alexametrics
Sabtu, 28 Mei 2022
Sabtu, 28 Mei 2022

Teror Anak Panah Hantui Bumi Gora

TEROR panah di ujung timur Bumi Gora tak pernah benar-benar hilang. Fenomena ini bahkan telah ada dari 2017 dan terus berlanjut hingga 2022, tanpa ada solusi yang benar-benar konkret dari pemerintah dan aparat penegak hukum (APH). Ironisnya, pelaku maupun yang menjadi korban masih berusia anak.

——

Peristiwa tiga tahun lalu masih membekas di ingatan Man, pemuda asal Kecamatan Woja, Dompu. Tepat Rabu malam, di pekan kedua Maret, Man yang saat itu masih berstatus sebagai pelajar di salah satu madrasah di Dompu menjadi korban teror panah. ”Kena di sini,” kata Man menunjuk punggung sebelah kanannya.

Setelah terkena panah, Man langsung dilarikan kawan-kawannya ke Puskesmas Dompu. Katanya, ketika itu ia memang sedang nongkrong dengan teman-temannya. Tiba-tiba dari arah belakang satu panah melesat dan langsung menghujam punggungnya.

Man mengaku tidak memiliki musuh, di sekolah maupun kampungnya. Ia juga tidak sedang bermasalah dengan siapapun saat itu. ”Gak ada. Waktu itu ya bergaul biasa-biasa saja,” ujarnya.

Man bukan satu-satunya korban teror panah di Dompu. Satu tahun setelahnya, di 2020, remaja bernama Putra dari Desa Bara, Kecamatan Woja, juga menjadi korban. Panah sepanjang sekitar 20 sentimeter tertancap di punggung kanannya.

Panah tersebut dilepas orang tak dikenal. Ketika Putra berboncengan dengan temannya hendak menuju RSUD Dompu. Usai jadi sasaran, Putra langsung menuju Mapolsek Woja untuk melapor, dengan kondisi panah masih tertancap di punggungnya.

Teror panah misterius semakin menjadi pada 2021 dan berlanjut di awal 2022 ini. Korbannya masih sama, dari anak-anak. Salah satunya anak Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUKM) Dompu, menjelang akhir tahun 2021. Ia menjadi korban ketika hendak memarkir sepeda motor di depan rumahnya.

Kemudian di 2022, yang menjadi korbannya adalah remaja berinisial WG. Saat itu korban sedang duduk di pinggir jalan, di gang kuburan cina, Kelurahan Dorotangga. Panah yang dilepaskan pelaku menancap di pinggang korban.

Bergeser ke arah timur, teror serupa terjadi di Bima. Bahkan sudah ada sekitar 10 kasus yang terjadi hanya dalam rentang waktu empat bulan saja, dari Januari hingga April 2022. Serupa dengan di Dompu, para korbannya merupakan anak-anak. Terkena panah yang dilepas orang tak dikenal.

Dari hasil pendalaman yang dilakukan kepolisian, ditemukan dua motif dari teror panah di kota maupun Kabupaten Bima. Yakni iseng dan dendam. ”Kalau di kota (Bima), motifnya iseng. Sasarannya sembarang, dilihat ada (anak) nongkrong, ada kesempatan pelaku langsung panah,” kata Kasi Humas Polres Bima Kota Iptu Jufrin belum lama ini.

Teror di Bima maupun Dompu sebenarnya memiliki kemiripan pola. Pelaku selalu melakukannya malam hari, sambil mengendarai sepeda motor. Sasarannya selalu anak-anak yang sedang nongkrong di pinggir jalan.

Kesan Pembiaran dan Lemahnya Pencegahan Teror

Korban pemanah misterius dalam lima tahun terakhir mencapai puluhan anak. Kondisi ini tentu menimbulkan paranoid dan trauma sosial di masyarakat Dompu dan Bima. ”Publik dibuat tidak tenang. Sewaktu-waktu, di mana dan kapan saja bisa menjadi korban panah tanpa alasan,” kata Antropolog Politik Alfisahrin.

Teror panah hingga menjatuhkan banyak korban disebut Alfi telah mengarah pada gejala patologi sosial. Apalagi pola teror panah tidak tetap dan sistematis terkait target individu atau kelompok tertentu. Pemilihan korban bersifat random.

Artinya, siapa saja bisa berpotensi jadi sasaran. ”Orang tua, remaja, anak yang berada di ruang publik maupun privat terancam, bisa cedera atau bahkan kehilangan nyawa mereka,” tuturnya.

Katanya, rantai kekerasan yang terus berulang tentu menimbulkan pertanyaan. Lebih tragisnya lagi, pelaku yang sempat ditangkap aparat penegak hukum, rata-rata masih bersekolah di tingkat SMP dan SMA.

”Kalau kita lihat dari antropologi, kriminalitas yang terjadi di kalangan remaja dikenal dengan istilah juvenile delinquency atau kenakalan remaja,” sebut pria dengan gelar doktor ini.

Baca Juga :  Pemkot Bima Gelontorkan Rp 6,5 Miliar untuk Bangun Masjid

Kekerasan sosial, apalagi ketika dilakukan anak, dipicu beragam faktor. Mulai dari krisis identitas, kontrol diri lemah, pendidikan rendah, longgarnnya pengawasan orang tua. Ada juga akibat pengaruh teman sebaya, status sosial rendah, hingga kualitas lingkungan yang menganggap kekerasan dan kriminalitas merupakan hal biasa.

Sehingga Alfi menilai, kasus panah misterius di Dompu maupun Bima, memberikan gambaran eksplisit adanya struktur sosial yang rusak. Juga otoritas kekuasaan politik yang melemah. Sehingga terkesan terjadinya pembiaran atas teror yang terjadi dalam lima tahun terakhir.

Alfi kemudian mempertanyakan visi Bima Ramah dan Dompu Mashur yang dicanangkan kepala daerah di dua wilayah tersebut. Seharusnya, kedua bupati memanfaatkan privilese, otoritas, hingga diskresi kekuasaan yang besar, agar kejadian panah tidak terjadi. Apalagi hingga berulang setiap tahun dalam lima tahun terakhir.

”Visi itu tidak boleh hanya jadi gagasan langit. Temukan formulasi dan momentum tepat, untuk menghilangkan fenomena yang mengancam masyarakat ini,” tegas pria yang juga sebagai Wakil Direktur di Politeknik Medica Farma Husada Mataram ini.

Dari perspektif antropologi, Alfi menyebut penyelesaian konflik sosial tidak selalu berhasil dengan pendekatan struktural, formal, maupun birokrasi. Sehingga seluruh pihak perlu memahami akar dan sumber kekerasan yang terjadi.

Kasus panah misterius dari sisi antropologi disebabkan ikatan kekerabatan sosial yang longgar. Pola hidup yang individual juga relasi sosial agama antara tokoh dengan masyarakat cenderung kaku, menjadi pemicunya. Akibatnya, nilai agama, budaya, dan adat yang selama ini menjadi norma serta sumber kearifan maupun pedoman hidup, tidak lagi dipegang teguh.

Buka Ruang Kreativitas Lebih Besar untuk Remaja

Awal April lalu, dua terduga pelaku pemanah misterius ditangkap jajaran Reskrim Polres Dompu. Satu di antaranya, dengan inisial SF masih berusia 13 tahun. SF beraksi bersama rekannya, yang terpaut tujuh tahun lebih tua darinya.

Dua bulan sebelumnya, di Februari, Polres Dompu juga telah mengamankan pelajar berusia 19 tahun dengan inisial P. Kuat dugaannya P sebagai dalang di balik aksi teror panah pada 28 Desember 2021 di sekitar bundaran Taman RSUD Dompu.

Rangkaian penangkapan terduga pelaku juga terjadi di Kota Bima. Minggu kedua April, Polsek Rasanae Barat mengamankan AF, 18 tahun. Remaja tanggung ini diamankankan polisi saat mabuk-mabukan dan kedapatan memiliki busur serta anak panahnya.

Di Februari 2022, Polsek Sape di Bima juga sempat menangkap DI, 18 tahun. Sebelum tertangkap, DI beraksi dengan memanah Ar, 15 tahun hingga mengakibatkan luka di bagian dada korban.

Aktivis perlindungan perempuan dan anak Joko Jumadi menyebut pemerintah seharusnya merespons lebih cepat fenomena panah misterius. Apalagi aksi tersebut sudah terjadi di lima tahun terakhir ini.

”Saya sudah peringatkan soal ini sejak lama, tapi belum ada pergerakan yang benar-benar menyeluruh,” kata Joko.

Apa yang dilakukan aparat penegak hukum dengan sejumlah penangkapan terhadap terduga pelaku, patut mendapat apresiasi. Hanya saja, upaya tersebut masih belum cukup.

Perlu upaya lain yang dilakukan pemerintah. Agar polisi tidak sekadar menjadi semacam pemadam kebakaran dalam teror panah di wilayah Dompu dan Bima. Salah satunya dengan membuat ruang kreativitas seluas-luasnya untuk anak di kedua wilayah tersebut.

Mereka yang menjadi terduga pelaku didominasi anak-anak usia 13 tahun hingga 19 tahun. Dalam ilmu psikologi, anak pada usia tersebut masuk pada fase pencarian identitas diri. Selain itu, mereka juga lebih banyak bergaul dengan teman dibandingkan orang tuanya.

”Kalau tidak ada ruang kreasi, fasilitas-fasilitas untuk menumbuhkan kreativitas mereka, sulit untuk meredam fenomena ini,” tandas Joko.

Pemda Gak Boleh Lemah Hadapi Teror!

Antropolog Politik Alfisahrin meminta pemerintah di Bima dan Dompu mengambil langkah konkret merespons teror panah. ”Supaya tidak ada lagi jatuh korban,” kata Alfi.

Baca Juga :  Pendapatan Daerah dari Kawasan Wisata Senggigi Terus Menurun

Ada beberapa saran yang kemudian ia berikan. Pertama, kolaborasi. Pemerintah melakukan pendekatan struktural birokrasi melalui regulasi, seperti peraturan bupati maupun peraturan daerah anti tidak kekerasan.

Selanjutnya, koordinasi dan fungsi otoritas lembaga pemerintah harus diperkuat. Terutama di Dinas Pendidikan; Dinas Sosial; hingga Badan Kesatuan Bangsa dan Politik. ”Jangan sampai akar dan sumber masalah utama teror panah ini, justru timbul dari lemahnya peran pemda, karena ada jarak komunikasi dengan masyarakat,” kritik Alfi.

Pendekatan lain yang bisa dijadikan alternatif adalah menghidupkan kembali sistem siskamling. Perkuat lemabaga sosial kemasyarakatan. Begitu juga dengan lembaga keagamaan seperti majelis taklim, dan pranata adat sebagai living law.

Perilaku sosial seperti pemanah misterius, disebut Alfi bisa diatasi dengan menciptakan suasana dan lingkungan yang harmonis. Ditambah dengan perhatian keluara dalam menanamkan nilai budi pekerti dan keagamaan.

”Pemda dengan sejumlah otoritasnya, bisa memilih jenis solusi yang kompatibel. Sesuai karakter dan tipologi sosial masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu, Pemkab Dompu telah melakukan rakor membahas fenomena panah misterius. Sekda Dompu Gatot Gunawan mengatakan, pemda telah bekerjasama dengan sejumlah stakeholder untuk menekan kasus panah misterius di Dompu.

”Kita libatkan TNI, kepolisian juga,” kata Gatot.

Pemkab Dompu juga disebutnya akan memberi aturan khusus. Terutama di sekolah dan desa maupun kelurahan. Aturan ini akan disosialisasikan secara menyeluruh kepada orang tua, dalam rangka meningkatkan pengawasan anak dan mencegah terjadinya tindakan kriminal.

Untuk tingkat desa dan kelurahan, akan dibentuk tim pencegahan dengan penerapan jam malam. Upaya ini akan diperkuat dengan razia senjata tajam dan panah bersama aparat keamanan, seperti TNI Polri.

Razia juga telah dilakukan di beberapa sekolah. Hasilnya cukup mengejutkan dengan adanya penemuan ketapel dan busur panah di dalam tas milik pelajar. ”Pendekatan persuasif juga terus kita lakukan,” ujarnya.

Polda NTB Ajak Semua Pihak untuk Redam Teror

Kasus pemanahan di wilayah Kabupaten dan Kota Bima diatensi Polda NTB. “Kapolda (Irjen Pol Djoko Poerwanto) sudah memerintahkan seluruh elemen bergerak menghentikan kasus itu,” kata Kabid Humas Polda NTB Kombespol Artanto, belum lama ini.

Kasus tersebut telah menimbulkan beberapa korban. Mulai usia remaja hingga dewasa. “Makanya kita upayakan seluruh personel untuk meningkatkan patroli sebagai bentuk pencegahan,” ujarnya.

Bulan Maret hingga April menjadi puncak maraknya kasus pemanahan di Bima. Dari pemanahan secara langsung di jalan, saling tebar ancaman di media sosial, hingga perang antar kampung. “Kebanyakan pelakunya adalah pelajar SMP hingga SMA,” bebernya.

Pihak kepolisian terus bekerja keras memerangi teror panah di wilayah Kota dan Kabupaten Bima. Saat ini ratusan anak panah dan ketapel disita dari hasil razia maupun penyisiran langsung di lokasi bentrok antar kampung.

Salah satunya perang kampung di Kelurahan Melayu, Kecamatan Asakota, Kota Bima. “Itu sebagai tindakan represif kita,” tegas Artanto.

Artanto mengatakan, upaya pendekatan kepada para tokoh masyarakat telah dilakukan baik melalui para Bhabinkamtibmas bahkan meminta kapolres turun langsung di tengah masyarakat. “Butuh dukungan dari semua pihak untuk menyelesaikan masalah pemanahan ini. Polisi telah melakukan penegakan hukum sesuai prosedur. Namun untuk menghentikan hal ini terjadi kembali, tentu melibatkan seluruh elemen masyarakat menjadi sangat penting,” tandasnya.

Dalam kasus pemanah misterius, Polres Bima Kota cukup terbuka dengan penanganannya. Motif dari terduga pelaku pun berhasil diungkap. Namun, tidak demikian dengan jajaran Satuan Reskrim Polres Dompu.

Kasat Reskrim Polres Dompu AKP Adhar memilih untuk tertutup terkait penanganan sejumlah kasus panah misterius di wilayah hukumnya. Begitu juga dengan motif yang melatarbelakangi perbuatan beberapa terduga pelaku. Pesan melalui WhatsApp yang dikirimkan, tidak mendapat respons dari AKP Adhar. (dit/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/