alexametrics
Kamis, 1 Oktober 2020
Kamis, 1 Oktober 2020

Pasar Mandalika di Tengah Wabah Korona : Sepi Pembeli, Pedagang Terpaksa Tinggalkan Lapak

Aktivitas perekonomian di Pasar Mandalika menurun drastis. Pedagang yang biasanya panen raya saat Ramadan, kini harus menghadapi kenyataan pahit. Sepinya pembeli!

 

Wahidi Akbar Sirinawa, Mataram

 

”Kalau Ramadan sebelumnya ramai. Tapi ini sepi banget,” kata Kepala Pasar Mandalika Ismail, kemarin.

Tanda-tanda turunnya daya beli terlihat dari satu bulan sebelum Ramadan. Tak lama setelah kemunculan kasus positif Covid-19 di NTB. ”Kalau sebelum Covid dari pagi ini sudah ramai. Tidak seperti sekarang, memang agak berkurang pembelinya,” tuturnya.

Turunnya daya beli disebabkan adanya pandemi Covid-19. Pemkot dan Pemprov NTB bukannya tidak berusaha. Terutama untuk memberi kenyaman dan perlindungan bagi masyarakat yang berbelanja. Salah satunya melalui lapak berjarak di Pasar Mandalika.

Sekitar 45 lapak temporer yang disiapkan. Di sebelah utara pasar. Di jalan rayanya. Menggunakan meja kecil dan payung. Jarak antara lapak satu dengan yang lainnya sekitar dua meter.

Lapak ini mulai ditempati pedagang dari Rabu, 6 Mei. Namun, sepinya pembeli membuat mereka tak betah berlama-lama menunggu dagangannya. Ini juga diakui Ismail. Pedagang sebenarnya senang dengan keberadaan lapak berjarak.

”Pembelinya sudah sepi, jadi kasian pedagang kalau ditaruh di depan. Panasnya susah ditahan,” jelas Ismail.

Payung di atas meja tak mampu mengusir terik matahari. Sebagian pedagang akhirnya memilih pindah ke bagian dalam. Di selasar kantor Pasar Mandalika. Ismail mengatakan, pedagang yang menempati lapak temporer memang khusus berjualan sembako. Bukan untuk pedagang konveksi, yang menjual pakaian.

”Mereka senang juga dengan lapak itu. Tapi gimana ya, pembelinya ini yang sepi,” kata Ismail.

Turunnya daya beli ini juga dikeluhkan Faizah. Selama pandemi virus Korona ini, pendapatannya turun dua kali lipat. ”Sekarang ini saja baru dapat Rp50 ribu. Padahal sudah jualan dari jam 6 pagi,” kata Faizah kemarin siang.

Padahal Faizah telah melakukan strategi dengan membuka dua lapak. Satu lapaknya berada di dalam pasar. Lapak satunya lagi berada di depan pasar. Di lapak temporer yang dibuat pemerintah.

Sayangnya, upaya Faizah tak membuahkan hasil. Kedua lapaknya sepi didatangi pembeli. Begitu juga dengan lapak-lapak pedagang lain di Pasar Mandalika. ”Padahal kita banjir barang ini, tapi Korona bikin sepi,” ujarnya.

Sementara itu, Kadis Perdagangan Kota Mataram H Amran M Amin mengatakan, lapak berjarak akan tetap diupayakan jajarannya. Tidak saja di Pasar Mandalika tapi juga di pasar tradisional lainnya.

”Konsepnya tentu tidak harus seperti di Pasar Mandalika juga. Di pasar lain bisa dilakukan dengan lapak-lapak yang ditempati sekarang ini,” kata Amran. (dit/r3)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Sah! Gaji dan Tunjangan PPPK Sama dengan PNS

Penantian panjang honorer K2 yang lulus seleksi tes Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) 2019 lalu akhirnya usai sudah. Payung hukum terkait gaji dan tunjangan PPPK telah diterbitkan.

Antisipasi Penyebaran Covid Klaster Kampus!

KONDISI masyarakat pada era tatanan kehidupan baru (new normal) saat ini seolah-olah menggambarkan situasi masyarakat telah beradaptasi dengan tenangnya, kembalinya kehidupan normal saat ini kesadaran kita sebagai masyarakat dalam menghadapi pandemi covid-19 sedikit demi sedikit sudah mulai abai dalam menerapkan pola hidup sehat dalam upaya pencegahan dan memutus rantai penularan virus corona.

Penurunan Kasus Korona di NTB Ternyata Semu

Perubahan warna zona Covid-19 di NTB tidak menentu. Kabupaten Dompu yang sebelumnya digadang-gadang sebagai daerah percontohan kini malah masuk zona merah kasus penularan Covid-19.

Pemerintah Harus Turunkan Harga Tes Swab

TARIF uji usap atau tes swab dinilai masih terlalu mahal. Ketua DPR RI Puan Maharani pun meminta pemerintah mengendalikan tarif tes sebagai salah satu langkah pengendalian dan penanganan penyebaran Covid-19. Jumlah masyarakat yang melakukan tes mandiri akan meningkat ketika harganya lebih terjangkau.

Desa Sekotong Tengah Punya Taman Obat Keluarga

ADA budidaya tanaman obat di Desa Sekotong Tengah, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. Tanaman obat ini dibudidayakan oleh masyarakat setempat melalui Kelompok Taman Obat Keluarga Suren.

Desa Pesanggrahan Lotim, Tangguh Berkat Kawasan Rumah Pangan Lestari

Desa Pesanggrahan terpilih menjadi Kampung Sehat terbaik di Kecamatan Montong Gading. Desa ini punya Tim Gerak Cepat Pemantau Covid-19 yang sigap. Ekonomi masyarakat juga tetap terjaga meski pandemi melanda.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Zona Hijau Korona di NTB Kian Berat

”Indikatornya lebih tajam lagi. Kemarin, yang dihitung hanya pasien positif (Covid-19) saja. Sekarang probable juga dihitung,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, usai rapat evaluasi penanganan Covid-19, di kantor gubernur NTB, kemarin (28/9).

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.
Enable Notifications    Ok No thanks