alexametrics
Sabtu, 25 Juni 2022
Sabtu, 25 Juni 2022

Kisah Murtede, Warga Loteng yang Nekat Melawan Empat Begal Sekaligus (2)

USAI menghabisi dua dari empat terduga begal, Murtede memutuskan pulang ke rumahnya. Dia ingin menenangkan diri.

—-

Rasa takut dan suasana hati yang gelisah menyelimuti Murtede. Itu setelah, ia membunuh dua terduga begal. Sejak kejadian itu, ia mengaku tidak bisa tidur. Bahkan sampai tidak bisa ikut makan sahur bersama istri dan anak-anaknya.

“Saya hanya bisa termenung saja kala itu,” tandasnya.

Yang membuatnya heran dan bingung, kok bisa tubuhnya tidak terluka akibat serangan bertubi-tubi dari begal. Bagi Murtede, kalau sudah Allah SWT yang berkehendak, maka tidak ada yang tidak mungkin.

Disinggung Lombok Post, apakah Murtede punya ilmu kebal atau amalan-amalan khusus. Dengan santai sembari melempar senyuman Murtede menjawab, tidak punya ilmu apa-apa. Kecuali, berserah diri pada Sang Maha Pencipta.

“Artinya, sudah jalannya dua begal itu meninggal di tangan saya. Dan sudah jalannya saya selamat,” ujar Murtede sembari memperlihatkan tangan kanannya yang pernah menangkis senjata tajam jenis cerurit.

Di rumah, Murtede tidak berani menceritakan apa-apa. Baik ke istri maupun  anak-anaknya. Begitu azan Subuh berkumandang, Minggu (10/4), Murtede masih belum bisa tidur. Pagi-pagi sekali, ia pun bergegas pergi ke rumah keluarga di Dusun Matek Maling Desa Ganti, Kecamatan Praya Timur. Tidak jauh dari rumahnya.

Tujuannya, untuk menenangkan diri. Namun masih saja gelisah dan diselimuti ketakutan. Alhasil, Murtede bersama keluarga terdekat melapor ke polisi atas peristiwa yang dihadapinya. Kemudian terbitlan surat tanda terima laporan polisi Nomor: SPTL/138.b/IV/2022/SPKT/Polres Loteng. Tertanggal 10 April pukul 13.00 Wita.

Baca Juga :  Sejumlah Tempat Wisata di Lombok Tengah Mulai Dibuka

Dalam laporan itu, Murtede sebagai korban dan melaporkan empat terduga begal ke polisi. Sayangnya, begitu pukul 16.00 Wita polisi justru datang ke rumahnya, guna menjemputnya. Hingga jelang magrib polisi membawa Murtede ke jalan Gajah Mada Praya.

Di tempat itu, ia diinterogasi dan dimintai keterangan. Ia pun bertemu dengan dua terduga begal yang selamat. “Saat saya ketemu itulah, saya mengatakan pada dua (terduga) begal itu bahwa saya tidak dendam,” cerita Murtede.

Di polres, Murtede mengira hanya dimintai keterangan saja. Setelah itu, kembali ke rumah. Namun, ia tiba-tiba disodorkan dokumen yang harus ditandatanganinya. Karena tidak bisa baca tulis, ia pun langsung mendatangani. Itu merupakan dokumen berita acara pemeriksaan (BAP).

Kala itulah, Murtede ditahan bersama dua begal dan ditetapkan sebagai tersangka. “Saya orang bodoh, saya tidak tahu apa-apa, saya hanya bisa mengikuti saja,” keluh pria yang kesehariannya menjadi petani tersebut.

Malam itu, ia pun harus merasakan dinginnya jeruji besi polres. Ia berbeda sel dengan dua terduga begal. Selama tiga malam, ia ditahan. Sesekali ia merasa bingung dan heran, kenapa pelapor yang menjadi korban begal justru yang ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka.

Baca Juga :  50 Advokat Ajukan Penangguhan Penahanan Empat IRT di Loteng

Bagi Murtede, kalau saat kejadian ia tidak melawan, maka dirinyalah yang menjadi korban. “Tapi mau bagaimana lagi, saya hanya rakyat kecil,” keluhnya lagi.

Aksi protes atas penahanan dan penetapan tersangka Murtede pun mencuat. Para petinggi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) NTB, organisasi masyarakat (ormas) dan organisasi kepemudaan Loteng turun ke jalan guna melaksanakan aksi unjuk rasa.

“Berkat demo itulah saya bisa bebas seperti ini. Terima kasih para pemuda dan warga Loteng,” ujarnya. Itu ditambah lagi dengan sorotan kalangan media. Baik cetak, elektronik dan televisi.

Ia berharap, seiring diberikan penangguhan penahanan. Polisi mencabut status tersangkanya. Karena dalam posisi mencekam melawan empat begal. Murtede mengaku, membela diri dan menjaga diri. Artinya, ia adalah korban yang berusaha nekat dan berani melawan pelaku kejahatan. Seharusnya ia mendapatkan penghargaan.

Kendati demikian, sebagai rasa syukur ia keluar dari penjara, keluarga memotong satu ekor ayam untuk berbuka puasa, Kamis (14/4). “Kami bersyukur, adik kami ini selamat dan bisa keluar dari penjara,” ujar salah satu keluarga yang enggan menyebut namanya.

Keluarga Murtede berharap, kapolri dan kapolda, bahkan Presiden RI bisa mendengar keluh kesah korban begal. Korban yang justru dijadikan tersangka. (dss/r5/*)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/