alexametrics
Sabtu, 28 Mei 2022
Sabtu, 28 Mei 2022

Cerita Sukses Mimin Sundari, Pemilik Pawon Bale Ikan Bakar Mataram

Awal pandemi Covid-19 pada 2020 lalu menjadi pengalaman baru bagi Mimin Sundari. Rutinitas yang biasanya dilakoni dengan berjualan di kios gerobak di Jalan Pemuda, Gomong ditinggalkan. Ia banting setir membuka usaha kuliner yang dipasarkan via online.

 

ALI ROJAI, Mataram

 

MENCOBA Peruntungan. Itulah kata yang dilontarkan Mimin Sundari, pemilik Pawon Bale yang menjual ikan bakar. Sebelumnya, Sundari, sapaan karibnya berjualan di Jalan Pemuda, tepatnya depan Lapangan Tenis Handayani Gomong menggunakan gerobak. Aktivitas tersebut dilakukan bertahun-tahun untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Namun diawal pandemi Covid-19 pada 2020 dagangan di kios jarang dibuka. Bahkan waktu itu banyak orang-orang sekitar bertanya kenapa sampai dirinya tidak pernah jualan. “Saya punya anak kecil yang usianya masih satu tahun waktu itu. Jadi saya endak bisa jualan,” terang perempuan 35 tahun ini.

Diam di rumah tanpa ada aktivitas membuat Sundari bosan. Apalagi waktu itu gerak masyarakat dibatasi karena pandemi Covid-19. Seharian di rumah coba dimanfaatkan membuat makanan untuk dijajakan melalui media sosial (medsos). “Waktu itu saya coba-coba posting ikan bakar menggunakan foto ambil di google. Ternyata banyak yang respons,” cetusnya.

Baca Juga :  Le-Bui Sepeda Listrik Lombok Kini Tersebar di Empat Benua (3-habis)

Dari sana dia mencoba meracik berbagai makanan, terutama ikan bakar. Tak tanggung-tanggung banyak pesanan yang membuat dirinya hingga kini bertahan dengan usaha kuliner-nya. Usaha kuliner diberi nama Pawon Bale. Yang artinya, dapur rumah. “Kemarin pas puasa ada 500 kotak pesanan,” terang ibu empat anak ini.

Dia menuturkan, usaha kuliner digeluti sekarang ini tidak terlalu banyak mengeluarkan modal. Beda ketika saat masih buka kios gerobak di Jalan Pemuda membutuhkan modal yang cukup banyak. Sebut saja rokok butuh modal lumayan banyak, sementara untungnya dalam satu bungkus hanya Rp 2 ribu. “Kalau ikan ini kan kita beli per kilogram,” jelasnya.

Adapun kuliner yang dijajakan Pawon Bale. Diantaranya ikan nila bakar, nila rajang, ayam bakar, dan ayam goreng. Harga untuk makanan per porsi cukup terjangkau. Per kotak nila bakar sama nasi, beberok, tahu, tempe, sambal, dan teh manis dibanderol Rp 15 ribu. “Ini diluar ongkir (ongkos kirim),” sebutnya.

Untuk ongkir tergantung dari pemesan. Sundari juga menawarkan jasa kurir dari Gojek untuk megantarkan pesanan para pelanggan. “Kalau seputaran Gomong, Kekalik kita gratiskan ongkir,” ujarnya.

Baca Juga :  Khas Lombok : Tembakau Rajangan, Tembakau Kesayangan

Tapi untuk wilayah yang jauh seperti  di Bertais, Kecamatan Sandubaya tidak  digratiskan ongkir. “Kalau kita gratiskan ongkir di Bertais rugi. Kayak kemarin pesan satu kotak minta ongkir gratis,” ujar perempuan yang tinggal di Gomong, Kota Mataram ini.

Kuliner yang dijajakan diracik sendiri. Tanpa dibantu karyawan. Biasanya dalam sehari ada saja pesanan, baik itu yang datang perorangan maupun instansi atau lembaga. Untuk lembaga atau instansi biasanya pesan maksimal 50 kotak. “Kalau pesanan banyak kita gratiskan ongkir,” jelasnya.

Usaha kuliner dengan nama  Pawon Bale terus mendapat tempat di hati para pelanggan. Tidak jarang orang yang memesan akan kembali datang. Terutama pesanan ikan bakar laris manis. Bumbu ikan bakar meresap hingga ke daging. Karena dalam proses pembuatan  ikan dicelupkan ke dalam bumbu. “Sambal juga kita pisah. Mau pedas atau manis tergantung pesanan,” ucapnya.

Untuk menjaga kualitas rasa, Sundari meminta kepada pelanggan atau pemesan untuk menunggu. Karena makanan akan diracik ketika ada pesanan. “Tidak kita bakar ikan-nya banyak-banyak. Kalau ada yang pesan baru kita bakar,” pungkasnya. (*/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/