alexametrics
Senin, 24 Januari 2022
Senin, 24 Januari 2022

Kisah Para Perajin Cukli di Rungkang Jangkuk Bertahan di Tengah Pandemi

Cukli salah satu kerajinan tangan yang mendunia. Tak heran jika banyak wisatawan kepincut dengan ukiran kayu yang diberi motif menggunakan kulit kerang ini.

ALI ROJAI, Mataram

Lingkungan Rungkang Jangkuk, Kelurahan Sayang-Sayang sudah lama dijuluki kampung cukli. Maklum, sebagian besar warganya bekerja sebagai perajin cukli.

Saat koran ini jalan-jalan ke Lingkungan Rungkang Jangkuk, nampak sejumlah perajin membuat kerajinan cukli. Di Jalan Hasanudin, pintu masuk Lingkungan Rungkang Jangkuk berjajar artshop.

Kerajinan cukli banyak diminati wisatawan lokal maupun mancanegara. Bentuk dan ukirannya yang unik, membuat para pelancong kepincut.

Pada dasarnya cukli merupakan kerajinan ukiran kayu. Namun yang membedakan dengan ukiran kayu biasa adalah kulit kerang yang ditempelkan atau ditanam pada ukiran tersebut. Perpaduan ukiran kayu dengan kulit kerang membentuk motif unik dan indah. Misalnya, motif bintang ataupun lingkaran. Kilau kulit kerang bak mutiara di ukiran kerajinan tangan.

Mustaal, seorang perajin terlihat menempelkan kulit kerang di ukiran kursi. Pandangannya fokus melihat motif kulit kerang yang ditempelkan.

Sesekali tangannya mengambil kulit kerang yang sudah dipotong-potong untuk ditanam di furniture. Mustaal menempelkan atau menanam kulit kerang di furniture menggunakan palu. Baru kemudian di lem agar kulit kerang menempel. “Kita potong-potong dulu kulit kerangnya baru kita tempelkan,” terangnya.

Mustaal terlihat cukup cekatan membuat kerajinan cukli. Tangannya cukup gesit memotong-motong kulit kerang yang akan ditempelkan pada furniture. Kulit kerang yang dipotong kecil-kecil disesuaikan dengan motif yang dibuat di kursi dan meja. “Kalau sudah ditempelkan kulit kerang baru kita pelitur,” terangnya.

H Ahmad Fauzi, pemilik Artshop Rafsan tetap bersyukur. Meski sekarang ini jarang ada wisatawan mancanegara dan lokal datang, pihaknya tetap bertahan. Artshop miliknya tetap membuat kerajinan tangan karena ada pesanan.

“Sekarang pesanan kita hanya mebel saja. Kursi dan meja,” terangnya.

Sementara untuk kerajinan cukli seperti kotak tisu, topeng, dan tempat buah jarang ada pesanan. Apalagi sejak awal pandemi jarang ada wisatawan lokal dan mancanegara berkunjung  mencari kerajinan cukli sebagai cinderamata. “Kalau dulu banyak wisatawan yang datang ke sini,” kenangnya.

Banyaknya wisatawan mancanegara yang datang ke Rungkang Jangkuk masih terasa diingatannya. Dulu kenang dia, para pelancong dari berbagai negara banyak yang datang mencari kerajinan cukli sebagai cinderamata. Bahkan tidak tanggung-tanggung para wisatawan belanjanya cukup banyak.

“Kalau dulu gampang uang di usaha kerajinan cukli ini,” ujarnya.

Fauzi tidak hanya memiliki artshop Rafsan, namun ada juga artshop lainnya dikembangkan dan masih beroperasi hingga kini. Untuk sekarang ini kata dia, pihaknya hanya mengandalkan pasar lokal dengan membuat kerajinan mebel.

Saat ini kata dia,  kursi dan meja cukli banyak peminatnya. Bahkan dia terbantu dengan adanya suport dari pemprov yang mendorong beberapa kantor dan instansi menggunakan mebel cukli.

“Sekarang kantor dan sekolah banyak yang menggunakan meja dan kursi cukli,” tuturnya.

Fauzi ingin pandemi segera berakhir. Karena sudah dua tahun ini jarang ada pelancong yang datang kemari mencari kerajinan cukli sebagai cinderamata. “Kita ingin ada wisatawan berkunjung ke sini lagi,” pungkasnya. (*/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks