alexametrics
Sabtu, 18 September 2021
Sabtu, 18 September 2021

Cerita HM Sahdan, Pedagang Gula Gending Asal Kembang Kerang Lotim

Jualan Sampai ke Kalimantan, Keuntungan Ditabung untuk Berhaji

H Muhamad Sahdan telah berkeliling menjual gula gending sejak 1985. Warga Desa Kembang Kerang Daya, Kecamatan Aikmel itu belum memilih pensiun. Kendati usianya telah memasuki waktu senja. Alasannya bertahan sederhana. Ia menikmati pekerjaan itu.

 

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

 

Lagu gending yang ia mainkan di Taman Rinjani Selong berjudul ‘Samarang Kena’. Artinya, lima nada yang ia mainkan tak beraturan atau sembarangan. “Pokoknya asal kena,” kata HM Sahdan menerangkan tempat atau wadah gula yang dijualnya.

Pagi itu, ia berjualan mengenakan sarung, kemeja batik lengan pendek, sendal jepit, dan topi rotan. Topi rotan itu menutupi topi putihnya. Ya, pedagang gula legendaris ini sudah mampu menunaikan ibadah haji dari hasil berjualan.

Tak tahu pasti, Sahdan mengatakan jika usianya telah menginjak 80 tahun. Ia berjualan gula gending sejak 1985. Pada sekitar tahun 90an, ia pergi ke Kalimantan Tengah untuk berjualan. “Hasil di sana besar. Bisa sampai Rp 10 juta per bulannya,” kata Sahdan.

Sahdan membuat gulanya sendiri. Setiap hari, ia berangkat dari rumahnya di Desa Kembang Kerang Daya, Kecamatan Aikmel untuk berkeliling. Ia membawa gula dari adonan 3 kilogram. Kata Sahdan, kalau habis, hasilnya sampai Rp 250 ribu.

Dari rumah ke Selong, ia menggunakan tiga jenis transportasi umum. Ojek dari rumah ke simpang empat aikmel, bus kecil dari Aikmel ke Masbagik, dan bemo kota dari Masbagik ke Selong. Biayanya Rp 30 ribu pulang-pergi.

Ia menerangkan, pada 2012 lalu, ia akhirnya bisa mengumpulkan hasil jualan untuk nyetor tambang haji. Enam tahun menunggu giliran, ia pun berangkat ke Tanah Suci Makkah pada 2018. “Alhamdulillah, saya bisa menunaikan ibadah suci berkat berjualan. Karena itu saya masih berjualan sampai saat ini,” terangnya.

Menurutnya, kendati zaman sudah berubah, peminat gula gending akan terus ada. Buktinya, setiap kali keluar berjualan, pasti ada saja yang membeli gulanya. Meski terkadang habis, terkadang hanya setengah atau sebagian besar dibawa pulang. “Gula ini bisa bertahan sampai dua minggu. Asal tidak kena angin,” terangnya.

Ditanya kapan berhenti jualan, Sahdan mengatakan, selama ia masih bisa keluar. “Kalau sudah sakit, saya berhenti. Tapi selama masih bisa berjalan, saya tetap jualan,” tambahnya. (*/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks