alexametrics
Kamis, 6 Agustus 2020
Kamis, 6 Agustus 2020

Le-Bui Sepeda Listrik Lombok Kini Tersebar di Empat Benua (3-habis)

Sepeda listrik Le-Bui sudah dinikmati orang dari empat benua. Yakni Benua Australia, Amerika, Eropa, dan tentunya Asia. Padahal, Gede Sukarma Dijaya sang pembuat sepeda listrik ini, ternyata hanya lulusan SMA.

 

WAHIDI AKBAR SIRINAWA, Mataram

 

Sepeda listrik milik Gede melaju pelan. Kecepatannya stabil. Sekitar 20 kilometer per jam. Jika dilihat sekilas, sepeda itu berjalan karena pedal yang dikayuh Gede menggunakan kakinya. Namun, bukan seperti yang sebenarnya terjadi. Daya dorong sepeda itu berasal dari baterai listrik beserta dinamonya. Lajunya dikendalikan dari tarikan gas di tangan kanan.

Ketika sepeda melaju di areal bengkel Le-Bui di Desa Keru, Lombok Barat, bunyi deru mesin tak terdengar sama sekali. Hanya suara gesekan ban dengan tanah. ”Kalau di jalan, orang-orang memang lihat seperti kita naik sepeda biasa. Padahal ini sepeda listrik,” kata Gede.

Ide membuat sepeda listrik Le-Bui dimulai lima tahu silam. Kala itu, Gede yang masih tinggal di Kota Mataram, membeli satu sepeda Fatman dari Bali. Sepeda yang memiliki dua roda berukuran besar dan lebar.

BACA JUGA : Kisah Le-Bui, Sepeda Listrik Lombok yang Sudah Go International (1)

”Saya lihat sepeda itu di internet. Kelihatannya gagah sekali. Akhirnya beli, dikirim dari Bali, soalnya belum ada yang jual waktu itu di Mataram,” tuturnya.

Tampilan yang gagah, rupanya membuat Gede kewalahan. Ia tak kuat berlama-lama bersepeda. Ban yang lebar membuat gesekan dengan aspal menjadi lebih besar. Otomatis tenaganya banyak terkuras saat mengayuh pedal sepeda.

BACA JUGA : Le-Bui Sepeda Listrik Lombok : Dibeli Gubernur dan Bos Pertamina (2)

Dari sana, Gede berpikir bagaimana caranya bisa tetap bersepeda tapi tidak mengeluarkan tenaga banyak. Pria 50 tahun ini kemudian berselancar di dunia maya. Mencari teknologi apa yang bisa digunakan.

Gede mengatakan, ia mulanya menemukan mesin tempel yang bisa digunakan di sepeda. Dengan kapasitas 50cc. Tapi, barang itu tak jadi dibeli. ”Hampir beli itu. Saya malah ketemu sama konverter kit lain. Itu saya aplikasikan di sepeda. Ternyata enak, pakai dinamo kecil sama baterai listrik,” kata Gede.

Dari konverter kit itu, Gede menciptakan purwarupa sepeda listrik Le-Bui. Penyempurnannya kemudian dilakukan 2016. Karena sering mengunggah hasil karyanya di media sosial, salah satu pengusaha asal Jakarta mengontak Gede.

Ia diminta datang ke Nusa Dua, Bali. Gede diundang bersama timnya. ”Ternyata di Nusa Dua, dia punya sepeda listrik banyak sekali. Nganggur, gak dipake,” ujarnya.

Si pengusaha kemudian menawarkan Gede untuk membawa satu sepeda. Yang dibuat pabrikan Rusia. Ia diminta untuk mempelajari sepeda listrik itu. Bagaimana sistem kelistrikannya, dinamo apa yang digunakan, hingga seperti apa kontrolnya.

Gede yang cuma lulusan SMA ternyata dengan sangat baik menyelesaikan challenge tersebut. Katanya, ia menciptakan model sepeda listrik pertama. Tentu dengan bentuk yang lebih sempurna.

Sepeda listrik itu dinamakan Semar. Yang sudah dibeli Gubernur NTB dan bos Pertamina di Mataram. ”Itu model sepeda listrik hasil penyempurnaan kita,” tutur Gede.

Setelah sepeda listrik Semar, Le-Bui banyak menerima pesanan dari luar negeri. Australia, Norwegia, Inggris. Sejumlah pemesan juga datang dari negara bagian di Amerika Serikat, seperti New York, Pennsylvania, hingga California.

Selama lima tahun menggarap sepeda listrik, pemesan dari luar negeri mendominasi. Gede mengatakan, total sudah lebih dari 100 unit sepeda listrik ia ekspor ke luar negeri. Sementara untuk pasar Indonesia, hanya laku kurang dari 50 unit.

Jika berpikir bisnis, Gede bisa saja mengutamakan pesanan dari luar negeri. Mereka sudah paham mengenai sepeda listrik. Juga soal menghargai kualitas. Satu sepeda listrik standar, tanpa baterai, bisa dibanderol hingga Rp33 juta.

”Kalau ditambah baterai, harganya bisa naik jadi Rp45 juta,” katanya.

Namun, sepeda listrik yang dibuatnya bukan sekadar bisnis. Karena itu, Le-Bui tetap melayani permintaan lokal. Harganya pun disesuaikan. Gede menyebut, jika pembelinya orang Indonesia, ia hanya mengambil untung dari pembuatan frame saja. Selebihnya tetap menyesuaikan dengan harga di toko.

”Berapa harga di toko, ya segitu harganya. Makanya, kalau saya jual sepeda Rp30 juta misalnya, itu sudah dengan baterai. Kualitasnya sama seperti harga sepeda yang dijual ke luar negeri,” jelas Gede.

Dalam pemasarannya, Le-Bui juga tidak sembarang menerima pesanan. Mereka memilih siapa saja konsumennya. Itu sebabnya, kebanyakan pembeli sepeda Le-Bui, sebelumnya pernah memiliki sepeda listrik.

”Walaupun orangnya punya uang banyak, tapi kalau gak paham sama sepeda listrik, lebih baik kita yang mundur. Takut nanti malah banyak kendala setelah mereka beli,” pungkasnya. (*/r3)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Gak Pakai Masker, PNS Bakal Didenda Rp 200 Ribu

Aturan wajib menggunakan masker diberlakukan di Kota Bima. Pemerintah Kota (Pemkot) Bima menegaskan sanksi bagi pelanggar akan mengikuti aturan yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi (Pemrov) NTB.

Tiga Dokter dan Delapan Perawat RSUD Dompu Diisolasi

Sebanyak 11 orang Tenaga Kesehatan (Nakes) RSUD Dompu yang sempat kontak dengan HM, pasien positif Covid-19 meninggal dunia menjalani isolasi. Masing-masing tiga dokter dan delapan perawat.

Lamaran Ditolak, Dosen di Bima Tikam Pacar Hingga Tewas

Naas menimpa  Intan Mulyati, 25 tahun warga Kelurahan Kumbe, Kecamatan Rasanae Timur, Kota Bima. Dia merenggang nyawa ditangan pacarnya sendiri Arif Satriadi, 31 tahun, yang merupakan seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bima, Rabu (5/8).

Kasus Pengadaan ABBM Poltekes Mataram Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pengadaan alat bantu belajar mengajar (ABBM) Poltekkes Mataram tahun 2016 segera rampung. “Progres cukup bagus. Sebentar lagi naik penyidikan,” kata Kasubdit III Ditreskrimsus Polda NTB Kompol Haris Dinzah, Rabu (5/8).

Peredaran Gelap Tramadol di Gomong Mataram, Lima Orang Ditangkap

Tim Satnarkoba Polresta Mataram menggerebek rumah pengedar obat-obatan daftar G di Gomong, Mataram, Rabu (5/8). Sebanyak lima orang ditangkap. ”Dua pembeli, satu perempuan sebagai  penyedia, dan dua penjual,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson usai penggerebekan.

Masuk Destinasi Wisata Terpopuler Asia 2020, Lombok Siap Mendunia

”Kalau masuk di ranking dunia artinya kita adalah destinasi yang memang layak untuk dikunjungi,” kata Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) NTB Awanadi Aswinabawa, Rabu (5/8/2020).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Viral Pengunjung “Disko” Pendakian Savana Propok Rinjani Ditutup

Pengelola bukit Savana Propok, Pokdarwis Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba menindaklanjuti video joget para pendaki yang viral di media sosial. “Untuk mengevaluasi hal tersebut, kami akan menutup bukit mulai 8 Agustus,”  kata Ketua Pokdarwis Bebidas Chandra Susanto pada Lombok Post, kemarin (4/8).
Enable Notifications.    Ok No thanks