alexametrics
Rabu, 30 November 2022
Rabu, 30 November 2022

SMPN 10 Mataram Ajarkan Siswa Berwirausaha dan Menjaga Lingkungan

Budidaya maggot dikembangkan SMPN 10 Mataram tidak hanya semata-mata untuk mencari keuntungan. Namun yang terpenting bagaimana mengajarkan siswa berwirausaha dengan memanfaatkan limbah sampah organik di sekolah.

 

ALI ROJAI, Mataram

 

BERBAGAI cara dilakukan sekolah untuk mengajarkan siswa berwirausaha. Seperti dilakukan SMPN 10 Mataram. Sekolah Penggerak di Kota Mataram mengembangkan budidaya maggot guna mengajarkan siswa berwirausaha.

“Selain itu juga kita ingin siswa mencintai lingkungan dengan tidak ada sampah berserakan di sekolah,” kata Kepala SMPN 10 Mataram Chamim Tohari, kemarin.

Sekolah yang berada depan Pasar Kebon Roek, Ampenan terlihat cukup asri. Berbagai pohon tumbuh di halaman sekolah. Dibagian belakang sekolah terdapat bangunan sederhana. Dipintu masuknya ada tulisan Bank Sampah.

Dibangunan ukuran sekitar 6 X 3,3 meter terlihat siswa panen maggot. Ada tiga kandang maggot  didalam ruangan tersebut yang ukurannya  masing-masing sekitar  1,5 X 1 meter. “Satu kandang menghasilkan maggot 15 sampai 20 kilogram setiap panen,” ujar Chamim.

Di bangunan Bank Sampah tidak hanya terdapat kandang maggot. Namun juga ada pupuk padat dan  cair yang diproduksi dari sampah organik. Juga terdapat berbagai pas bunga hasil karya siswa dari sampah plastik. “Bank Sampah dikelola siswa. Sampah yang masuk menjadi makanan maggot tiap hari dicatat siswa,” ujar Chamim.

Baca Juga :  Pedagang di RTH Selagalas Dimasa PPKM : Hanya Bisa Sabar dan Bersyukur

Begitu juga dengan sampah yang keluar dari Bank Sampah ada pembukuannya. Sampah plastik dihasilkan di sekolah yang tidak bisa dijadikan sebagai anyaman dikumpulkan di Bank Sampah untuk dijual.

“Setiap bulan sampah plastik yang dikumpulkan di Bank Sampah kita jual.  Jadi siswa yang kelola Bank Sampah sudah ada tabungannya,” urai dia.

Sementara untuk maggot dijual langsung ke Mataram Maggot Center (MMC). Setiap 15 hari siswa panen manggot. Jika panen lebih dari 15 hari maka maggot akan berubah menjadi larva. Budidaya maggot dilakukan sejak dua bulan lalu dan sudah tiga kali panen. “Awalnya kita hanya buat satu kandang, beberapa hari kemudian kita tambah dua kandang lagi,” terang dia.

Sejauh ini tidak ada kendala dalam memasarkan maggot. Karena berapapun jumlah maggot yang dihasilkan bisa ditampung di MMC. Charmim melakukan kerja sama denga MMC untuk budidaya maggot. Hasil budidaya dibawa langsung ke MMC.

Baca Juga :  Duka di Sriwijaya: Ayah, Kami Sudah di Ruang Tunggu, Kami Akan Berangkat...

Menurutnya, budidaya maggot tidak membutuhkan lahan luas. Sebab, kandang bisa dibuat bertingkat menggunakan triplek bekas. “Setiap kandang beda-beda masa panennya,” ucapnya.

Diutarakan, budidaya maggot muncul dari kerisauan guru di sekolah. Sampah sana sini di halaman sekolah, terutama di kantin menumpuk. Berawal dari sana dia mulai membenahi persoalan sampah dengan membuat Bank Sampah dekat kantin.

“Alhamdulillah saat kita mau budidaya maggot langsung dikasih bibitnya oleh MMC. Kita juga bisa beli bibit di sana (MMC),” terang dia.

Maggot yang dibudidaya tidak hanya dijual ke MMC. Namun juga dimanfaatkan sebagai pakan ikan koi yang dipelihara di sekolah. Begitu juga dengan pupuk padat dan cair dari sampah organik dimanfaatkan untuk tanaman di sekolah.

“Kita ada apotik dan dapur hidup di sekolah. Pupuk cair dan padat kita manfaatkan untuk tanaman di sini (sekolah) selain kita jual,” pungkasnya. (*/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications OK No thanks
/