alexametrics
Rabu, 4 Agustus 2021
Rabu, 4 Agustus 2021

Di Tangan Agus Pramono, Limbah Ikan Jadi Pupuk Organik (2-Habis)

Menyelesaikan persoalan limbah cair pengolahan ikan pindang di kawasan pesisir Pantai Ampenan menjadi fokus utama Agus Pramono sebagai penyuluh perikanan di Dinas Perikanan Kota Mataram. Memanfaatkan limbah ikan tongkol menjadi pupuk organik dan sebagai makanan ikan.

————————————————————-

PERSOALAN limbah cair pengolahan ikan pindang di pesisir Pantai Ampenan sudah muncul beberapa tahun lalu. Bukan hanya mengeluarkan bau menyengat, namun juga berdampak bagi kesehatan warga.

“Saya membuat pupuk organik dari bahan limbah cair pengolahan ikan tongkol untuk meyelesaikan persoalan lingkungan,” kata Agus Pramono, penyuluh Dinas Perikanan Kota Mataram, kemarin.

Pada 2013 lalu persoalan limbah ikan muncul. Banyak warga yang berada di pesisir Pantai Ampenen membuang limbah pengolahan ikan tongkol sembarangan. Dianggap tidak memiliki manfaat. Lalu dibuang begitu saja, yang menyebabkan pencemaran lingkungan.

Sejak 2020, Agus turun ke Lingkungan Pondok Perasi, Telaga Mas, Bintaro Jaya, Kampung Bugis dan lingkungan lainnya di Kecamatan Ampenan. Dia menyosialiasikan ke warga terkait limbah pengolahan ikan yang bisa dimanfaatkan menjadi pupuk organik. “Kami juga menyosialisasikan ini ke kelompok usaha bersama para nelayan dan pengusaha ikan,” tutur pria Desa Batujai, Lombok Tengah ini.

Dikatakan, membuat pupuk organik dari limbah pengolahan ikan tongkol awalnya sebagai inovasi daerah yang akan diikutkan dalam lomba skala nasional dan tingkat internasional. Namun di tengah jalan, pembuatan pupuk dilakukan secara terus menerus. Agus kerap datang ke di Lingkungan Pondok Perasi dan sekitarnya meminta air pindang yang menjadi bahan utama pupuk organik. “Saya bawa ember ke Pondok Perasi minta air pemindangan ikan ini,” tutur dia.

Biasanya setiap kali turun ke lingkungan, dia mendapat 10 liter limbah pengolahan ikan pindang untuk dibawa pulang. Bahan utama pembuatan pupuk organik diolah menjadi pupuk melalui fermentasi dengan memanfaatkan bahan lainnya.

“Dua minggu sekali kita turun ke lingkungan minta limbah pengolahan ikan pindang ini,” tutur pria kelahiran 1969 ini.

Pengambilan limbah ikan dilakukan kontinyu. Jika pupuk yang diproduksinya habis dia datang ke lingkungan pesisir Pantai Ampenan untuk meminta kembali limbah pengolahan ikan tersebut. Pupuk ini sudah dicoba di berbagai kelompok tani di Kota Mataram. Hasilnya bisa menyuburkan tanaman, terutama hortikultura. “Pupuk ini sangat baik untuk tanaman horti,” terang pria yang kini tinggal di Dasan Sari, Kota Mataram ini.

Selain mengambil limbah, Agus juga memberikan pelatihan kepada kelompok usaha bersama yang anggotanya para nelayan untuk membuat pupuk organik dari limbah ikan. Dengan harapan para nelayan dan pedagang ikan tidak lagi membuang limbah sembarangan. Melainkan bisa dimanfaatkan sebagai pupuk.

“Kami ingin para kelompok usaha bersama bisa mengolah limbah ikan menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi. Sehingga ke depan, masalah limbah ini beres dan masyarakat juga dapat keuntungan secara materi,” tutur bapak tiga anak ini.

Limbah ikan bukan hanya dijadikan sebagai pupuk organik. Namun juga bisa dimanfaatkan sebagai makanan ikan. Dengan cara pelet yang akan diberikan ke ikan terlebih dahulu direndam di pupuk yang mengandung kaldu ikan. “Pupuk ini akan membuat ikan tumbuh besar karena pupuk ini mengandung kaldu ikan,” tukas dia. (Ali Rojai/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks