desa Puncak Jeringo di Kaki Rinjani

Butuh memupuk kesabaran hingga sewindu bagi warga Desa Puncak Jeringo untuk bisa menikmati listrik. Mereka menjadi bukti, betapa hidup tak akan pernah sempurna, manakala listrik masih tiada.

Matahari sudah bersiap menuju peraduan. Penanda waktu menunjukkan pukul 18.07 Wita.

Dari arah Jalan Pelabuhan Kayangan, Labuhan Lombok, samar-samar kerlap-kerlip lampu mulai terlihat di Desa Puncak Jeringo, Kecamatan Suela, Lombok Timur. Ahad (31/1/2021) petang lalu, Lombok Post bertandang ke sana. Memacu kendaraan melalui jalan usaha tani sembari menikmati keindahan alam yang tiada tara.

Desa Puncak Jeringo adalah sepotong surga. Berada persis di kaki Rinjani. Pada ketinggian 1.200 meter. Udara di sana begitu sejuk. Khas dataran tinggi. Dari desa ini, keindahan Selat Alas yang memisahkan Lombok dan Sumbawa tersaji di depan mata. Malam hari, kerlap-kerlip lampu kapal penyeberangan yang hilir mudik adalah pemandangan yang tak boleh dilewatkan pemuja keindahan. Dimulai menjelang matahari terbenam.

Baru pada 2009, kawasan tersebut mulai memiliki penghuni tetap. Pemkab Lombok Timur merelokasi warga di Kecamatan Terara dan Sikur ke sana. Sebab, area pemukiman mereka terkena proyek dan genangan Bendungan Pandanduri, salah satu bendungan terbesar di Pulau Lombok. Jadi, desa ini semacam desa transmigran. Tapi transmigrannya penduduk lokal.

Sebagai desa transmigran, tentu saja fasilitas yang ada di desa ini masih terbatas. Jangan disandingkan dengan desa-desa yang sudah mapan. Apalagi di fase-fase awal. Di balik lahan garapan yang subur, pemandangan yang indah, terselip aneka masalah. Macam air bersih yang kerap tiada pada musim kemarau. Dan juga ini. Listrik. Tak ada listrik di sana. Sehingga jadilah desa begitu gelap gulita.

Ah, tentu saja itu adalah cerita lama. Lihatlah kini. Desa Puncak Jeringo punya wajah yang sungguh berbeda. Lampu penerang menyala sepanjang jalan menuju kantor desa. Di depan rumah warga juga terlihat cahaya lampu. Meski tidak seterang lampu penerang jalan, rumah warga yang khas desain rumah transmigran, terlihat lebih ramai.

“Sekarang kita mau kemana saja nggak takut meskipun sudah malam. Lampu sudah ada di mana-mana sama seperti desa lain,” kata Sahrul Ramdan, salah seorang warga desa tersebut pada Lombok Post.

Dia mengajak bertamu ke rumah Sekretaris Desa, Rodi Jayadi. Di sana, bergabung pula Saharudin, marbot masjid Desa Puncak Jeringo. Rona kebahagiaan muncul jelas dari wajah mereka.

“Alhamdulillah, sekarang nggak ada yang disusahkan,” cetus Pak Sekdes tersenyum.

Saat ini kata dia, warga desa merasa punya segalanya. Apalagi dengan tanaman jagung petani yang subur di musim penghujan. “Makanan ada, air ada, listrik ada, apa yang mau disusahkan,” ujar Rodi lagi.

Memang, butuh kesabaran besar bagi warga di sana untuk bisa menikmati listrik. Bayangkan. Delapan tahun mereka berkawan gelap semenjak 2009. Jadi, jangan heran mendapati 508 Kepala Keluarga di sana begitu bersyukur luar biasa manakala listrik pertama kali menyala.

Musabab ketiadaan listrik pula, dulu, banyak warga Puncak Jeringo yang tersebar di delapan dusun tidak betah. Mereka memang bukan orang kota. Tetapi di tempat tinggal sebelumnya, mereka sudah terbiasa hidup dengan listrik sejak kecil. Sehingga mereka merasa kehilangan sangat besar manakala di tempat tinggal yang baru, listrik tidak ada. Karena itu, meski memiliki lahan garapan seluas satu hektare, banyak yang memilih meninggalkan lahan garapan mereka.

Sebagian besar warga akhirnya kerap pulang pergi dari tempat asalnya. Mereka tinggal di Desa Puncak Jeringo hanya ketika musim tanam atau musim hujan dan saat panen. Ketika musim tanam sedang jeda, mereka memilih menumpang ke rumah keluarganya di kampung asal mereka. Begitu berulang-ulang.

“Dengar suara azan pun sulit dulu saat Ramadan. Penerangan masjid pakai lampu seadanya, ” timpal Saharudin.

Akibatnya, desa ini pun lebih sering terlihat sepi. Tak banyak aktivitas. Inilah yang membuat desa ini dulu rentan menjadi sasaran kejahatan pencurian hewan ternak.

Memasuki tahun 2016, asa mulai membuncah. Listrik dengan sumber daya tenaga matahari mulai masuk desa ini. Meskipun dayanya masih terbatas, tetapi beberapa lampu bisa terpasang menerangi lingkungan warga.

“Cuma untuk kulkas dan peralatan elektronik lain nggak bisa,” ungkap Ramdan.

Sehingga warga pun terus menyuarakan harapannya agar jaringan listrik PLN bisa masuk desa. Mereka merasa lelah hidup dengan keterbatasan lantaran ketiadaan listrik. Ruang gerak warga terbatas. Khususnya anak-anak. Jika maghrib tiba, mereka tak boleh ke mana-mana. Para orang tua khawatir dengan kondisi desa yang masih gelap gulita.

Setahun kemudian, harapan warga terjawab. Satu per satu tiang listrik dibawa ke atas dataran tinggi Desa Puncak Jeringo. Kabel berukuran besar menyusul. Warga merasa begitu senang setelah dapat informasi listrik akan menerangi desa mereka. Terlebih ada program subsidi pemasangan KWH Meter. Mereka tak kuasa membendung perasaan gembira.

“Begitu listrik menyala ke rumah kami dengan KWH meter, kami bisa pasang lampu. Bahkan langsung beli TV. Listrik terasa menyempurnakan hidup kami, ” ungkap Saharudin mengenang saat-saat itu.

Dan terbukti. Kehadiran listrik telah berdampak terhadap banyak hal. Kini, tepat tiga tahun setelah listrik menyala di desa tersebut, tidak hanya sosial, tetapi ekonomi warga pun ikut berderap-derap. Warga bisa menjalankan usaha dengan memanfaatkan listrik. Mereka bisa menjual es batu hingga minuman dingin dengan adanya kulkas.

“Kalau sebelumnya kami ngambil di bawah es balok. Kalau nggak laku kan rugi kita yang jualan,” ucap Ramdan yang kebetulan punya kios.

Tukang bangunan juga bisa bekerja lebih mudah memanfaatkan aneka peralatan yang memanfaatkan tenaga listrik. Sehingga pembanguan rumah atau bangunan lain di Desa Puncak Jeringo kian banyak semenjak 2017 lalu.

Belum lagi menjelang maghrib. Anak-anak kini sudah langsung bisa bergegas mengambil mukenah dan peci. Mereka siap-siap menunaikan ibadah salat maghrib berjamaah di masjid dan musala. Suara adzan dari pelantang suara masjid juga menggema ke segala penjuru desa.

“Jalan ke masjid sudah terang. Jadi anak-anak tidak perlu diantar,” tutur Ramdan.

Selepas salat Maghrib, mereka bisa belajar mengaji di rumah kepala Dusun. Anak-anak desa Puncak Jeringo kian percaya diri belajar mengaji karena mereka menggunakan pelantang suara saat melantunkan ayat Alquran. Hal ini sengaja dilakukan agar ada rasa percaya diri bagi anak-anak ketika membaca Alquran.

Selepas mengaji, mereka melaksanakan salat Isya berjamaah di masjid baru kemudian pulang. Dan momen selepas salat Isya menjadi waktu yang paling ditunggu. Khususnya bagi para ibu rumah tangga. Malam hari menjadi waktu yang penuh kehangatan bagi warga. Karena mereka biasanya berkumpul di rumah warga yang memiliki televisi.

Oh ya. Memang tak semua warga desa sekarang punya TV di rumah mereka. Sehingga ada yang sebagian menumpang menonton televisi di rumah tetangga. Tapi, dari sanalah kehangatan tercipta.

Begitulah. Berkat listrik, warga Puncak Jeringo kini begitu berbahagia. (hamdani wathoni/r6)

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications   OK No thanks