alexametrics
Kamis, 24 September 2020
Kamis, 24 September 2020

Suasana Belajar Mengajar di SLB A YPTN Mataram di Masa Pandemi Korona

Bagi guru Sekolah Luar Biasa (SLB) A YPTN Mataram tidak ada namanya belajar dalam jaringan (daring). Mereka tetap ke sekolah melaksanakan belajar tatap muka meski di tengah mewabahnya virus Korona.

 

ALI ROJAI, Mataram

 

CUACA pagi kemarin tidak seperti hari-hari-hari sebelumnya. Matahari yang biasanya memancarkan sinar terhalang awan gelap.

Namun, suasana mendung itu ternyata tidak menyurutkan para siswa tunanetra di SLB A YPTN Mataram melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Kegiatan belajar mengajar (KBM) dilakukan tidak hanya di ruang kelas. Namun juga di luar ruangan. Ketika Koran ini berkunjung ke sekolah yang terletak di Jalan Peternakan, Selagalas itu, beberapa siswa terlihat duduk di Berugak. Ada yang memainkan handphone, ada juga yang asyik bersenda gurau bersama temannya.

Di sisi lain, beberapa siswa juga terlihat serius melaksanakan proses belajar di teras sekolah yang sudah disiapkan kursi dan meja. Mereka mencatat kalimat yang disampaikan guru dalam bahasa Inggris.

Aditia Afandi. Siswa kelas VII serius mencatat kalimat yang disampaikan guru dalam bahasa Inggris. Tangannya terus memegang stilus (pulpen) dan riglet. Alat ini digunakan siswa tunanetra untuk menulis.

Kalimat disampaikan sang guru selalu diminta Adit, untuk diulang. Tidak bisa dicerna langsung lalu dicatat di buku tulis miliknya.

Setelah ditulis, guru meminta Adit membacanya. “Pada dasarnya siswa tunanetra sama dengan siswa normal. Hanya mereka tidak bisa melihat,” kata Lutfi Yusuf, salah seorang guru SLB A YPTN, kemarin.

Lutfi terlihat begitu sabar mengajar anak didiknya. Para siswa kadang semaunya belajar. Meminta guru mengambil sandalnya di bawah meja. Meminta guru mencarikan masker di dalam tas miliknya. Ada juga yang asyik bermain saat belajar. Namun begitu ia tidak pernah marah atas tingkah anak didiknya.

“Harus banyak sabar ngajar anak-anak ini,” kata Lutfi sembari tersenyum.

Lutfi selalu datang ke sekolah menularkan ilmunya ke anak-anak. Sebagai guru ia tidak mau menerapkan pembelajaran dalam jaringan (daring). Sebab, jumlah siswa di SLB A YPTN kecil. Dari kelas I hingga XII jumlah siswanya 20 orang. Selain itu, kendala dalam belajar daring tidak ada handphone (HP) dimiliki siswa. “Di sini  jarang siswa memiliki HP,” ucap pria berjenggot ini.

Tak hanya itu, lanjut dia, pembelajaran daring menurutnya tidak efektif. Jadi ia tidak mau makan gaji buta dengan melaksanakan pembelajaran secara online tersebut.

Kata dia, yang mengenyam pendidikan di SLB ini tidak hanya anak tunanetra, namun juga tunagrahita. Biasanya tunagrahita tidak bisa mandiri. Seperti jika mereka mandi akan dimandikan orang tua. Nah ketika masuk sekolah di sini maka siswa diajarkan untuk  mandiri. “Kita ingin siswa mandiri. Bisa menolong dirinya sendiri,” kata dia.

Mengajar anak memiliki keterbatasan membuat ia banyak bersyukur. Diberikan bisa melihat dunia dan bisa melakukan apa saja yang diinginkan. Lutfi menilai siswa di SLB sama dengan siswa regular. Hanya yang membedakan cara  menulis dan belajar mereka menggunakan huruf braille. “Ada siswa kami yang jago bahasa Inggris. Sekarang di SMAN 6 Mataram dia sekolah,” sebutnya.

Untuk sifat, kata dia, sama saja. Mereka punya keinginan untuk main HP, sepeda, jalan-jalan, dan sebagainya.

Pada kegiatan belajar mengajar, tambah dia,  para siswa diajarkan materi orientasi mobilitas. Para siswa diajak keluar sekolah untuk mengenal beberapa tempat. Seperti masjid, lapangan, konter, warung, dan toko. Misalnya ke warung nasi maka indra penciuman yang difungsikan untuk mencium aroma masakan.

Begitu juga ke masjid ada tanda-tanda yang akan dijadikan bahwa yang dituju masjid. Seperti pintu gerbang atau lantainya. “Kalau lapangan rumputnya,” kata guru bahasa Inggris ini. (*/r3)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Hasil Survei Indikator, Elektabilitas HARUM Paling Tinggi

“Pak Mohan Roliskana hingga sejauh ini paling potensial menang dalam pemilihan mendatang,” ujar  Wakil Ketua DPP Golkar Ahmad Doli Kurnia dalam pemaparan yang dilakukan secara online dari DPP Golkar Jakarta, (18/9) lalu.

Polisi Pantau Kampanye Hitam di Pilwali Mataram

Pelaksanaan Pilkada di Kota Mataram mendapat atensi penuh pihak TNI-Polri. Polresta Mataram dan Kodim 1606 Lobar telah melakukan pemetaan potensi konflik dan mencegah secara dini beberapa konflik yang biasa terjadi pada masa Pilkada.

Trailer Film MOHAN Bikin Baper

Kreativitas sineas Kota Mataram terasa bergairah. Ditandai dengan garapan film bergenre drama romantic berjudul ‘Mohan’ yang disutradai Trish Pradana. Film yang direncanakan berdurasi sekitar 35 menit ini mengisahkan perjalanan asmara Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskan dengan istrinya Hj Kinastri Roliskana. Film Mohan dijadwalkan mulai tayang Bulan Oktober mendatang.

Pasangan Calon Harus Memberi Perhatian pada DPT

PESERTA pemilihan yaitu Pasangan Calon harus menunjukkan perhatian lebih pada seluruh tahapan yang ada, bukan hanya pada saat pendaftaran calon atau pada pemungutan suara saja. Salah satu tahapan yang sangat menentukan ialah tahapan Penyusunan dan Pemutakhiran Daftar Pemilih atau cukup disebut dengan penyusunan DPT.

Pendataan Bantuan Kuota Internet untuk Siswa Guru dan Mahasiswa Kacau

Hari pertama penyaluran bantuan subsidi kuota internet untuk siswa, guru, mahasiswa, dan dosen langsung berpolemik. Proses pendataan dan verifikasi nomor ponsel dinilai kacau.

Calon Kepala Daerah Wajib Jadi Influencer Protokol Kesehatan

DPR, pemerintah dan KPU telah memutuskan akan tetap melaksanakan pilkada serentak pada 9 Desember. Para calon kepala daerah (Cakada)  diminta menjadi influencer protokol kesehatan  agar pilkada tidak memunculkan klaster baru Covid-19.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Dua Terduga Pengedar Ekstasi Tertangkap di Karang Kediri

Dua terduga pengedar ekstasi berinsial PAW alias Patrick, 28 tahun, dan AZP alias Agli, 25 tahun, dibekuk tim Satnarkoba Polresta Mataram, Kamis (17/9) malam. ”Kita tangkap mereka di Lingkungan Karang Kediri, Cakranegara,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson, kemarin (18/9).
Enable Notifications    Ok No thanks