alexametrics
Sabtu, 23 Oktober 2021
Sabtu, 23 Oktober 2021

Susah Senang Menjadi Nelayan Lobster di Kecamatan Jerowaru

Menjadi nelayan lobster tak seindah yang dibayangkan. Butuh kemampuan khusus dalam menghadapi banyak tantangan. Tak hanya saat harga lobster jatuh di pasaran. Tapi juga saat keuntungan besar datang. Butuh kesadaran dalam mengatur penghasilan.

 

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

 

Hasan Saipul Rizal adalah satu dari beberapa nelayan muda yang memberanikan diri terjun ke dunia usaha budi daya lobster di Kecamatan Jerowaru. Modalnya saat itu hanya keberanian dan kemampuan melihat peluang.

Hasan mengawali langkahnya sebagai nelayan lobster dengan membangun sebuah keramba apung 9 lubang. Kala itu, di tahun 2018, panen pertama Hasan disambut harga yang sedang membaik. Perkiraannya pada harga yang baik membuatnya memilih membudidaya khusus lobster mutiara. “Dari 9 lubang, saat itu saya mendapat sampai Rp 350 juta,” kata Hasan.

Itu baru satu keramba. Bayangkan jika diawal menjadi nelayan budi daya ia langsung membuat lima atau sepuluh keramba. Bisa mendadak jadi miliarder. Tapi memang tak semudah yang dibayangkan. Di balik kesuksesan di panen pertama, Hasan mendapat banyak tantangan di panen-panen berikutnya.

Melompat ke panen tahun ini, Hasan sedikit menundukkan kepala. Katanya, harga sedang turun. Lobster mutiara yang tadinya Rp 700 ribu per kilo sekarang mentok di harga Rp 600 ribu. Sementara lobster pasir yang tadinya Rp 300 ribu per kilogram mentok di harga Rp 250 ribu.

Kata Hasan, selain flutuatif harga, tantangan lainnya yang dihadapi sebagai nelayan budi daya lobster adalah kelangkaan pakan. Di sana mereka harus bersiap mencari pakan ke alternatif ke daratan. Jika tak sigap dan cepat, lobster bisa mati. “Saat lobster mati di keramba, mental kita diserang habis-habisan,” jelasnya.

Tapi kematian lobster juga banyak faktornya. Salah satu yang paling menentukan adalah kondisi air laut. Ini juga yang mengharuskannya standby di keramba. Siang dan malam. Semua pikiran tercurahkan pada keramba. Beruntung, ia masih bujang. Jadi punya banyak waktu di atas lautan.

Tak hanya kerugian. Kata Hasan, sebagai nelayan muda, ada tantangan tersendiri yang ia hadapi saat mendapatkan untung besar. Ketika tak dapat menahan diri, bisa saja keuntungan tak digunakan sebagai modal tambahan. Hal itu sempat ia alami.

“Itu juga yang banyak saya dengar dari cerita nelayan muda lainnya,” tuturnya.

Sekarang, selain menjadi nelayan budi daya, ia juga membawahi beberapa nelayan tangkap. Lebih dari itu, ia juga mulai mengembangkan kapasitasnya sebagai pengepul lobster.

Kata Hasan, dengan menjadi pengepul, ia bisa mengetahui harga pasaran ke luar. Kendati modal yang disiapkan jauh lebih besar, ia mengatakan sudah siap  menghadapi tantangan.

“Jadi pengepul itu, untung bisa besar, tapi rugi juga bisa lebih besar,” tutup Hasan. (*/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks