alexametrics
Jumat, 10 Juli 2020
Jumat, 10 Juli 2020

Yang Bertahan di Ampenan : Kisah Papuk Maad, Hampir 50 Tahun Jadi Tukang Patri

Kemajuan Zaman tak bisa dibendung. Membuat orang-orang yang bermata pencaharian seperti Maad satu per satu menghilang. Panci maupun dandang bolong kian jarang ditemui. Padahal, itulah jalan rezeki para tukang patri.

 

WAHIDI AKBAR SIRINAWA, MATARAM

 

Maad duduk santai di atas kursi dingkliknya. Kepalanya menunduk ke bawah. Melihat gerakan kedua tangannya yang sedang memilin kertas dengan tembakau kering di atasnya.

Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Kemarin, jadi hari baik bagi Ahmad. Hanya dalam tempo dua jam, sudah ada empat orang yang datang. Membaca peralatan rumah tangga yang rusak untuk diperbaiki.

”Lumayan ini bisa dapat Rp200 ribu,” kata Maad.

Bagi Maad, empat pelanggan yang datang sudah sangat banyak. Apalagi jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Nyaris tak ada penghasilan yang bisa ia bawa pulang. Imbas dari sepinya pengguna jasa patri.

”Ada sudah dua minggu kemarin ini betul-betul sepi. Cuma tiga orang yang datang,” tuturnya.

Di zaman internet sekarang, Maad mengeluh sulitnya mendapatkan pelanggan. Ditambah lagi teknologi sudah mampu membuat alat rumah tangga dengan kualitas bagus. Bahkan dalam jumlah banyak.

Kondisi tersebut tentu membawa efek kepada Maad. Sudah tak banyak orang yang membawa panci, kompor minyak tanah, rantang, dandang yang bolong-bolong, untuk diperbaiki.

Kata Maad, orang-orang lebih suka membeli barang baru. Ketimbang harus membawanya ke tukang patri. ”Sekarang memang begitu. Rusak sedikit, dibuang, terus beli yang baru,” kata Maad.

Maad tak ingat persis, tahun kapan dia mulai bekerja sebagai tukang patri. Jangankan tahun dia bekerja, umurnya sekarang saja Maad tak bisa memastikan. ”Ya mungkin dari tahun 1970. Kalau sekarang umur saya mau 70 tahun ini,” jawab dia lantas tertawa.

Ketika memulai sebagai tukang patri, tenaganya masih muda. Mampu bekerja dari pagi hingga malam. Dimulai dari tukang patri keliling. Datang ke desa-desa di wilayah Lombok. Tentu dengan berjalan kaki atau menaiki angkutan umum. Membawa alat rumah tangga pesanan pelanggan.

Setelah itu, Maad membuka lapaknya di Jalan Niaga, Kota Tua Ampenan. Ketika itu, ada sekitar 14 hingga 15 orang tukang patri yang menggelar lapaknya, di sebelah selatan dan barat Jalan Niaga. Tahun berganti, tukang patri di Jalan Niaga hanya menyisakan Maad seorang.

Rekan seprofesinya, kata Maad, sudah banyak yang meninggal dunia. Sebagian kecil lainnya memilih alih profesi. Tidak lagi mengandalkan pekerjaan sebagai tukang patri.

”Ada satu orang lagi teman saya, dia di tempat orang jualan sepeda itu,” jelas Maad merujuk Jalan Rampai, hanya berjarak belasan meter dari lokasinya.

Ketika masa jaya tukang patri, Maad bisa pergi hingga ke Lombok Timur. Membawa pesanan dandang maupun panci. Kini, kakek sembilan cucu itu hanya menyisakan sedikit tenaga di usia tua. Ketimbang berkeliling, Maad memilih membuka lapak di Ampenan. Menunggu pembeli.

”Dulu kalau sudah jadi barangnya, saya sendiri yang bawakan. Kalau sekarang kita menunggu saja,” ucapnya.

Maad mengatakan, orang zaman sekarang memang tak tahu banyak hal soal tukang patri. Bagaimana mereka bekerja. Karena itu, tak jarang saat proses tawar menawar, harga yang diberikan kelewat murah. Bahkan tak menutup modal kerjanya.

Pria yang putus sekolah di tingkat dasar ini mengatakan, tak banyak memang yang menggunakan jasa patri. Apalagi sejak alat rumah tangga dibuat dengan mesin-mesin pabrikan. ”Dandang buatan tangan sekarang kurang laku. Kalah sama barang jadi,” ujarnya.

Setelah alat rumah tangga buatan tangan kalah dengan barang pabrikan, asa masih tersisa dengan adanya kompor berbahan minyak tanah. Ketika banyak masyarakat masih menggunakan kompor minyak, rezekinya berasal dari sana.

Tapi, kondisi itu tak berlangsung lama. Hadirnya kompor gas, kembali memukul usaha Maad. Meski demikian, Maad tak putus asa. Dia tetap ikhtiar dengan usahanya sebagai tukang patri. Menanti warga yang memiliki alat rumah tangga yang rusak, untuk diperbaiki.

”Sampai habis umur dah jadi tukang patri. Soal rezeki, kan sudah ada yang atur,” kata Maad santai. (*/r3)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Investasi Triwulan II di NTB Turun, Sektor Pertambangan Tertinggi

Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) menyampaikan data realisasi investasi sementara periode triwulan II tahun 2020 hanya mencapai Rp 788 miliar. Jumlah ini menurun dari triwulan sebelumnya Rp 2,1 triliun.

Mencuri Buat Modal Judi, Moyes Diciduk Polisi

Baru enam bulan keluar  dari penjara MR alias Moyes kembali beraksi. ”Pelaku ini mencuri handphone di kawasan Jalan Transmigrasi, Pejanggik, Mataram,” kata Kapolsek Mataram AKP Rafles Girsang, kemarin (9/7).

Kantor Bawaslu dan Gedung Wanita NTB Digugat Warga

Sengketa lahan Gedung Wanita dan Kantor Bawaslu NTB masih bergulir di persidangan. Untuk memperkuat bukti, Kejati NTB selaku jaksa pengacara negara bakal menghadirkan saksi kunci. ”Kita akan hadirkan pihak dari PT PN (Perkebunan Nusantara) X Surabaya,” kata Kasi Perdata Bidang Datun Kejati NTB Mansyur, kemarin (9/7).

Efek Positif Korona, Literasi Digital Meningkat

Selama penerapan belajar dari rumah (BDR) yang disebabkan Pandemi Covid-19, kegiatan literasi anak-anak berkurang. ”Karena aktivitas kunjungan ke perpustakaan sekarang ini, sangat dibatasi ya,” kata Kepala Kantor Bahasa NTB Ummu Kulsum, pada Lombok Post, Kamis (9/7/2020).

Dorong Kampung Sehat, Polda NTB Gelar Panen Raya di Kembang Kuning

Polda NTB menggelar panen raya di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, kemarin (9/7). Panen raya ini bagian dari program Kampung Sehat yang dinisiasi Polda NTB yang salah satu tujuannya mewujudkan ketahanan pangan NTB di tengah pandemi Covid-19.

Polres KSB Launching Transportasi Sehat

Polres Sumbawa Barat punya terobosan lain dalam mensukseskan Lomba Kampung Sehat

Paling Sering Dibaca

Jika Masih Tak Patuh, Seluruh Pasar di Mataram Bakal Ditutup Paksa

akil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah mengancam akan menutup pasar yang mengabaikan protokol kesehatan. Ancaman tersebut disampaikan Wagub saat menggelar inspeksi mendadak di Pasar Mandalika, kemarin (8/7). Dia mendapati langsung banyak pedagang dan pembeli tidak mengenakan masker.

Zona Merah Korona, Wagub NTB : Mana Pol PP Mataram, Kenapa Sembunyi?

Pemkot Mataram dinilai lemah dalam merespon dan menangani Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun begitu geregetan. Meski zona merah dengan kasus positif dan kematian tiap hari, penerapan protokol kesehatan di ibu kota justru sangat longgar. Tak lagi ada pengawasan macam sedang tidak terjadi apa-apa.

Istri Model Suami Youtuber, Bantah Cari Sensasi “Mahar Sandal Jepit”

Pernikahan dengan mahar sandal jepit Iwan Firman Wahyudi dan Helmi Susanti bukan bermaksud mencari  sensasi di media sosial. Menurut mereka ikatan mereka tulus beralas kasih sayang.

Pilbup Loteng, Lale Prayatni Mulai Goyang Posisi Pathul Bahri

Lobi politik tersaji di DPP Partai Gerindra. Dari informasi yang dihimpun Lombok Post, diam-diam SK Gerindra dibidik Prayatni melalui ‘lorong’ Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo.

Turun dari Rinjani, Warga Lombok Tengah Tewas Jatuh ke Jurang

Pendakian di Gunung Rinjani kembali memakan korban jiwa. Sahli, 36 tahun, warga Desa Tampak Siring, Lombok Tengah meninggal setelah terjatuh ke jurang di kawasan Gunung Rinjani, Senin (6/7).
Enable Notifications.    Ok No thanks