alexametrics
Rabu, 4 Agustus 2021
Rabu, 4 Agustus 2021

Dapur dan Apotek Hidup SDN 19 Cakranegara, Ada Tanaman Anggur Hingga Obat

Banyaknya tanaman sayur dan obat-obatan menjadi cara Kepala SDN 19 Cakranegara Sri Hartini, mengajarkan anak didiknya mencintai lingkungan. Ia mengajak anak menanam, merawat, hingga memetik hasilnya.

 

ALI ROJAI, Mataram

 

SRI Hartini cukup kreatif. Ditangannya, SDN 19 Cakranegara menjadi salah satu sekolah yang cukup asri di Kota Mataram. Hampir semua lahan di sekolah dimanfaatkan. Ada yang dijadikan apotek hidup. Ada juga yang dimanfaatkan sebagai dapur hidup.

Bahkan berbagai jenis tanaman hias terlihat di setiap depan ruang kelas yang memberi kesan cukup indah.

Sekilas sekolah yang ada di Gebang, Kota Mataram ini terlihat cukup asri. Di pintu gerbang sekolah terdapat tanaman anggur. Tanaman anggur yang lagi berbuah membuat siapa saja yang melihat ingin memetiknya.

“Daunnya kurang lebat. Sebenarnya tanaman ini hanya untuk memperindah sekolah saja,” kata Sri merendah.

Sementara di halaman sekolah terdapat  beberapa pohon mangga yang membuat sekolah ini terlihat rindang. Di sisi lain di depan teras setiap kelas terdapat apotek dan dapur hidup dengan berbagai macam tanaman obat-obatan dan sayur.

“Apotek dan dapur hidup kita jadikan media pembelajaran,” tutur perempuan berjilbab ini.

Pada prinsipnya kata dia, semua jenjang pendidikan diajarkan tentang cinta lingkungan. Namun, belum semua dilakukan dengan tindakan nyata. Sehingga, Sri mengajak siswa melakukan hal-hal nyata terkait cinta lingkungan atau persahabatan dengan alam.

Menurutnya, siswa tidak cukup hanya diberi pengetahuan melestarikan alam atau mengerti tindakan merusak lingkungan. Seperti sebatas tahu tidak membuang sampah sembarangan, tidak membuang limbah beracun, mencegah ilegal logging, dan sebagainya. Namun, kata dia, perlu dilatih melakukan tindakan nyata, baik secara individu maupun secara bersama-sama. “Dari tindakan nyata ini akan membentuk karakter siswa,” ujar dia.

Di SDN 19 Cakranegara tindakan nyata mencintai lingkungan dilakukan dengan membuat apotek dan dapur hidup. Adanya apotek dan dapur hidup di sekolah dapat melengkapi taman sekolah yang sudah dibuat sebelumnya.

“Membuat apotek hidup tidak harus menyediakan lahan luas, namun cukup dengan memanfaatkan lahan yang ada di sekolah,” kata dia.

Hampir semua lahan di depan ruang kelas dimanfaatkan menjadi apotek dan dapur hidup. Bahkan dibuat berjenjang dengan memanfaatkan besi dan paralon sebagai tempat media tanam.

Dalam pembuatan apotek dan dapur hidup, Sri melibatkan siswa. Karena dengan seperti ini akan membentuk karakter siswa. “Guru hanya mengarahkan jenis tanaman maupun dari segi artistik sebagai bagian dari taman sekolah,” tutur dia.

Untuk perawatan apotek hidup, Sri menyerahkan kepada siswa agar mereka melakukan perawatan secara bergilir. Bahkan untuk perawatan sendiri pihaknya diajarkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram terkait bagaimana cara membuat pupuk dari sampah organik.

“Jadi sampah organik di sekolah ini kita olah menjadi pupuk. Kita tidak perlu beli pupuk,” kata dia.

Namun kini perawatan dilakukan guru dan pegawai di sekolah. Karena ditengah pandemi Covid-19 tidak boleh ada pembelajaran tatap muka (PTM). ”Hasilnya apotek dan dapur hidup sudah sering kita panen,” tutupnya. (*/r3)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks