alexametrics
Senin, 18 Januari 2021
Senin, 18 Januari 2021

Duka di Sriwijaya: Ayah, Kami Sudah di Ruang Tunggu, Kami Akan Berangkat…

Ridwan Agustan Nur kehilangan anak, menantu, cucu, dan besan dalam satu hantaman musibah Sriwijaya Air. Ratih Windania juga ada dalam pesawat nahas itu bersama anak, kedua orang tua, serta keponakan.

Semua seperti baik-baik saja setelah Ridwan Agustan Nur membaca SMS itu. Dari sang putri, Indah Halimah Putri, yang dikirim pada pukul 13.59 tapi baru sempat dibaca Ridwan pukul 15.00 karena ketiduran.

”Bak (ayah, Red) kami sudah di ruang tunggu bandara. Kami nak berangkat. Pesawat delay,” begitu isi SMS yang dikirim Puput, sapaan akrab Indah Halimah Putri.

Ridwan lalu menghabiskan Sabtu sore itu (9/1) dengan menonton televisi. Ada tayangan kecelakaan pesawat Sriwijaya Air rute Jakarta–Pontianak.

Kepada orang tuanya yang tinggal di Desa Sungai Pinang II, Kecamatan Sungai Pinang, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Puput tak pernah bercerita bahwa dirinya, suami, anak, mertua, serta keponakan naik pesawat apa. Jadi, Ridwan prihatin melihat kabar kecelakaan itu, tapi sama sekali tak ada bayangan tragedi tersebut akan berkaitan dengannya.

Sampai sebuah panggilan telepon dari seseorang bernama Ari selepas Magrib mengejutkannya. Ari mengaku sebagai atasan Rizki Wahyuni, suami Puput.

”Pak, pesawat yang ditumpangi Rizki sama istri, anak, dan ibunya jatuh,” ujar Ari yang mengaku tengah berada di Bandung.

Dunia mendadak seperti runtuh bagi Ridwan. Dia kehilangan anak, menantu, cucu, dan besan dalam satu hantaman musibah.

Puput, Rizki, dan anak mereka, Arkana Nadif, beserta Rosi Wahyuni dan Nabila Anjani, ibunda serta keponakan Rizki, bagian dari 56 penumpang Sriwijaya Air SJ182 yang jatuh empat menit setelah take off dari Bandara Soekarno-Hatta. Sempat lost contact pada pukul 14.40, setelah lepas landas, pesawat tersebut diduga jatuh di perairan Kepulauan Seribu.

Ridwan shock. Tapi, mau tak mau dia harus meneruskan kabar itu kepada sang istri, Yusnia. Dan, seperti dia duga, musibah itu terlalu berat untuk didengar perempuan 52 tahun tersebut. Dia pingsan.

Saat Sumatera Ekspres menyambangi kediaman keluarga yang tengah berduka itu kemarin (10/1), Yusnia belum sadarkan diri. Dia dibaringkan di ruang tengah yang cukup luas.

Di sekelilingnya banyak keluarga. Kerabat dan tetangga di kampungnya, Desa Sungai Pinang II RT VII, Kecamatan Sungai Pinang, Ogan Ilir, ikut berusaha membesarkan hati.

Adhie Mochammad juga masih sangat sulit menerima kenyataan bahwa sahabatnya sejak kecil, Ratih Windania, termasuk dalam daftar manifes penumpang Sriwijaya Air SJ182. ”Lutut rasanya lemas sekali. Tangis saya pun pecah,” ungkapnya ketika kali pertama menerima kabar dari sang bunda yang tinggal di Pontianak, Kalimantan Barat.

Ratih naik pesawat nahas itu bersama anaknya, Yumma, kedua orang tua, serta keponakannya. Sang suami kebetulan tidak bisa ikut ke Bandung, tempat kakak Ratih, tinggal.

Ratih dan Adhie sudah seperti saudara. Mereka tinggal satu kompleks dan tumbuh bersama sejak bayi beserta dua sahabat lainnya, Anty dan Tika, di Pontianak.

Keempatnya bahkan punya grup khusus untuk mengobrol dan berbagi kabar ketika masing-masing tengah sibuk atau pindah luar kota. Seperti Adhie yang hijrah ke Jakarta.

Komunikasi terakhir Adhie dengan Ratih terjadi pada momen tahun baru. Pada 1 Januari 2021, Ratih menghubunginya via WhatsApp (WA) untuk bertanya tentang regulasi swab test sebagai persiapan sebelum dia kembali. Ratih, kata dia, meminta tolong kepadanya untuk ditanyakan ke petugas bandara mengenai kewajiban swab test PCR setelah tanggal 8 Januari 2021. Apakah masih diwajibkan menjalani swab test PCR atau cukup rapid test.

Setelah ditanyakan, Adhie pun mengabari seperti biasa. ”Dia tahu, saya balik ke Jakarta. Pas saya di ruang tunggu, Ratih kirim WA,” kenangnya.

Adhie memang tengah berada di bandara Pontianak saat itu. Dia mudik ke ibu kota Kalimantan Barat tersebut sejak 23 Desember 2020. Dia pun sempat mengajak ketiga sahabatnya berkumpul. Sayangnya, Ratih sedang berada di Bandung.

Adhie mengenang Ratih sebagai sosok ceria dan punya suara ketawa yang khas. ’’Kalau dulu waktu kecil, karena Ratih ini pipinya tembem, matanya sipit, jadi kami semua manggilnya Bakpau,” kenang Adhie.

Mereka sering kumpul di kediaman Ratih, kebiasaan yang bahkan terus berlangsung hingga Ratih, Anty, dan Tika punya anak. Buah hati mereka juga menjadi dekat karena pertemanan orang tuanya.

”Ratih sedang hamil,” lanjut Adhi, tak kuasa menahan tangis.

Puput, si sulung empat bersaudara, juga baru Juni tahun lalu melahirkan anak pertamanya. Selama mengandung, dia tinggal bersama orang tua, sedangkan sang suami, Rizki, bekerja di Balai Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Gunung Palung Ketapang, Kalimantan Barat.

Pada 15 Desember 2020, Rizki pulang untuk menjemput istri dan putranya, Arkana. Sepuluh hari kemudian, 25 Desember, ketiganya terbang ke Bangka. Ke rumah orang tua Rizki. Untuk selanjutnya mereka berencana ke Ketapang.

Sebelum terbang, Puput, suami, anak, mertua, dan keponakan menginap satu malam di Jakarta. ’’Kalau jadwalnya, mereka ke Pontianak itu, besok (hari ini),’’ jelas Ridwan.

Tapi, karena hasil swab test keluar lebih cepat, mereka pun berangkat lebih cepat dari rencana semula. Dan, malang pun tak dapat ditolak…

Ridwan hanya bisa menyesali mengapa dirinya terlambat membaca SMS sang anak. Dia memang membalasnya. Tapi, sudah pasti tak terbaca oleh Puput…(uni/red/wan/mia/c7/ttg/JPG/r6)

Berita Terbaru

Enable Notifications   OK No thanks