alexametrics
Kamis, 22 Oktober 2020
Kamis, 22 Oktober 2020

GeNose, Alat Pendeteksi Korona asli Indonesia, Akurat dan Lebih Cepat

Cara kerja GeNose hasil kolaborasi Dr Kuwat Triyana-dr Dian Nurputra memanfaatkan embusan napas dari orang yang diperiksa. Jika lolos uji diagnostik, dibandingkan dengan rapid test dan swab PCR sebagai pendeteksi Covid-19, alat itu lebih unggul urusan waktu.

 

ZALZILATUL HIKMIA, Jakarta

 

”WADUH, kurvanya error. Kita harus menelepon Pak Kuwat ini,” kata dr Dian Nurputra kepada salah seorang anggota timnya.

Dian panik ketika itu. Mesin tiba-tiba error karena salah pencet layar GeNose.

Tapi, mengenangnya kembali sekarang, Dian tak bisa menahan tawa. Sepanjang bercerita kepada Jawa Pos Senin pekan lalu (28/9), dokter spesialis anak tersebut tak henti-hentinya tertawa mengingat kepanikannya bersama salah seorang anggota timnya kala itu.

Menurut Dian yang sejak Maret lalu menjadi kepala satgas Covid-19 di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Polda Jogjakarta, error kala itu terjadi lantaran salah pencet touchscreen mesin akibat goggle yang digunakan buram karena berembun. Maklum, Dian dan anggota tim harus menggunakan alat pelindung diri (APD) tiga lapis.

Ditambah masker N95, face shield, dan sarung tangan lateks dua lapis. ”Jadi kan puwanas, mengembun, sulit melihat layarnya saat itu. Campur-campur pokoknya,” ujar Dian, lantas tertawa saat mengenang kembali pengalamannya mengambil sampel napas pertama sekitar akhir April lalu.

Kepanikan itu mereda ketika pria bernama lengkap Dian Kesumapamudya Nurputra tersebut mendapat bantuan selundupan handphone dari luar ruang isolasi untuk berkonsultasi dengan Kuwat. Sayang, rasa lega itu hanya hitungan detik.

Sebab, setelahnya, dia pun kesulitan untuk mengoperasikan telepon genggam yang dibungkus plastik itu. Sarung tangan dua lapis dan plastik tentu menjadi penghalang untuk bisa menekan layar ponsel yang serba-touchscreen. ”Setelah mencetnya agak emm.. Alhamdulillah, bisa nelepon Pak Kuwat, haha,” ungkap Dian, menyebut Kuwat Triyana, seorang peneliti di bidang sensor teknologi, partnernya dalam menciptakan GeNose.

GeNose bisa dibilang hasil banting setir dari penelitian E-Nose milik Kuwat Triyana yang sempat mandek. E-Nose semula diperuntukkan mendeteksi tuberkulosis (TB). Akhirnya setting sensornya dimodifikasi dan diganti untuk mendeteksi Covid-19 saat pandemi terjadi.

Cara kerja alat itu pun sederhana. Cukup menggunakan embusan napas dari orang yang diperiksa. Hasil keluar dalam waktu 80 detik.

”Dulunya 10 menit, lalu jadi 3 menit. Setelah itu, kami sempurnakan lagi menjadi 80 detik untuk diagnosis dari sistem,” papar pria berkacamata tersebut.

Ide Dian tersebut disambut baik oleh Kuwat yang berlatar belakang doktor bidang organic electronic-sensing meski sempat ada kekhawatiran soal sampel. Mengingat sebelumnya, Kuwat pernah menawarkan kepada sejumlah dokter tapi tak bersambut. Alasannya, sulit memeriksa pasien Covid-19 tanpa memiliki laboratorium bio safety level 3 (BSL 3). Saat itu, anggota tim Organic Sensing dan Kepala Lab Fisika Material (Fismatel) FMIPA UGM Dr Ahmad Kusumaatmadja pun bertanya apakah tidak memungkinkan hal semacam itu dites di RS.

Dian pun lantas kepikiran menggunakan ruang isolasi di sana. Menurut dia, keamanan ruang isolasi yang disulapnya dari ruang ICU itu sudah setara dengan BSL 3.

”Saya usulkan ke Pak Kuwat, bagaimana kalau kita bikin protokol pengambilan sampel. Mesin nanti di-wrap, kemudian masuk ’’dirawatinapkan” sekaligus di ruang isolasi sehingga bisa langsung dipakai untuk mengambil banyak sampel,” katanya.

Keduanya pun lantas menulis proposal pengajuan penelitian ke Komite Etik FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama-sama dengan Ahmad dan dr Saifudin Hakim. Dengan begitu, mereka bisa mendapat ethical clearance (EC) untuk pengambilan sampel. Beruntungnya, proses pengajuan cukup cepat sehingga akhir April mereka sudah bisa melakukan uji profiling.

”Akhir April keluar EC-nya. Lalu, saya masuk ruang isolasi pertama dengan menggunakan APD Hot Wheels. Dibelikan pasien saya pakai uang dari dia jualan Hot Wheels-nya, hehe,” papar alumnus UGM itu.

Meski sudah menjadi kepala satgas, pengajuan penelitian Dian sempat diragukan beberapa pihak. Menurut dia, itu wajar. Barang baru, orang pun skeptis.

Tapi, Dian tak putus asa. Dia berhasil meyakinkan bahwa dalam penelitian tersebut, dasar biological plausibility-nya (rasional biologis medisnya) dapat dipertanggungjawabkan. APD juga sulit dicari saat itu. Syukur ada bantuan APD untuk pengambilan sampel dari para pengusaha asal Jogja.

Setelah itu, jalan mereka juga tak semulus tol Cipali. Mereka sempat kebingungan saat kampus lockdown dan laboratorium untuk membuat mesin GeNose terimbas. Pasalnya, mereka harus bergegas menambah alat. Mereka baru punya satu alat.

Sementara itu, untuk uji profiling dibutuhkan lebih banyak alat agar sesi mengajari mesin untuk membedakan pola napas pasien Covid-19 dan orang sehat bisa dilakukan lebih cepat.

Bukan cuma itu, di tengah jalan ternyata mereka kekurangan sampel. RS Bhayangkara sempat kosong pasien. Mereka terpaksa putar otak untuk mencari lokasi baru untuk menambah jumlah sampel agar mesin dengan teknologi artificial intelligence (AI) itu bisa lebih pintar.

”Alhamdulillah, akhir Juli dapat di RS Bambanglipuro, Bantul. Kami mengajukan amandemen EC. Dua minggu langsung dapat semua sampelnya,” papar dokter yang juga berpraktik di RSU dr Sardjito, Jogjakarta, tersebut.

Namun, dari semua kendala itu, lanjut dia, paling besar soal biaya. Selama empat bulan pertama, mereka harus menguras tabungan sekitar Rp 80 juta dan meminjam Rp 340 jutaan untuk membuat tambahan lima mesin.

”Kalau kata Pak Warek (wakil rektor, Red), Pak Paripurna, sampai disemprot istri, hahaha. Tapi, Alhamdulillah, waktu ada pendanaan baru bantuan operasional dari Direktorat PUI UGM sekitar Rp 120 juta, bisa langsung ganti dana istri yang kepake,” kelakarnya.

Pada Juni-Juli, uji profiling berhasil mendapat data yang stabil. Pihaknya berhasil mengumpulkan 615 sampel napas dari 83 pasien, 43 positif dan 40 negatif.

Ternyata diketahui lebih lanjut bahwa 43 pasien positif merupakan asimtomatik atau tak bergejala. ”Artinya, alat ini bisa membedakan betul antara positif dan negatif meski pasien asimtomatik,” ungkapnya.

Hal itu pun didukung dari hasil analisis profiling GeNose yang menggunakan empat sistem algoritma. Akurasinya di atas 90 persen. Paling stabil dengan deep neural networks (DNN) yang akurasinya 96 persen.

Kendati begitu, GeNose masih perlu diuji lebih lanjut, yakni uji diagnostik untuk mengetahui tingkat akurasi yang sesungguhnya. Rencananya, pengujian itu melibatkan sembilan rumah sakit di Jakarta, Jogja, dan Jawa Timur.

”Nanti tes dilakukan secara triple blind,” katanya.

Maksud tes secara triple blind itu, setiap pihak yang melakukan tes tersebut terbutakan dan tidak mengetahui pasiennya positif atau tidak, yakni pihak yang mengambil sampel, pihak penguji sampel, dan pihak analisis data. Denga begitu, hasil akhirnya benar-benar objektif. Diprediksi, uji diagnostik bisa selesai dalam waktu dua minggu bila dilakukan secara masif.

Jika sukses, alat itu diyakini dapat disandingkan dengan rapid test dan swab PCR dalam hal deteksi Covid-19. Bahkan bisa jadi lebih terdepan untuk urusan waktu karena keduanya memiliki masalah yang sama soal timing. Rapid test hanya bisa mendeteksi infeksi yang terjadi 5–7 hari sebelumnya. Dalam interval tersebut, orang masih bisa pergi ke mana-mana. Tentunya, itu menyulitkan juga dalam hal isolasi pasien sakit.

Mengenai kerja mesin tersebut, Ketua Tim Peneliti GeNose Kuwat menambahkan bahwa sebetulnya ketika virus menginfeksi bagian tubuh manusia, secara alamiah akan dihasilkan senyawa volatile organic compounds yang polanya secara spesifik dapat terdeteksi. Dengan demikian, napas yang ditampung dan disambungkan ke mesin langsung dideteksi sensor GeNose. Di situ akan tampak pola yang khas.

Pola tersebut yang kemudian dianalisis dengan AI yang telah dibuat olehnya. ”Jadi, pola napas dari yang sehat dan sakit diajarkan ke mesin, mesin mengingat,” jelasnya.

Dalam penelitian itu, pihaknya telah menggandeng dan membangun konsorsium dengan lima perusahaan. Masing-masing memiliki tugas dan tanggung jawab.

Misalnya, membuat mesin dan sensor. Persiapan itu memang sudah dilakukan secara matang bersama Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi UGM Hargo Utomo. Mereka pun sudah sangat siap dari sisi link industry.

Karena itu, kelak ketika uji diagnostik sukses, proses produksi bisa dimulai pada November 2020. Menurut dia, produksi itulah yang cukup sulit dan butuh waktu. Kendati begitu, mereka berkomitmen bisa menghasilkan 50 ribu alat per bulan.

Kerja sama ciamik Dian dan Kuwat tersebut sebetulnya terjalin sejak dua tahun lalu. Keduanya dicomblangkan oleh Hargo. Hasilnya, bersama-sama dengan Ahmad, mereka berhasil menelurkan e-tongue untuk aplikasi medis.

Atas inovasi itu, Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro mengatakan akan mendukung penuh. Baik dari sisi pendanaan maupun kebutuhan sampel.

Pihaknya akan membuka booth di kementerian sehingga orang bisa menjalani tes itu sekaligus swab. Spesimen swab kemudian dianalisis di laboratorium BPPT.

”Cara deteksi embusan napas sangat tepat karena Covid-19 ini menyerang saluran napas. Kemudian, penggunaan AI juga sangat baik ya,” paparnya. (*/c7/ttg/JPG/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Kenali La Nina, Waspadai Dampaknya

HUJAN dengan intensitas sedang hingga tinggi mengguyur sebagian wilayah Indonesia beberapa waktu belakangan ini. Tentu banyak pihak yang bertanya-tanya, apakah memang musim hujan telah datang ? Berdasarkan prakiraan awal musim kemarau tahun 2020/2021 oleh BMKG, musim kemarau tahun 2020 ini sifatnya memang tidak sekering tahun sebelumnya.

17 Ribu Tenaga Kesehatan NTB Bakal Divaksin Lebih Dulu

Pemprov NTB telah menyetor nama-nama tenaga kesehatan untuk diberikan vaksin anti Covid-19. ”Daftar tenaga medis sudah saya serahkan ke pusat,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, kemarin (20/10).

Kampanye Sehat di Dompu Pasangan Eri-HI Bagi Masker untuk Para Lansia

PASANGAN Calon Bupati dan Wakil Bupati Dompu Eri Aryani-H Ichtiar (Eri-HI) terus menyuarakan kampanye sehat. Salah satunya dengan bagi-bagi masker saat ada kegiatan kampanye tertutup.

Juri Kampung Sehat NTB Mulai Menilai Pemenang di Sumbawa

Tim Penilai Lomba Kampung Sehat tingkat provinsi sedang berada di Sumbawa. Penilaian kini sedang dilakukan pada tiga pemenang Lomba Kampung Sehat tingkat kabupaten di wilayah tersebut. Yang sudah dinilai hingga kemarin Kelurahan Samapuin dan Desa Moyo Hilir.

XL Axiata, Pertama di Asia Tenggara yang Pakai SAP S/4HANA Cloud

“XL Axiata berhasil melakukan transformasi menjadi pemimpin dalam hal penyedia layanan digital dan data. Kami sangat percaya dan berkomitmen penuh terhadap transformasi digital sebagai bagian dari strategi bisnis perusahaan,” kata Yessie D. Yosetya, Director & Chief Information-Digital Officer XL Axiata.

Anggota DPR RI Ragukan NTB Siap Selenggarakan MotoGP

”Kami belum melihat ada promosi besar-besaran di tengah masyarakat,” katanya dalam keterangan pers di restoran Taliwang H Moerad, Rabu (20/10/2020).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

52 Ribu UMKM NTB Bakal Dapat Bantuan Presiden Rp 2,4 Juta

Pemprov NTB mengusulkan 52.661 UMKM sebagai penerima bantuan presiden (banpres) produktif. ”Data ini terus kita perbarui sampai minggu kedua bulan September,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB H Wirajaya Kusuma, pada Lombok Post, kemarin (23/8).

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Pemerintah Janji Bantu UMKM NTB Terdampak Korona, Ini Syaratnya

encairan bantuan Rp 800 triliun bagi UMKM dan IKM masih menunggu petujuk pemerintah pusat. ”Kita tunggu petunjuk teknisnya dari kementerian koperasi UKM,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB Wirajaya Kusuma, Jumat (10/7
Enable Notifications    Ok No thanks