alexametrics
Sabtu, 28 Mei 2022
Sabtu, 28 Mei 2022

Berburu Berkah Menikah di Bulan Syawal

SETIAP tahun, setelah lebaran Idul Fitri, jumlah peristiwa nikah di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) mengalami peningkatan. Kantor Urusan Agama (KUA) yang tersebar di 20 Kecamatan mencatat adanya peningkatan jumlah pendaftar yang signifikan. Rata-rata kenaikannya mencapai 100 persen.

—-

Di hari pertama masuk kerja setelah libur lebaran Idul Fitri 1443 Hijriyah, HM Khairil Anwar, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Selong mengecek ketersediaan buku dan kartu nikah di kantornya. Ia ingin memastikan jumlah yang tersedia tidak kurang dari pasangan pendaftar pernikahan yang ditaksir akan mengalami peningkatan.

“Ini bulan Syawal, seperti tahun-tahun sebelumnya, pasti ada peningkatan yang signifikan,” kata Anwar pada Lombok Post saat ditemui di kantornya Senin, (9/5) lalu.

Taksirannya dijamin tak jauh meleset. Baru pukul 9 pagi, Anwar memperlihatkan buku registrasi pendaftar pernikahan sudah diisi oleh dua orang pendaftar. Saat Lombok Post mengecek kembali jumlah pendaftar dua hari berikutnya pada Rabu (11/5), jumlah tersebut sudah bertambah menjadi 25 pendaftar.

Kata Anwar, bulan Syawal secara etimologi berarti peningkatan. Masyarakat muslim di Lombok meyakini bulan Syawal, bulan ke-10 dalam kalender Hijriyah, bulan yang memiliki banyak keutamaan dalam melakukan ibadah. Salah satunya ibadah pernikahan.

Penyuluh agama islam pada Seksi Bimas Islam Kemenag Lotim Helmi Juniawan Fauzi menuturkan, penundaan pernikahan yang terjadi di bulan Ramadan atau puasa juga menjadi penyebab meningkatnya jumlah pernikahan di bulan Syawal. Di mana dalam Islam, hukum melakukan ibadah pernikahan di bulan Ramadan adalah makruh. Karena dikhawatirkan pengantin baru tidak dapat menahan keinginan untuk berhubungan badan saat menjalankan ibadah puasa.

Alasan itu dikuatkan dengan penurunan angka peristiwa nikah yang signifikan pada bulan suci Ramadan. “Di Lotim, bulan Ramadan dan Muharam menjadi bulan yang angka peristiwa nikahnya paling sedikit,” tutur Helmi.

Baca Juga :  Gawat! Budaya Warige dan Jangger Sasak Mulai Terlupakan

Kepala Seksi Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Lotim Lalu Miftahussurur menjelaskan, mengenai adanya dalil yang menerangkan keutamaan melaksanakan pernikahan di bulan Syawal. Miftahussurur mengemukakan, Rasullah SAW menikahi Siti Aisyah pada bulan Syawal.

“Sehingga itu merupakan sunah Rasulullah. Saya pikir ini juga yang menjadi penyebab kebanyakan dari kita memilih bulan Syawal,” tuturnya.

Peningkatan tersebut terjadi di semua Kecamatan yang ada di Lotim. Berdasarkan data pernikahan, ia menyebut ada penurunan total peristiwa nikah per tahun yang terjadi dari tahun 2020.

Hal tersebut disebabkan oleh terbitnya undang-undang nomor 16 tahun 2019 tentang perkawinan yang mensyaratkan usia pasangan perkawinan sudah mencapai 19 tahun. “Sebelumnya rata-rata mencapai 8 sampai 10 ribu per tahun. Namun setelah itu, sejak 2020, rata-rata 6 sampai 8 ribu peristiwa nikah per tahun,” jelas Miftahussurur.

Peningkatan jumlah pernikahan di Lotim berdasarkan data Seksi Bimas Islam Kemenag Lotim pada 2020 dan 2021 memang paling tinggi terjadi pada bulan Syawal. Di bulan 2020, dengan jumlah total 6.945 peristiwa nikah per tahun, paling tinggi pada bulan Juni 2020 sebanyak 1.322 peristiwa. Hal serupa juga terjadi pada tahun 2021, dari jumlah pernikahan sebanyak 7.533 per tahun, jumlah tertinggi terjadi pada bulan Juni 2021 sebanyak 1.023 peristiwa. “Bulan Syawal tahun 2020 dan 2021 jatuh di bulan Juni-Juli,” jelasnya.

Bulan Syawal tahun ini juga diprediksi akan mengalami peningkatan yang jauh lebih banyak. Hal tersebut melihat sudah meredanya dampak pandemi Covid-19 yang turut mempengaruhi peristiwa nikah. Saat ini saja, 20 KUA di Lotim sudah mencatat rata-rata 10 sampai 15 pendaftar pernikahan.

Miftahussurur menjelaskan, peningkatan jumlah peristiwa pernikahan setelah lebaran Idul Fitri di setiap KUA rata-rata mengalami kenaikan mencapai 100 persen. Ada lima KUA yang mengalami kenaikan tapi tidak mencapai 100 persen.

Baca Juga :  Soal Penerapan SE Menag, Ini Kata Kepala Kemenag Lotim

KUA tersebut adalah Sembalun, Sambelia, Montong Gading, Sakra Timur, dan Suela. “Ini karena jumlah penduduk di kecamatan tersebut lebih sedikit dibanding kecamatan lainnya,” jelasnya.

Di Suku Sasak, Syawal Merupakan Bulan Baik

Budayawan Lotim Muhir menjelaskan beberapa alasan mengapa orang Sasak lebih banyak memilih menikah di bulan Syawal. Memang ada tradisi penanggalan Sasak yang menjadi acuan waktu dalam melakukan segala bentuk kegiatan.

Seperti membangun rumah, bercocok tanam, dan sampai menikah atau dalam istilah sasak begawe. “Ada istilah jelo solah atau hari baik. Penanggalan ini dihitung, mulai dari bulan, hari, sampai waktu pagi, siang, dan malamnya,” tutur Muhir.

Berdasarkan kalender Sasak, ada bulan-bulan yang dihindari masyarakat untuk melakukan gawe atau kegiatan besar. Bulan itu adalah bubur puteq atau bulan Muharam dalam kalender Hijriyah, bubur beaq atau bulan Safar dalam kalender hijriah. Bulan Syawal atau dalam kalender sasak disebut bulan lebaran nine diyakini masyarakat Sasak sebagai bulan yang baik untuk melaksanakan pernikahan.

Muhir menjelaskan, Syawal dianggap baik melihat masih adanya kebutuhan material yang bisa digunakan untuk begawe. Di mana kebutuhan yang dikumpulkan di bulan Syakban tidak banyak digunakan di bulan Ramadan. Sehingga jumlahnya cukup banyak untuk digunakan di bulan Syawal.

Namun memang banyak tradisi yang mengalami pergeseran. Seperti halnya pemilihan waktu ijab Kabul yang orang Sasak memilih waktu malam. Kata Muhir, tujuannya adalah agar pengantin tidak butuh menunggu waktu lama untuk melakukan berhubungan badan. Di beberapa desa, pemilihan waktu menikah ini masih dipertahankan. (fatih/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/